Senin, 13 Oktober 2014

Perawanku direnggut Pacarku

“PERAWANKU DIRENGGUT PACARKU”

Ketika kita menyimak orang yang menjalin hubungan atau yang biasa disebut pacaran, mungkin tidak asing lagi kita mendengar berita-berita negatif dari orang-orang yang berpacaran. Atau mungkin setiap hari kita mendengar sisi negatif dari satu hal ini yang tentunya dilarang dalam Agama Islam. Dengan teran-terangan Allah sendiri mengingatkan kepada manusia dalam Al-Qur’an Bahwa “janganlah mendekati zina”. Peringatan ini bukanlah peringatan yang sudah pahit lagi terdengar di kedua telinga kita, sering dibahas di dalam pengajian atau pun khutbah jum’at. Tapi kenapa masih banyak umat Nabi Muhammad SAW yang terjerumus akan hal ini? Yah… itulah manusia yang diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri.
Para pembaca yang dirahmati Allah,
Kali ini saya akan menyampaikan sebuah kisah seorang wanita yang tidak perawan lagi akibat keperawanannya direnggut oleh pacarnya sendiri, kalau dalam Agama Islam disebut Zina.
Wanita ini tinggal disebuah desa pedalaman di Kabupaten Bulukumba. Ia lahir dalam keluarga yang sederhana, Ibunya pun punya penyakit yang biasa dikatakan gila sedikit alias sinting. Tapi tidak sinting-sinting amat. Wanita ini tidak pernah mengenyam bangku pendidikan baik itu TK, SD, SMP apalagi SMA. Karena wanita ini mengikuti jejak kedua orang tuanya yang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Ia besar tanpa ajaran Agama, sehingga ketika wanita ini menginjak usia dewasa, ia mulai mengenal berpacaran sama halnya dengan teaman-temannya yang lain.  Dan parahnya lagi, wanita ini berpacaran dengan sepupu saya sendiri. Tapi saya ikhlaskan saja. Yang penting mereka saling mencintai dan tidak melewati batas. Mereka berbagi cerita via handphone dengan panggilan suami dan istri. Naudzubillahi mindzalika. suatu waktu, saya pernah meminjam handphone sepupu saya dengan niat untuk SMS ke teman saya di pondok. Eh…karena jari-jari ini juga agak nakal, akhirnya saya buka pesan masuk. Ku lihat dengan kedua mata telanjang saya di layar hanphne itu tertulis “suamiku, udah mandi belum?”. Wow…saya terkaget-kaget luar biasa saat itu. Kebingungan yang amat sangat. Akhirnya esok harinya saya tanyakan ke sepupu saya “kok kemarin ada pesan dari istrimu, suamiku udah mandi belum?”. Tanyaku ke sepupu saya. Dengan wajah ceria dan gembira ia menjawab “o..itu pacar saya, tapi saya panggil istri karena rasa ini, wanita itu adalah istriku”. Ya..ya.. saya mengangguk-angguk aja dan tidak bisa berkomentar apa-apa.
Seminggu kemudian, mereka ketemuan di rumah saya. Wanita itu datang dengan celana levis yang ketat dan baju berwarna kuning. Senyumannya manis, wajahnya juga lumayan cantik, rambutnya panjang dan lurus. Pantas saja sepupu saya mencintainya. Wanita itu masuk ke dalam rumah saya tanpa mengucapkan salam. Hmm…sudah ku tebak seperti apa pergaulannya. Lama-lama sepupu saya pun datang dengan menggunakan kostum yang amat sangat sederhana. Bercelana pendek dan berbaju kaos berwarna cokelat tua ditambah lagi dengan asap rokoknya yang tidak berhenti berhembus dari dalam mulutnya. Ia masuk ke dalam rumahku tanpa salam pula. Hmmm… jodohnya mintong kasi’na. mereka saling berbagi cerita yang sepertinya lumayan menarik sehingga mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Saking asyiknya mereka ngobrol, tidak terasa jam dinding menunjukkan pukul 17.30. sepupu saya minta izin ke pacarnya untuk pamit pulang ke rumah untuk mandi dan ngobrol lagi setelah isya.

