Rabu, 01 Februari 2017

Dia Malaikat Bersayapku

Mimpi itu diraih dengan kerja keras,
Mimpi itu dikejar dengan langkah yang teratur,
Mimpi itu digapai dengan doa,
Dan mimpi jadi kenyataan dengan tekad yang kuat.

Perjalanan untuk menjemput mimpi, kadang terjatuh di tengah perjalanan, kadang lelah, kadang dongkol dan bahkan air mata ikut menyertai. Tapi satu hal yang indah dalam mengajar mimpi adalah hadirnya orang-orang yang selalu memberi semangat untuk terus berjalan, berlari ataupun merangkak dalam menjemput mimpi.

Sekitar dua tahun lalu, dalam perjalananku mengejar mimpi hingga saat ini, Allah mempertemukan orang yang begitu mengerti, yang begitu mendukung, yang begitu berhati emas, yang begitu istimewa buatku. Ya... ini adalah hal yang tidak pernah aku duga, tidak pernah aku bermimpi untuk bertemu dengannya.
Ia begitu berbeda dengan orang lain yang aku kenal, ia laksana air yang datang menyiram tanaman ku yang sekian lama layu, ia laksana cahaya yang datang menyinari hidupku yang sekian lama berlarut dalam gelap, dan ia laksana malaikat bersayap yang membawa sejuta semangat untuk membangkitkan semangatku.

Hari-hari ku berputar 180 derajat semenjak ia hadir, berputar menjadi lebih indah. 
Ah... terlalu indah yang Allah berikan, terlalu istimewa yang Allah hadiahkan.

Mudah-mudahan dia selalu baik-baik disana. Harapan terbesarku adalah ia menjadi insan/hamba Allah yang beriman, santun, berwibawa, rendah hati dan tak pernah lupa untuk bersujud kepada Rabbnya di sepertiga malam terakhirnya serta tak pernah lupa untuk membaca kalam-kalam Ilahi. 

Dan harapan terakhirku, ia kuat dalam menjalani hidup, sehingga ia mampu menguasai ilmu yang ia inginkan dan tak lupa untuk membagikan ilmunya itu kepada orang banyak. 

Selamat menjalani kehidupan, teruslah belajar, teruslah berkarya dan teruslah bermimpi menjadi insan yang kaya akan ilmu pengetahuan. 

Terima kasih telah menjadi malaikat bersayap untukku. 

Selasa, 31 Januari 2017

Sosok Seorang Pemuda Muslim sejati


Beriman, berwibawa, berkarakter dan berkarya itulah pemuda yang didambakan oleh banyak orang. Pemuda yang tidak pernah puas dengan apa yang ia dapatkan, ia selalu berusaha, berkarya dan bekerja keras untuk mempersembahkan hal-hal yang baru, hal-hal yang penuh dengan manfaat. Karena ia selalu menyadari bahwa hidup untuk bermanfaat bagi orang, bukan mencari kedudukan, bukan mencari nama dan bukan  menjadi insan yang selalu merasa benar.

Sesungguhnya pemuda tertampan bukanlah pemuda yang memiliki rupa tampan, tapi pemuda tertampan adalah pemuda yang selalu menebar senyumnya untuk semua orang.
Sesungguhnya pemuda yang kuat bukanlah pemuda yang berotot besar, tapi pemuda yang kuat adalah pemuda yang selalu ikhlas menerima dan menjalani liku liku kehidupan tanpa berkeluh kesah, karena ia menyadari bahwa sesuatu yang dijalankan disertai dengan Allah maka semuanya akan mudah.

Dan pemuda yang paling istimewa adalah pemuda yang selalu bersujud kepada Rabbnya di sepertiga malam, mengangkat kedua tangannya, merendahkan mata hatinya dihadapan sang Ilahi dan selalu larut dalam membaca surat-surat cinta (Al-Quran). Hati dan pikirannya selalu tertuju pada Rabbnya, sehingga kesehariannya wajahnya selalu terlihat bahagia, senyumnya berbinar-binar seakan-akan ia adalah insan yang paling  bahagia di dunia ini meskipun ia terhitung kurang dalam hal materi.

Pemuda terhebat dari yang terhebat adalah pemuda yang menembus batas, mengunyah mimpi, menganyam matahari, itulah karakter dan tekad kuat nan membara seorang anak muda, ingin melampaui dari yang pernah ada, ingin mewujudkan semua mumpi-mimpinya, ingin menjadikan matahari yang menemaninya menjadi karya yang luar biasa. Silahkan para sejarahwan mencatat karya yang telah dan akan dibuatnya, silahkan para pengagum diam tanpa mampu berkata apa-apa karena melihat sesuatu yang hampir tidak dipercaya pada apa yang dilihatnya. Itulah geliat, itulah warna, itulah wajah asli seorang pemuda muslim sejati, pemuda yang memiliki sederat prestasi hebat berkelas dunia. Prestasi yang ia persembahkan bagi bangsa dan agamanya, ia persembahkan bagi peradaban Islam, ia persembahkan bagi masyarakat dunia yang ingin membuktikan bahwa Islam itu rahmat bagi seluruh alam, Islam itu sangat bermanfaat dan dibutuhkan untuk memberikan kontribusi kedamaian dan kesejahteraan dunia yang kian hilang. Dari atas sejadah ketaatan ia mulai bergerak, dan dari kajian bacaan Al-Qur’an ia mulai merangkai serta dari keikhlasan dan kerendahan hati ia mulai bekerja penuh semangat dalam berkarya.

Baginya ia seperti belum belajar kalau belum memahami dan menemukan sesuatu, baginya belumlah bekerja kalau ia belum sampai bercucuran keringat, baginya tidak ada kata malas dan menunda waktu, baginya ia belum merasa berbahagia kalau belum bersujud menikmati kekhusyuan shalat. Itulah sosok enerjik seorang pemuda muslim sejati. Semua bisa kita lakukan, semua bisa kita mulai, semua bisa terwujud wahai pemuda muslim. Dan dunia ini sedang menunggu karya-karya dan prsetasi besarmu.


Bangkit dan berkaryalah wahai pemuda muslim sejati !! 








Catatan : ‘’sebagian artikel ini dikutip dari kalender hijriyah (Telkom Indonesia)”

Sabtu, 28 Januari 2017

Perbedaan Itu Indah


Setiap kita punya trik baru dalam meraih mimpi
Setiap kita punya langkah baru untuk berjalan mengarungi samudra kehidupan.
Dan setiap kita punya metode baru dalam menyusun rumus-rumus pendidikan kita masing-masing.

Dan setiap langkah mengarungi samudera pendidikan kita punya tempat yang berbeda-beda dalam menimba ilmu yang sebanyak-banyaknya. Disetiap tempat itulah kita punya teman/sahabat baru, tempat kita berbagi cerita, tempat kita saling memberi masukan, tempat kita saling mengingatkan jika ada yang salah, dan tempat kita saling memahami. Karena setiap kita punya karakter yang berbeda,punya hobby yang berbeda, bahkan suku pun berbeda. Dengan perbedaan itulah kata "saya" dan "kamu" menjadi "kita". Iya kita, kita yang saling memahami antara satu dengan yang lainnya. Ketika kita punya kawan baru yang mungkin tidak sesuai dengan kita, solusi terbaik adalah menyatukan perbedaan itu menjadi sebuah visi yang sama, hingga akhirnya bareng-bareng membangun misi agar bisa menghasilkan kata "kita" menjadi sebuah persahabatan yang luar biasa, bermanfaat bagi Agama, bangsa dan negara serta untuk orang banyak. Itu adalah solusi yang terbaik dalam membangun perbedaan diantara kita, BUKAN meninggalkan.

Perbedaan yang membuat hidup kita menjadi pelangi. Pelangi yang indah, yang warnanya berbeda-beda yang membuat banyak makhluk kagum melihatnya .

Hiduplah seperti pelangi, warnanya bermacam-macam tapi karena ia bersatu, terlihat indah di langit biru .