Singkat cerita, mereka pun melanjutkan obrolannya di rumah saya. Malam itu rumah saya full oleh penonton setia mimpi manis. Ada yang masih ingat sinetron ini? Yang dibintangi oleh Dewi Persik. Maklum di kampung saya memang Cuma saya yang punya TV, jadi tetangga-tetanggaku mendatangi rumahku untuk menonton sinetron mimpi manis. Nah.. karena sepupu saya merasa terganggu dengan pacarnya, akhirnya mereka masuk ke dalam kamarku yang tidak ada pintunya. Hanya ada gordyn berwarna merah yang melindungi mereka dari ramaian fans sinetron mimpi manis. 30 menit berlalu mereka berduaan dalam kamarku. Setan mulai menggoda mereka berdua, sehingga terjadilah eeehhhmmmmm… para pembaca mengertilah ya.  Saat mereka sedang melakukan ehhmm ini, ternyata mereka ketahuan oleh kakak saya tapi mereka tidak mengetahuinya. Kakak saya mengintip mereka dari jendela kamarku. Tapi dibiarkan saja melanjutkan eeehhhmmm ini. Pagi harinya, barulah kakak saya menceritakan ke orang tua sepupu saya. Karena takut berita ini terdengar oleh orang-orang di kampung, akhirnya sepupu saya melamar pacarnya yang tidak perawan lagi seminggu kemudian. Dan untung saja orang tua dan keluarga merestui hubungan mereka. Tapi, setelah beberapa bulan mereka sah menjadi suami istri, sang istri belum hamil-hamil juga. Pada hal mereka telah melakukan ehhhhmmmm saat mereka pacaran. Apakah yang terjadi?? Ternyata dan ternyata sang istri ini MANDUL alias tidak bisa memberikan buah hati untuk suaminya yang telah merenggut perawannya dimasa mereka pacaran. Akhirnya mereka sering bertengkar dan tidak kelihatan tanda-tanda kebahagiaan mereka setelah sah menjadi suami istri hingga saat ini. Pada hal sekitar 4,5 tahun mereka sah menjadi suami istri. Mungkin inilah hukuman di dunia bagi mereka yang berani melakukan zina. Hati-hati yang laki-laki, jangan sampai merenggut perawan anak orang. Ingatlah pembalasan Allah. Semoga kita semua terhindar dari perbuatan yang yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Amin. 

Minggu, 12 Oktober 2014

Risal anak Aren

                                                             “RISAL ANAK AREN”

Disaat matahari mulai bersembunyi dibalik gunung lompo battang. Terdengar suara tangisan seorang bayi. Diiringi  dengan hembusan angin sepoi-sepoi dunia menyambut kelahiran bayi itu dengan senyuman bahagia.Suara tangisan seorang bayi itu bagai nyanyian rindu untuk Ayah dan Ibunya. Burung-burung pun terbang tinggi di angkasa dan berkicau riang menyambut kelahiran seorang bayi ke 5 dari pasangan suami istri H.Sulle dan Sabo di sebuah Desa yang hanya terdapat beberapa rumah kayu. Bayi itu diberi nama RISAL SULLE. Ya.. itulah aku yang terlahirkan dari pelosok Desa jauh dari keramaian kota. Hari semakin gelap meninggalkan cahaya mentari yang telah bersinar menyinari bumi. Dan suara tangisanku mulai membisu bersama malam yang bahagia bagi Ayah dan Ibuku atas kelahiranku. Masa kecil itu, membawa undangan cinta sang buah hati. Dan membawa kebahagiaan yang tersimpan dalam memori cinta seorang bunda yang telah memperjuangkan hidup dan matinya hingga anaknya dapat lahir dan menikmati hidup.
Waktu yang terus berputar , masa kecil itu membawaku berjalan di dunia yang penuh dengan liku-liku. Dan cobaan hidup tiada hentinya bagai gelombang air laut yang tek pernah berhenti menghembuskan buih  ke pinggir pantai. Aku menjalani hidup bersama keluarga yang sangat aku cintai. Terutama Ayah dan Ibuku serta kakak perempuan satu-satunya yang bernama Nurmi. Aku menginjakkan kaki di SD saat berusia 4 tahun. Tak heran, seharusnya aku belum boleh menginjak masa SD karena umurku yang masih 4 tahun. Tapi, berkat keinginanku yang kuat, aku diterima di SDN 51 Parang Silibbo. Saat itu, ketika aku ke sekolah suara ledekan yang diiringi tawa orang-orang tak pernah berhenti bergelombang dikedua kupingku. Karena sepatuku yang lebar seperti kura-kura yang bertali rapiah, dan juga baju