Sabtu, 21 Januari 2017

Keikhlasan si Mas Gojek

           
           
            Sore itu, saya mulai beres-beres pulang ke rumah setelah mengejarkan Qur’an kepada anak-anak usia TK dan SD. Begitu pula dengan anak-anak yang super semangat membereskan semua peralatan belajarnya  ketika jam pulang. Pertemuan hari itu dengan anak-anak diakhiri dengan muroja’ah dan juga membaca doa lalu kemudian bubar satu per satu dari lingkaran halaqoh Qur’an. Bubar untuk pulang ke rumah masing-masing. Saya pun terakhir bubar dari lingkaran halaqoh Qur’an sore itu. Ya…namanya juga pengajar yang pulangnya lebih akhir dibandingkan anak-anak. Saya pun bergegas pergi dari ruangan yang berdinding bambu itu membawa tas yang lumayan berat.

Dalam perjalanan pulang ke rumah sore itu, keadaan jalan tidak begitu mecat. Saya pun berlalu dengan cepat dengan motor kirana alias si kuda hitam yang selalu setia menemani dan mengangkut kemana pun saya pergi. Beberapa menit dalam perjalanan itu, saya berbelok kanan di jalan kodau. Tidak cukup 2 menit di jalan kodau,si kuda hitam mulai mengeluarkan tanda-tanda aneh. tanda-tanda yang sudah saya hafal dan tau sekali ada apa dengannya. Yapp tidak lain dan tidak bukan bensinnya habis. Dari kemarin memang saya sendiri sudah memprediksi bahwa si kuda hitam ini sepertinya sudah mulai lapar. Dan ternyata disore hari itu benar, ia tak mampu melanjutkan perjalanan bersama saya. Karena bensinnya habis, tidak ada pilihan lain. Saya dorong sampai  menemukan bensin alias makanan buat si kuda hitam. Kehabisan bensin di jalan memang sudah hal yang sangat biasa terjadi bagi saya, diakibatkan motornya sudah lumayan tua dan beberapa hal yang sudah tidak berfungsi akhirnya saya ketahui banyak atau sedikit bensin yang ada dalam perut si kuda hitam itu. Pede dan tak menghiraukan kendaraan lain yang ulu lalang di jalan ramai sore itu, saya mendorong dengan perasaan agak jengkel. Tiba-tiba ada motor berwarna putih plus dengan pengendaranya yang berjaket hijau dan berhelm hijau pula. Ah… ternyata si mas gojek. Tanpa salam dan tanpa permisi, si mas gojek bertanya dengan muka yang terlihat lelah “mas, motornya kenapa?”. Tanya si mas gojek. “kehabisan bensin mas”, jawabku. “naik aja ke motornya mas, nanti saya bantu”. Tawaran si mas gojek. Tapi karena saya berfikir penjual bensin tidak terlalu jauh dan tidak mau merepotkan orang, saya menolak tawaran si mas gojek dan melanjutkan mendorong si kuda hitam. “mas, naik aja mas, kasian masnya sudah sore begini pula” si mas gojek kembali menawarkan pertolongannya. Saya sedikit memperhatikan raut wajah si mas gojek yang sudah terilihat lelah juga terlihat wajah ikhlasnya yang ingin membantu orang. Iya, membantu saya sore itu. Saya kembali duduk di atas si kuda hitam. si mas gojek mengendarai motornya sambil melentangkan kakinya ke  arah klapot motor saya, ngeng… motorku kini kembali melanjutkan perjalanan dengan bantuan dorongan si mas gojek. Dalam perjalanan itu, saya menoleh kiri dan kanan untuk mencari dimana penjual bensin. Sekitar 500 meter saya berlalu tertnyata belum ketemu-ketemu juga penjual bensin eceran di pinggir jalan. Pada hal biasanya, ketika di perjalanan saya kehabisan bensin, penjual bensin eceran tidak  begitu jauh. Hanya beberapa meter saja sudah ketemu. Tapi kali ini tidak. Sabar hehe…

Si mas gojek terus membantu mendorong motor saya dihari yang mulai gelap itu. Dalam perjalanan, hati kecil saya sangat bersyukur karena ada orang yang begitu tulus dan begitu ikhlas membantu saya. iya sangat bersyukur. Sekitar 1 km dalam perjalanan itu, akhirnya saya menemukan penjual bensin eceran. “mas, berhenti disini aja, tuh ada penjual bensin” teriakku ke mas gojek. Si mas gojek pun berhenti. Setelah  berhenti, bukannya ngisi bensin si mas gojek malah nyuruh saya untuk naik ke motor kembali dan melanjutkan perjalanan dengan perut kosong si kuda hitam. “loh.. kenapa mas? Ini kan ada penjual bensin”. Kataku ke mas gojek. “di depan ada pom bensin mas. Tidak jauh dari sini” kata si mas gojek. “o…iya, ada ya pom bensin dekat sini”. Kataku dengan sedikit cengingisan. Ngeng… kembali melanjutkan perjalanan.

Tidak lama kemudian, tiba juga akhirnya di pom bensin. Sebelum belok kanan ke pom bensin, si mas gojek memintaku untuk mengambil jalan tengah persiapan belok kanan pom bensin. Saya pun mengikuti perintah si mas gojek. Tepat depan pom bensin (di jalan), ketika saya mau belok kanan, si kuda hitam belum berhenti dengan sempurna saya sudah keburu menurunkan kedua kaki dan menyenggol tas yang saya taro bagian depan sedangkan si mas gojek sudah belok kanan ke arah pom bensin. Brukkkk….ah… tas saya jatuh. Si kuda hitam pun saya rem mendadak dalam keadaan yang sudah panik. Saya ambil tas yang terjatuh di jalan dengan tangan kiri karena tangan kanan menahan si kuda hitam agar tidak ikutan jatuh. Setelah tas itu berhasil saya ambil, saya pun membelokkan si kuda hitam ke pom bensin dengan tergesah-gesah karena kendaraan di jalan sudah mulai macet berlawanan arah. Karena sikap terburu-buru dan tergesah-gesah, akhirnya bruuukkkkk…. Si kuda hitam jatuh ke kanan saya pun juga ikutan jatuh. Setelah saya berusaha bangun, terlihat seorang lelaki tua turun dari motornya dan membantu membangunkan si kuda hitam yang terjatuh “mas, hati-hati ya” kata lelaki si  tua itu. “iya pak, terima kasih banyak”. Kataku. Sejumlah kendaraan yang sudah memadati jalan membunyikan klaksonnya. Begitu pula dengan mobil avanza yang tepat berada di depan saya ketika jatuh. Saya membelokkan motor ke kanan arah pom bensin dan mencari-cari si mas gojek yang tadi membantu mendorong motor saya yang kehabisan bensin. Mataku melirik dan menoleh ke sana kemari tapi tak kunjung menemukan si mas gojek. Ah… pada hal saya belum sempat berterima kasih banyak kepadanya karena keikhlasannya yang begitu tulus membantu saya. karena mas gojeknya menghilang saya langsung mengisi bensin dan melanjutkan perjalanan ke rumah tanpa menyampaikan terima kasih banyak ke mas gojek. Sekitar 5 menit di perjalanan, tiba-tiba ibu jari saya terasa perih dan tangan kiri juga perih begitu pula dengan betis bagian kanan. Tapi, yah… ini hanya perih biasa saja. Maklum tadi abis dubrak bareng  motor di tengah jalan. Terus melanjutkan perjalanan dengan hati-hati dan akhirnya Alhamdulillah tiba di rumah dengan selamat. Lalu kemudian persiapan shalat maghrib dan ngajar kembali anak-anak di rumah.

Besok-besok perhatikan motornya jangan kehabisan bensin lagi di jalan hehe…


Kamis, 21 April 2016

Pulang ke Butta Kelahiran


Hari itu, matahari bersinar cerah, popohonan masih menyilaukan hijau daunnya,burung terbang di angkasa membawa sejuta senyuman akan kehadiran hari itu. Hari yang sangat indah penuh dengan Rahmat Allah yang maha kuasa dan maha pencipta. Hari itu juga hati memanggil untuk kembali ke tanah kelahiran butta bugis tercinta. Untuk melihat perkembangan tanah kelahiran, penduduknya, perekonomiannya, tata kotanya dan perkebunan yang ada di pedasaan. Hal itu yang membuat hati rindu pada tanah kelahiran yang tercinta. Tapi, sayangnya masih ada tanggung jawab yang harus ditunaikan di tanah rantau Ibu Kota Jakarta. sebuah Ibu Kota yang tidak pernah alfa banjir ketika musim hujan. Yah..itulah Jakarta. kata orang “bukan Jakarta kalau tidak  banjir”.