seragamku yang ditambal, serta celanaku yang sobek membuat orang semakin ramai mentertawakanku. Aku kehilangan semangat belajar saat itu, karena tidak kuat jika harus mendengar suara tawa dan ledekan setiap aku berjalan kaki menuju ke sekolahku. Ayahku yang  bekerja sebagai petani singkong, merasa bersalah besar karena belum mampu membelikanku seragam dan sepatu baru, karena makan aja susah bagi mereka. Belum lagi kakak-kakakku yang sekolah di SLTP di Bonto Nyeleng yang membutuhkan biaya lebih besar dibandingkan aku. Karena semangat belajarku turun, aku  tidak bisa naik ke kelas 2 SD Selama 2 tahun karena nilai rata-rataku hanya 4,00. Nilai itu sangat menyedihkan. Segudang kekecewaan yang tertampung dalam diriku dan Kristal beningku mulai tertumpah dan membasahi kedua pipiku.
Dua tahun dikelas 1 SD, aku bangkit dari kegagalanku itu. Dan akhirnya aku bisa naik ke kelas 2 SD dengan peringkat VIII. Kebahagiaan datang membawa senyuman indah ke hadapanku, Dan Ayahku yang tadinya bekerja sebagai petani singkong, kini beliau bekerja sebagai  pembuat gula merah yang terbuat dari air pohon aren atau dalam bahasa makassarnya “tuak tanning”. Dengan izin Allah yang maha kuasa, tuak tanning itu bisa menghidupiku beserta keluarga yang sangat aku banggakan. Seiring dengan perjuangan yang berkobar dalam kepribadianku, aku bisa meraih juara 1 dikelas saat aku duduk dibangku kelas 4 SD. Aku tak mau lagi ada diurutan  paling belakang. Disamping aku juara 1 di kelas, aku juga aktif ekstrakurikuler di sekolah mulai dari pramuka,SKJ,adzan,volley,MTQ,MHQ,. Dan aku juga pernah menjuarai lomba MTQ tingkat kabupaten di bulukumba. Alhamdulillah.. bukannya sombong yee.. Selain itu, aku pernah menjuarai lomba SKJ. Dan masih banyak prestasi  yang pernah ku raih semasa SD. Ayahku bangga melihat perkembangan anaknya yang pernah tinggal kelas selama 2 tahun. Semuanya bagai mimpi yang tak pernah terduga dalam hidupku. Meskipun aku dan kakak-kakakku hanya sebagai anak dari sang Ayah yang hidup berkat pohon aren, tapi aku tetap bangga punya Ayah yang tidak tergila-gila dengan harta benda. “kekayaan itu tidak akan bisa merubah hidup menjadi tentram, tapi iman yang kuatlah yang bisa merubah hidup menjadi tentram dan bahagia bahkan sampai dikehidupan yang hakiki yaitu akhirat” itulah prinsip Ayahku. Kalau memang dibandingkan dengan anak-anak yang lain, akulah yang jarang membawa uang jajan ke sekolah. aku hanya membawa buah rambutan dan duku untuk mengisi perutnya saat kelaparan di sekolah. Seperti yang pernah aku ceritkan sebelumnya yang berjudul mimpi tidak tertulis. Hehe..
Seiring dengan waktu yang terus berputar, aku melanjutkan pendidikan di SMP islam terpadu pondok pesantren Al-Furqan pusat Ereng-Ereng kabupaten Bantaeng. Disitulah aku mulai berpisah dengan orang tuaku, dan aku bisa   hidup mandiri di pesantren tersebut. Di pesantren, aku dibekali dengan ilmu-ilmu Agama Islam diantaranya  adalah Nahwu saraf,Hadits arbain,Bulugul maram dan masih banyak lagi pelajaran yang bisa ku pelajari  di pesantren. Bahkan, aku masih bisa mengukir prestasiku di pesantren. Aku pernah menjuarai beberapa lomba islami yaitu lomba da’i, MTQ, puisi islami, pop song, puisi kompak, drama, dan juara umum saat perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 2010). Di pesntren, aku  benar-benar merasa hidup mandiri. Aku masak sendiri. Biasanya, aku memasak nasi untuk makan siang dan makan malam. Dengan laup yang tak ada rasa yang lain selain rasa asing yang bergoyang dilidahnya (garam). Bukannya orang tuaku miskin amat, tapi aku tidak mau jika harus meminta uang untuk membeli makanan yang  enak-enak. Apalagi, Ayahku hanya sebagai petani dan pembuat gula merah yang  terbuat dari air pohon aren. Ketika aku pulang kampung, aku dipercaya oleh masyarakat disekitarnya untuk menjadi imam saat shalat berjama’ah, berceramah di bulan ramadhan dan juga khutbah setiap hari jum’at.