Di sebuah kursi teras rumah, saya duduk menyendiri memandang langit sore, langit yang begitu indah, matahari mulai terbenam menyembunyikan cahayanya di balik awan. Terdengant dering tunggal di HP yang ada dalam genggamanku “plung”. Dering itu menandakan bahwa ada sebuah pesan BBM. Dengan perlahan aku membuka isi pesan itu, pesan itu dari salah satu sahabat rantau dari Bugis Makassar. “Le, lu kapan balik ke kampung”.  Hmm…ternyata sahabatku yang satu ini menanyakan tentang pulang kampung ke halaman. Aku pun membalas pesan itu “InsyaAllah tanggal 1 juli”. Beberapa detik kemudian, ia membalas pesanku lagi “owh…yaudah kalo gitu bareng gua aja le, kebetulan gua juga pulang tanggal segitu”. Kata sahabatku dalam pesan singkat di BBM. “owh…okelah, bareng aja kalo gitu mah”. Akhirnya sore itu kami berdua sepakat untuk pulang bareng ke kampung halaman. Senangnya tiada terkira ketika ada rencana pulang kampung meskipun itu hanya beberapa hari saja. Bagaimana tidak, bakalan ketemu dengan sanak keluarga lagi. Dan bisa berlibur dengan mereka setelah lebaran Idul Fitri 1436 H.



Beberapa hari kemudian, aku ingatkan lagi ke sahabatku yang akan pulang bareng nanti “gimana nih, kapan nyari tiket pesawat buat pulang?” kataku dalam sebuah pesan singkat di BBM. “owh..iya gua udah nyari-nyari tiket nih, ada nih pesawat yang akan terbang menuju Makkassar tanggal 1 juli pkl. 16.40 WIB”. Kata sahabatku ketika membalas pesan singkat di BBM. Kemudian saya membalas lagi pesannya “Owh…okelah kalo gitu gua transfer ya duit gua ke lu”. Hari itu juga saya langsung ke bank transfer uang untuk beli tiket. 

Beberapa hari setelah saya transfer uang, ku selesaikan semua tugas dan kewajibanku. Ya..tugas dan kewajibanku tidak banyak-banyak amat, Cuma  ngajar dan kulaih saja. Dan langsung menuju halim perdana kusuma Jakarta pada hari selasa 29 juni 2015. Diantar oleh salah satu sahabat seperjuangan dari Bugis Makkassar pula dengan motor mio. Jiahaha…keren. Hehe…….

Satu jam berlalu, akhirnya nyampe juga di halim dengan selamat. Saya masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan sambil mengucapkan salam “Assalamu Alaikum”. Ku tunggu suara untuk menjawab salamku itu namun tak ada suara juga. Akhirnya ku ulang ke dua kalinya “Assalamu Alaikum”. Ya.. tetap saja nihil dan sepi. Akhirnya aku pun masuk langsung menuju kamar temanku tanpa ada seseorang di dalam rumah itu. Ku tatap perlahan ruangan itu yang hanya diramaikan dengan buku-buku. Ku baringkan tubuhku yang kelelahan dan tanpa sadar aku tertidur.

Tepat  pukul 14.00 WIB  saya terbangun dari tidur itu setelah mendengar suara  yang tandanya memanggil namaku “Suleeee”. Ya…itu adalah nama yang paling sering ditujukan kepadaku oleh teman-teman sebayaku. Mungkin biar lebih akrab aja sehingga mereka memanggilku Sule. Setelah terbangun saya menatap serius wajah siapa gerangan yang ada di hadapanku. Ya..ternyata dia adalah Akmal, pulang dari pelatihan pembuatan pesawat untuk lomba di Yogyakarta beberapa bulan ke depan. Akmal inilah yang akan saya temani pulang ke kampung halaman. Beberapa menit kemudian teman-temanku yang lain pun berdatangan. Ada jammil, Ahsan dan Hadi yang akan pulang bersama 1 jam kemudian menuju Makassar. Setalah semua berkumpul barulah berangkat ke bandara Halim Perdana  Kusumu Jakarta Timur. Setalah tiba di bandara, biasalah ya,, namanya juga anak muda sempat berfoto bareng dulu sebagai tanda persahabatan sampai akhir hayat.