Tiga tahun lamanya aku menikmati hidup di Pondok Pesantren Al-Furqan. Dan hal itu yang menjadi salah satu kenangan hidupku semasa di pesantren yang tak akan pernah hilang dalam gelapnya malam dan tak pernah pudar sampai hembusan nafas terakhirku. Aku  bahagia punya Ayah yang begitu penyayang dan selalu mengabdi kepada Allah yang maha kuasa. Meskipun aku hidup sederhana bersama keluarga, aku bisa menginjakkan kaki di Ibu kota Negara (Jakarta) untuk melanjutkan pendidika SMA dengan beasiswa penuh. Dan selesai pada tahun 2014 ini. Lumayan membanggakan jugalah ya. Dan saat ini lanjut kuliah di Seklah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Darul Hikmah di Kota Bekasi. Semoga ke depannya makin sukses. O..iya jadi maka juga guru kodong. Tapi guru tahfidzji kodong dan bahasa Arab dasar di TK. Tapi tidak apa-apaji. Yang penting bisaka hidup.

Jumat, 10 Oktober 2014

Mengadu Nasib di Perantauan

“MENGADU NASIB DI PERANTAUAN”

Para pembaca yang dirahmati Allah. Mungkin tidak asing lagi kita mendengar sebuah kisah sang perantau yang sukses di kemudian hari. Merantau, ya.. dalam perantauan memang banyak cobaan yang datang menerpa. Kali ini saya akan menyampaikan sebuah kisah sang perantau yang mengadu nasib di Jakarta.
Tepat pada tanggal 15 Juni 2011 yang lalu, di gedung Grahapena Makassar. Berkumpullah para penerima beasiswa pendidikan SMA di Jakarta  untuk mengikuti acara pelepasan. dari berbagai macam kabupaten dan anak pelosok dari provinsi Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah Mujammil Abdullah yang biasa dipanggil  Jammil, Emil dan Amure. Ya… namanya emang banyak, tapi orangnya tetap satu dan mukanya tidak pernah berubah. Jammil ini adalah seorang perantau dari kabupaten sinjai Provinsi Sulawesi Selatan. Ia mulai merantau di Jakarta tepat pada tanggal 16  Juni 2011 yang lalu. Kesempatannya mendapatkan beasiswa pendidkan SMA dari Yayasan Muslim Jabl Haq (YMJH), membuatnya punya semangat juang yang sangat tinggi. Ia bermimpi menjadi seorang Bupati yang cerdas, Bupati yang bisa membangun Kabupatennya yang nan jauh disana. Selama ia SMA, ia menjabat sebagai ketua Asrama pada tahun kedua di perantauannya. Memimpin teman-temannya mengadakan sebuah acara yang diadakan se- Kota Bekasi. Yaitu turnament futsal U 19. Dan acara itu sukses dengan meriah. Kebetulan dalam acara itu saya yang menjabat sebagai koordinator keuangannya. Hehe…lumayan banyak juga dana yang digunakan.

Diperantauan inilah Jammil mengadu nasib, belajar yang giat hingga ia bisa menjadi juara kelas. Alhamdulillah. Tekadnya dan niatnya memang kuat yang tidak bisa terpatahkan oleh apa pun. Jammil adalah sang perantau yang kuat. Ia tidak pernah goyah setiap cobaan datang menerpanya. Ia punya benteng yang kuat yaitu niat dan tekad untuk meraih cita-citanya. Semua itu terlihat ketika ia lulus SMA pada tahun 2014 ini, dan menjadi alumni SMAN 11 Kota Bekasi. Ia mulai hidup selangkah demi selangkah dengan ditemani oleh kehidupan yang  begitu keras di perantau di Ibu Kota. Setelah lulus SMA, Jammil mendaftar kuliah di UNPAD melalui jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Namun hasilnya ia gagal. Jammil tidak berhenti disitu saja. Ia mendaftar lagi di UNHAS melalui jalur seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN). Namun jalur ini membuatnya ia gagal lagi. Apakah Jammil berhenti berjuang? Apakah Jammil menyerah? TIdak!! Ia tidak pernah menyerah dengan tantangan hidup ia lewati. Ia selalu terlihat bahagia meski hatinya berat menjalani hidup di perantauan. Dengan kegagalan itu, ia bekerja dan menabung saat ini untuk membiayai kuliahnya tahun depan. Bagaimana kehidupannya saat ini? Sungguh luar biasa berat. Saya tau karena ia adalah teman seperjuanganku di perantauan. Ia berangkat kerja mulai dari jam 06.30  pagi dengan bersepeda. Sedangkan tempat kerjanya lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Ia bekerja di koperasi madina Indonesia. Iya, memang keren nama tempat kerjanya. Tapi pekerjaannya tidak sekeren dengan kerjanya, beda 180 derajat. Menagi utang di setiap rumah yang meminjam uang di koperasi, yah.. itulah pekerjaannya si Jammil. Yang menurut saya lumayan butuh tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Meskipun begitu, semangatnya tetap membara untuk meraih cita-citanya. Ia kadang curhat dengan saya akan kehidupan yang begitu keras di perantauan. Selalu ku simak dengan baik bait per bait kata-kata yang ia ucapkan ketika curhat. Sedih..yah.. begitulah yang saya rasakan mendengarkan curahan hatinya.tapi seperti yang saya katakana tadi, ia selalu terlihat tersenyum. Selalu ku do’akan semoga ia menjadi orang sukses, menjadi seorang Bupati kabupaten Sinjai yang amanah, tidak korupsi dan selalu menyerahkan dirinya kepada Allah SWT. Selamat berjuang Jammil, saya sahabatmu yang selalu mendo’akanmu selalu. Mintalah do’a dari orang tuamu, dan dekatkan dirimu kepada Allah SWT. Kita sama-sama sang perantau, yakinlah kita pasti bisa berhasil.

Kamis, 09 Oktober 2014

Ibu, aku membutuhkanmu

“IBU, AKU MEMBUTUHKANMU”

Sebagai seorang anak yang telah dilahirkan oleh seorang Ibu. Pastinya mereka butuh kasih sayang dari sang Ibu. Karena sang Ibu adalah tempat mereka mengadu setiap sang anak punya masalah. ibu tidak bisa memebiarkan anaknya berjalan begitu saja apalagi jika anaknya masih berusia 3 sampai 5 tahun. Karena diumur itulah sang anak butuh pendekatan dan kasih sayang yang lebih dari Ibu begitu pun dari Ayahnya. Karena dengan kasih sayang dan pendekatan serta perhatian dari orang tuanyalah sang anak bisa termotivasi untuk belajar dan berprestasi. Seperti salah satu murid yang saya ajar di TKIT  Al- Abraar Jaticempaka, Pondok Gede. Anak ini selalu meraih juara  1 setiap pekan ulangan, begitu pun dengan kegiatan lomba-lomba. Jadi, anak ini bisa dikatakan berprestasi dibidang akademik maupun non akademik. Kuncinya apa? Adanya pendekatan, kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Selain itu, anak ini juga mulai berani berangkat ke sekolah meskipun tidak diantar oleh Ibu atau Ayahnya. Artinya adalah anak ini mandiri. Kuncinya apa? Kuncinya sama seperti yang tadi diutarakan, tapi ada tambahannya, yaitu anak jangan dimanjakan.

Nah, selain saya menemukan anak berprestasi di TK Al- Abraar, saya juga menemukan murid yang begitu berkarat. Artinya adalah ia sangat sulit untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Anak ini duduk di TK A yang biasa dipanggil Atar. Anak ini tidak pernah duduk manis dibangkunya ketika saya sedang mengajar dan berpote-pote di depannya mengajarkan bahasa Arab dasar. Ketika saya memulai pelajaran dengan salam, anak ini mulai bertingkah yang aneh. Tapi saya membiarkan anak ini bertingkah semaunya, wahy? Kok begitu? Dibiarkan muridnya bertingkah semaunya. Apakah saya adalah guru yang tidak peduli dengan murid-muridnya? Tidak!, saya bukanlah tipe seorang Guru yang seperti itu. Tentunya seorang Guru ingin sekali melihat murid-muridnya berprestasi dan masa depannya cerah. Saya ingin sekali seperti guru Onizuka dalam film yang berjudul “graet teacher Onizuka” yang dibuat oleh Jepang. Guru Onizuka adalah seorang guru yang sangat hebat, ia selalu menyelesaikan masalah murid-muridnya dengan baik.  Tapi anak yang satu ini yang menjadi murid saya, membuat saya bingung bagaimana saya merubahnya menjadi anak yang selalu siap dan duduk manis ketika pelajaran sedang dimulai. Tingkahnya begitu aneh, berlari ke sana dan ke sini tanpa arah, meninju tembok dan paling parah, setiap saya mengajar ia seperti ikan menggelepar karena kekuranga air. Aneh memang aneh. Nah, saya ingin mencari tau apa yang menyebabkan ia seperti ini. Akhirnya saya tanyakan ke neneknya yang mengantarnya ke sekolah setiap hari. Ternyata dan ternyata kurangnya perhatian dari orang tuanya. Ibu dan Ayahnya sibuk bekerja sehingga anaknya dibiarkan begitu saja. Sedih rasanya melihat  orang tua yang seperti ini. Lebih mementingkan  harta dari pada kemajuan dan prestasi anaknya. Selama kurang lebih 1,5 bulan saya mengajar di TKIT Al- Abraar, anak ini tidak pernah diantar oleh Ibu tercintanya. Tapi sang nenek yang tua dan berambut  putihlah yang mengantarnya ke sekolah.  Ia sangat terlihat beda dengan teman-temannya yang setiap ke sekolah diantar oleh Ibunya meskipun Ibunya harus bekerja. Saya mengambil satu contoh lagi dari salah satu murid saya yang biasa dipanggil Rafa. Ibunya bekerja di TRANS TV, tapi setiap ke sekolah Rafa diantar Ibunya ke sekolah, agar si Rafa ini lebih percaya diri dan siap mengikuti pelajaran di sekolah. Setelah diantar barulah Ibunya berangkat untuk bekerja. Beda dengan Atar yang  tidak pernah konsentrasi dalam belajar. Sepertinya ia butuh pendekatan dari Ibunya, minimal ia diantar ke sekolah oleh Ibunya. Karena Cuma Atarlah satu-satunya murid yang tidak pernah saya lihat Ibu atau pun Ayahnya muncul di sekolah. Karena Ibu dan Ayahnya sibuk mengejar dunianya. Naudzubillahi min dzalika. Dimanakah kasih sayang pada anakmu Ibu? Dimanakah perhatianmu ibu? Dimanakah hangatnya pelukanmu ibu? Saya butuh perhatian dari Ibu. Inilah mungkin teriakan hati Atar kepada Ibunya. Menjadi PR besar bagi saya untuk Atar sebagai gurunya adalah merubahnya menjadi anak yang percaya diri dan siap untuk belajar.

Rabu, 08 Oktober 2014

”GARA-GARA HAMMAM (KAMAR MANDI)”