Jam dinding menunjukkan pukul 17.00 WIB dan diwaktu itulah pesawat batik air mengangkut saya dan teman-teman menuju Makassar, Butta kelahiran tercinta. Dua jam kemudian akhirnya tiba di Makassar dan dijemput oleh Saiful (alumni MJH Boys juga  tahun 2014). Dan langsung menuju pantai losari. Ditempat itulah saya dan mereka berbagi cerita tentang pengalamn hidup selama 1 tahun berpisah setelah lulus SMA dan lulus dari Yayasan Muslim jabal haq (YMJH).  Ya… pertemuan itu menyimpan sebuah kenangan yang tidak akan pernah terlupakan sampai maut datang menjemput. Bagaiman tidak, mereka adalah sahabat sekaligus saudara yang dititipkan Allah.

Tak terasa 3 jam waktu dihabiskan di pantai Losari malam itu. Ya…mata mulai redup dan setengah watt. Dan akhirnya melanjutkan perjalanan menuju pondok pesantren Darul Istiqamah. Di tempat itulah saya dan teman-teman menginap. Setelah sampai di pon pes tersebut, rasa ngantuk mulai hilang, karena cerita hidup masing-masing mulai diutarakan. Ya…perjalanan hidup yang tentunya bersifat humoris sebagai seorang perantau, banyak liku-liku hidup yang dijalani dan malam itu pun ramai dengan suara ketawa ketiwi. Tapi, namanya juga mata yang haknya adalah untuk tertidur, akhirnya pada pukul 01.00 dini hari, suasana malam itu mulai sepi.

Keesokan harinya, saya dan teman-teman bersiap-siap untuk menuju kampung masing-masing. Akmal ke Wajo, Jammil ke Sinjai, sedangkan saya, Ahsan dan Hadi menuju Bulukumba. Ya..pagi yang cerah itu, menjadi saksi atas perpisahan kami yang ke dua kalinya, berpisah untuk bertemu keluarga setelah sekian lama merantau di Ibu Kota Negara. Dan alhamdulillah sampai di rumah masing-masing dengan selamat dan juga disambut meriah dengan keluarga tercinta.




Ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa indah.

Jumat, 18 Maret 2016

Tangisan Palestina


Suara bom bagaikan petir datang menyambar
Menghancurkan tanah tercinta umat  islam
Tangisan mulai terdengar dan bergelombang nyaring di telinga
Merintih dan mengucapkan takbir
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar !!!



                        Deraian air mata mengiringi kepergiannya
                        Suara tangisan menemani pembaringannya
Mayat-mayat tak berdosa menjadi fakta
Kekejaman dan orogansi penguasa negeri
Hamparan tanah berubah menjadi merah oleh darah
Darah dari pejuang pembela Islam
Kini palestina bersedih, menangis dan merintih
Mereka yang tak berdosa menjadi sasaran
Dari kekejaman dan kebiadaban
                        Wahai… engkau saudara seimanku
                        Apakah engkau mendengar rintihan mereka?
                        Apakah engkau mendengar tangisan mereka?
                        Mereka yang berjuang dan berjihad di palestina
                        Untuk membela dan mempertahankan masjid Al-Aqsa
Wahai saudaraku…
Tahukah engkau, air mata mereka menjadi saksi bisu atas perjuangan mereka
Mereka dibantai oleh tentara-tentara Israel yang bersenjata

Mari Bersatu dan bertakbir untuk palestina

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar..!!!

Minggu, 13 Maret 2016

Untukmu Wahai Calon Makmumku


 Ku persembahkan untuk calon makmumku yang telah tertulis di lauhul mahfudz



Duhai Calon ''Makmum''ku ...



Apa kabar engkau disana ?
siapapun engkau ...
Semoga ALLAH senantiasa memberikan kesehatan kepadamu dan semoga kekuatan iman dan taqwa selalu melekat di dalam hatimu ...