Dua hari setelah dikumandangkan Takbir, membesarkan Nama Allah dalam pelaksanaan shalat Idul Adha 1435 H. Masih sibuk mengurus daging kambing dan sapi di rumah Qur’an Mulia. Entah mau diapakan daging mentah itu, dimasak kurang bisa, bisanya makan aja.  Yah.. itulah manusia yang dihiasi dengan akal dan nafsu. Tapi, dengan pengalaman meskipun secuil, akhirnya punya inisiatif untuk memasak daging tersebut dengan Ust. Firman. yah.. tinggal berdua di Rumah Qur’an mulia Jatisari masaknya juga berdua. Dagingnya enak pokoknya ditumis kecap, ditambah lagi hiasan bawang goreng, huu… rasanya udah tidak sabar menyantap makanan tersebut. Yah.. mantap juga masakan ala Ust. Firman. Sebagai pencuci mulut setelah makan daging, ku belah buah semangka seberat 2,1 kg dengan isinya yang berwarna merah darah dan segar kelihatannya. Tiba-tiba dering HP berdering. Tidididididing…… terdengar dering HP itu dari jauh. Dengan tergesah-gesah aku berlari dari dapur menuju sumber bunyi dering HP itu, karena dalam pikiranku, itu telfon dari Ibuku, udah sekitar satu bulan belum berkomunikasi dengan mereka. Namun ternyata ketika HP itu ada dalam genggaman tanganku, ku lihat nama yang tertlihat jelas di layar HP itu “panggilan dari Satrio Rohis”. Yah… salah presepsi, ternyata bukan orang tua. Tapi, senang juga karena sahabat SMA masih kuat ikatan tali silaturahimnya. Alhamdulillah. “Assalamu alaikum” ku ucapkan salam dalam pembicaraan tersebut melalui HP. Dengan suara yang kecil, Satrio menjawab salamku “wa’alaikum Salam, antum ada di rumah Qur’an ngga?” Tanya Satrio. “iya, ana di Rumah Qur’an, lagi libur jadi ngga keluar-keluar”.jawabku. “boleh main ke sana ngga sekaligus  numpang Hammam ?”. Tanya Satrio lagi. (hammam itu kamar mandi dalm bahasa Arab) lumayan lucu juga mau numpang hammam katanya. Hehe..“o..iya sangat boleh Sat”. jawabku dengan lantang. “ok, tunggu ana ya” kata Satrio.
                Dalam putaran waktu sekitar 2 menit, terdengar suara bunyi motor di depan rumah. Yah.. sudah ku tebak itu pasti Satrio. Ku letakkan pisau dan buah semangka nan segar itu di meja dapur dan langsung menuju ke depan rumah. Dari jauh terlihat motor beat berwarna pink dengan dua orang lelaki yang berboncengan. Dalam pikiranku itu bukan Satrio karena sebelumnya belum pernah melihat Satrio menggunakan motor beat berwarna pink itu ke rumah Qur’an. Tapi, ketika sang 2 lelaki itu membuka helm, ku tatap muka lelaki itu yang nyetir motor. Sepertinya saya kenal orang ini “kata hatiku”. Yah..udah pasti itu adalah Satrio. Dan satunya lagi saya tidak mengenalnya, belum pernah melihatnya sebelumnya. “Assalamu alaikum, kenalin ini adik ana” kata Satrio, mengenalkan saya dengan adiknya. Tapi yah..saya lupa namanya siapa. Yang saya ingat adiknya Satrio masih duduk di bangku kelas 2 SMP yang tingginya lebih dari saya. Kalau diperhatikan dari muka dan ukuran tinggi badannya, adiknya Satrio seperti anak SMA lah. Ku ajak mereka berdua masuk ke dalam rumah. Tapi lucunya, pas mereka masuk rumah, Satrio mencari Hammam. Ya.. itulah tujuan utamnya ke rumah Qur’an, entah ia mau setor sesuatu atau apalah saya juga tidak tau. Langsung saya ajak Satrio ke Hammam, dengan terburu-buru, ia masuk ke dalam hammam. Sedangkan adiknya saya ajak ngobrol di ruang TV dan biasa juga ruangan itu digunakan ketika anak-anak menyetor hafalan Qur’an ke saya. “mari silahkan duduk”. Kataku saat mempersilahkan adik Satrio duduk di lantai yang bertikar warna kuning. Maklumlah ya, tidak ada kursi kodong. Kuhidangkan buah semangka yang berawarna merah darah nan segar itu di hadapannya. Namun, tampaknya ia masih terlihat malu-malu kucing, karena baru kenal denganku (Teman SMA kakaknya dan satu organisasi di ROHIS). Aneh, adiknya Satrio tidak mau duduk, seperti ada sebuah duri tajam dilantai sehinnga ia enggan duduk. Satrio datang dengan muka dan tangan yang basah. Ya, saya tebak dia sudah berwudhu. Dan kupersilahkan ia duduk di lantai sama seperti adiknya. Dengan senang hati, Satrio duduk dan bersandar di tembok berwarna kuning. Dan menegur adiknya yang sibuk mondar mandir dalam ruangan itu, “dek, duduk”. Kata Satrio. Tapi adiknya Cuma cengengesan aja dan tetap mondar mandir. “dek, bisa duduk tidak?”. Tanya Satrio kepada Adiknya.  Yah.. udah ciri khasnya kali, adiknya Satrio tetap cengengesan aja. Tapi sepertinya ia mengikuti kata kakaknya, ia duduk tepat di depan kakaknya. Banyak hal yang kami obrolkan dalam silaturahim ini. Intinya adalah membicarakan akan dunia hafidz. Yang awalnya Satrio silaturahim karena mau ke hammam aja. Alhamdulillah adik Satrio sudah menghafal 3 juz, sedangkan Satrionya sendiri saya kurang tau, karena ia tidak pernah mengatakan berapa juz ia hafal. Tapi intinya ia adalah seorang hafidz. Saking cintanya dengan dunia hafidz, ia mengundurkan diri dari kantornya sebagai notaris. Ia adalah anak yang hebat menurutku, kenapa?. Karena ia lebih mementingkan akhirat dari pada kepentingan dunianya. Satrio adalah alumni SMAN 7 Bekasi sama sepertiku. Betapa saya bersyukur punya sahabat baik seperti Satrio. Karena ia punya mimpi menjadi seorang hafidz.  Yang ia tanamkan adalah “ ketika ia mengejar dunia, hidupnya bisa aja sengsara di akhirat, tapi sebaliknya, jika ia mengejar  akhirat, maka dunia akan ikut”. Saya dapat mengambil hikmah dari semua ini. Satrio bercerita panjang lebar pengalaman kerjanya di depanku, tentang dunia kerja di kantor. Ku cap ia adalah anak yang hebat. Dan tidak jauh berbeda dengan adiknya yang cinta dengan dunia hafidz juga. Dalam pertengahan obrolan itu, Satrio dan adiknya bercanda penuh dengan canda tawa. Dan saya pun ikut tertawa. Sejenak itu, terlintas di benakku saat saya kecil dan duduk di bangku SD dan SMP. saya sering bercanda tawa dengan kakakku yang begitu baik terhadapku, mengajarku membaca Al-Qur’an dan hidup mandiri di pesantren. Saat ini, kakakku hanya terlihat dalam angan-anganku yang penuh dengan rasa kerinduan yang luar biasa karena terpisahkan oleh ruang dan waktu dan dibatasi oleh pulau Sulawesi. Sempat iri saat itu melihat Satrio dan adiknya bercanda dan tertawa terbahak-bahak. Namun, saya juga ikut tertawa dan terlihat  gembira di depan mereka. Meskipun kakakku nan jauh disana menunggu kesuksesan dan hasil perjuanganku di perantauan. Alhamdulillah banyak cerita hari itu yang kami obrolkan bersama. Yang awalnya alasan pertama Satrio hanya ingin numpang hammam katanya. Tapi merembet ke dunia hafidz dan sempat ia juga menceritakan cita-cita masa depannya. Jazakallah, Semoga sukses bareng di jalan Allah SWT. Amin.