Calon "makmum"ku ...
Aku tau ALLAH menunda waktu kita tuk bersama ...
ALLAH hanya memberi jeda tuk kita bisa mempersiapkan segalanya saat tiba kita bersama nanti ...
Bersama dalam satu atap dalam satu hati ...
Mengertilah calon makmumku ...
Aku mencintaimu ...
Aku membutuhkanmu ...
Mungkin aku tak dapat menyampaikan rasa cinta ini kepadamu secara langsung saat ini ...
Namun aku percaya ALLAH akan mencintaimu slalu dalam setiap rinai waktu yang kau jalani ...

Duhai Calon ''Makmum''ku ...
Jika memang kita berjodoh ALLAH pasti akan memberikan cinta di dalam hati kita di dalam hatiku dan di dalam hatimu dan jika memang kita tidak berjodoh ... ALLAH pasti sedang merencanakan yg terbaik untuk kita karena hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikkan ...
ku serahkan rasa yang tiada sanggup dijadikan halal itu kepada Maha Yang Maha Memberi dan Memilikinya
biarkan Dia yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada waktunya karena ku ingin menjaga cintaku hanya untuk yang halal ...

Calon "makmum"ku ...
Aku tak menuntut banyak darimu ...
Aku tak memaksamu tuk membalas cintaku sekarang ...
Semua itu kuyakin akan tumbuh perlahan dalam hati tulusmu ...
Akan mekar layaknya bunga namun tetap terjaga dan takkan layu oleh panas matahari maupun oleh hujan yang setiap saat menerpa ...

Calon "makmum"ku ...
Mungkin kau tak mencintaiku dengan hatimu saat ini ...
Tapi janganlah kau pudarkan cintamu pada-NYA yang begitu mencintaimu ...
Yang memberikan nafas kehidupan ...
yang memberikan sempat padam tuk dapat berkarya ... yang menjadikan itu ibadahmu ...


Calon "makmum"ku ...
Hati ini akan selalu untukmu ...
Akan selalu kujaga untukmu ...
Kumohon jangan kau nodai ketulusan ini dengan sesuatu yang bisa kau buat sebagai alasan ...
Jangan kau hakimi hatiku dengan perasaan yang tak pasti

Calon "makmum"ku ...
Mungkin saat kau baca ini hatimu tak terketuk sama sekali
Mungkin kau menganggapku berlebihan dengan apa yang kurasakan ...
Sekali lagi maafkan aku calon makmumku ...
Ini hanya ungkapan hati yang aku miliki saat ini ...
Karena aku tak dapat berbicara langsung denganmu ...

Bagaimanapun itu ... aku hanya berharap ...
ALLAH senantiasa melindungmu ...
Senantiasa memelukmu ...
memudahkan langkahmu ...
Dan ALLAH akan membawamu padaku ...
saat kau telah siap menerimaku dengan apa adanya aku ...
Semoga ALLAH membuka jalan kemudahan itu calon makmumku ...

Jaga diri baik-baik calon makmumku ...
Aku merindukanmu ...
Akan kujaga baik-baik hati dan diriku hingga takdir mempertemukan kita kelak ...

Jadilah " BINTANG" halal buatku ...

" aku belum tentu menikah dengan orang yang aku cintai ... tapi aku akan mencintai siapapun yang menikah denganku karena dia adalah kekasih dunia akhirat "

Ya ALLAh ...
Bila Hamba menjadi pasangan seseorang
Izinkanlah diri hamba menjadi pelindung baginya
izinkanlah wajah hamba menjadi kesenangan baginya
izinkanlah mata hamba menjadi keteduhan baginya
izinkanlah pundak hamba menjadi tempat melepas keresahan baginya
izinkanlah setiap perkataan hamba menjadi kesejukan baginya ...

Ya ALLAH ...
Izinkanlah setiap pelukan menjadi jalan untuk lebih mendekat kepadaMu
izinkanlah setiap sentuhan menjadi perekat cinta kepadaMu
izinkanlah setiap pertemuan menjadikan kami bersyukur
kepadaMu

Aamiin Ya Rabbal 'alamin ...

Bunga-bunga cinta indah bersemi
diantara harap pinta padaNya
Ya ALLAH tautkanlah cinta di hati
berpadu indah dalam mihrab cinta

Dalam Mihrab Cinta ku berdo'a padanyan. aminnn




sumber : sharing-forum.blogspot.ac.id