  

Minggu, 05 Oktober 2014

ketika aku berbeda dengan mereka.

“KETIKA AKU BERBEDA DENGAN MEREKA”

Hidup ini kadang diartikan oleh sebagian orang adalah kehidupan yang sangat kejam. Mengapa mereka katakana seperti itu? Karena mereka tidak menyadari dan tidak mengerti arti sebuah kehidupan. Padahal, hidup sangatlah indah dengan selalu mensyukuri dan selalu beribadah kepada  Allah yang telah menciptakan kita serta mengerti akan perbedaan dalam hidup ini. Hidup miskin  atau pun kaya. Seperti itulah yang namanya hidup. Tidak mungkin kalau di dunia ini, semua orang menjadi pejabat. Kalau semua orang menjadi pejabat, siapa yang akan memanen padi, kopi, dan lainnya?. Itulah perbedaan yang harus kita terima dan dijalani.
Aku adalah anak yang terlahirkan dari keluarga yang sangat sederhana. Sejak umur  3-5 tahun, aku selalu melihat perbedaan yang selalu hadir menemani kekanak-kanakkanku. Mulai dari pakaian, uang jajan dan mainan. Semuanya terlihat berbeda dengan yang lain. Aku masih teringat saat SD Kelas 1-3. Ke sekolah dengan celana yang sobek, sepatu yang talinya dari tali rapiah, dan bahkan sepatuku dianggap oleh orang-orang sepatu yang terbuat dari kura-kura. Karena sepatu kananku lebar seperti kura-kura. Namun, hal itu tidak menggoyahkan semangatku dalam berjuang mencari ilmu pengetahuan. Demi keluargaku, khususnya Ayah dan Ibu serta saudara-saudaraku. Dengan puluhan butiran air mata yang terjatuh dari kedua mataku membasahi baju putihku. Kadang, ada rasa iri hati yang aku rasakan saat melihat teman-temanku jajan bakwang dan es pisang ijo di sekolah. Aku hanya duduk terdiam membisu di kelas tak punya uang untuk jajan seperti mereka. Kadang, perutku bernyanyi dan berteriak minta makan. Tapi, apalah daya kantong celanaku hanya terisi batu kecil mainanku. Hari-hari terus berlalu, perutku masih saja selalu berteriak minta makan. Karena orang tuaku tidak setiap hari memberiku uang jajan, akhirnya aku berinisiatif untuk membawa buah duku dan rambutan ke sekolah untuk mengisi perutku saat lapar.  Suara ledekan dan tawa yang bergelombang dan berbunyi nyaring yang selalu terdengar di kedua kupingku. “haha… pedagagng buah ke sekolah”. Kata itulah yang sering terdengar.
Kebiasaanku itu, terus aku bawa sampai selesai SD. Aku sadar dan aku mengerti akan perbedaan yang aku alami saat itu. Ayah dan Ibuku hanya seorang petani singkong, berangkat pagi pulang malam. Sedangkan orang tua teman-temanku penghasil cengkeh, kopi dan cokelat hingga mereka bisa jajan setiap hari di sekolah. Seiring dengan waktu yang berputar mengitari hidupku, aku berprinsip “Aku bisa lebih pintar dari kalian”. Dengan tekad dan semangatku yang kuat, aku bisa membuktikan  semua itu di kelas 4 SD dengan meraih juara kelas sampai tamat. Dan akhirnya aku juga bisa  menjadi ketua pramuka, ketua kelas, dan satu-satunya siswa SD di sekolah itu yang lulus MTQ tingkat kabupaten bulukumba. Aku melihat mata ibuku yang berkaca-kaca dalam pelukanku, dan akhirnya terpecahlah dan mengalir membasahi pipi ibuku melihat perbedaan dan perubahan yang aku miliki.

Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun. Membawaku duduk di bangku SMP podok pesantren Al-Furqan. Resiko yang harus aku terima adalah berpisah dengan orang tuaku. Kalau dikatakan rindu, yah… rindunya sangat luar biasa. Aku merantau bukan karena aku bosan hidup dengan orang tuaku dengan ekonomi yang tidak mendukung. Tapi, aku merantau di luar kota karena aku ingin menciptakan dan memberikan sesuatu hal baru bagi orang tuaku. Mereka tidak mengharapkan setumpuk uang dalam kesuksesanku, bukan segudang emas yang mereka minta dalam kesuksesanku, bukan juga sebatang perunggu yang mereka harapkan dalam kemenanganku. Tapi, yang mereka inginkan dariku adalah aku menjadi anak yang soleh yang selalu mendo’akan mereka. Karena do’a mereka yang selalu mengiringi setiap langkah perjuanganku. Aku tak ingin mengikuti sahabat-sahabatku yang telah terjerumus ke dalam hal yang tidak diharapkan oleh orang tuanya. Aku ingin memberikan yang berbeda dan yang terbaik kepada orang tuaku salah satunya adalah menjadi anak yang soleh dan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan pendidikan tanpa biaya 1 rupiah pun dari mereka. Saat kelas 3 SMP, aku ingin sekali sekolah di SMA Negeri seperti sahabat-sahabatku. Tapi, Ayahku tidak menerima keputusanku itu. Karena Ayahku tidak mampu untuk membiayaiku untuk  sekolah di SMA Negeri. Aku menangis dalam pelukan hangat ibuku, dan hatiku berteriak kencang “Ya Allah… mengapa aku harus berbeda dengan mereka,mengapa aku tidak sama dengan mereka   ya Allah…”. Setetes demi setetes, Kristal beningku mengalir dan menari di atas kerudung ibuku. Namun, Allah berkehendak lain. Dengan kekuasaan Allah, Allah berkehendak lain aku dapat beasiswa full pendidikan SMA di Jakarta dari yayasan muslim jabal haq. Akhirnya aku memilih itu, dengan restu orang tuaku, aku merantau dari Sulawesi selatan ke Jakarta. Aku ingin membuktikan bahwa aku lebih bisa dari mereka.

mimpi tidak tertulis

“MIMPI YANG TIDAK TERTULIS”

Setiap orang pasti punya mimpi. Karena mimpi itu adalah salah satu tujuan hidup yang harus kita capai. Mungkin tidak asing lagi kita dengar sebuah  kalimat “hidup tanpa mimpi bagai tak punya kaki”. Mimpi itu ibarat kedua kaki kita. Yang setiap hari melangkah dengan tujuan. For example adalah ketika kita ingin ke kampus dengan jalan kaki. Pasti arah kedua kaki kita adalah ke kampus bukan ke pasar. Mengapa demikian? Karena tujuannya adalah untuk ke kampus. So, yuk… kita bermimpi dari sekarang. Jangan sampai hidup kita ini tidak punya tujuan. Masa depan kita ada di tangan kita masng-masing bukan di tangan orang lain.Jangan takut bermimpi yang tinggi. Seperti dalam pepatah dikatakan “gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Artinya adalah bermimpi yang besar yang disertai dengan usaha yang keras dan besar pula agar mimpi tiu bisa tercapai.
Saya masih teringat bangat waktu masih SD. Mimpi saya waktu itu  adalah pengen jadi seorang Guru Matematika. Kenapa guru matematika? Kok bukan bahasa indnesia, bukan IPA? Mungkin pertanyaan itu terlintas di pikiran anda semua. Iya, karena saat itu saya punya Guru Matemetika favorit namanya Pak Sapir. Beliau itu adalah guru yang paling menyenangkan sewaktu saya masih SD. Cara mejelaskannya simple dan membuat saya cepat paham. Begitu pun dengan teman-teman yang lainnya. Mereka sangat senang dengan Pak Sapir. Hampir setiap ada tugas nilai saya 10 terus. Hmmm…membanggakan juga ya. Hehe.. itulah alasan pertama  saya ingin menjadi seorang Guru. Alasan yang kedua adalah di kampung saya yang namanya Guru adalah orang yang dianggap paling berhasil satu kampung. Why?? Do you know? Because di kampung saya 99% profesi mereka adalah PETANI. Wow….sangat jarang ada anak sekolah duduk  di bangku SMA. Rata-rata adalah tamat SD. Setelah itu mereka mengikuti jejak kedua orang  tuanya sebagai petani. Menyedihkan bukan?? Bangat!!!. Akhirnya saya punya keinginan kuat agar bisa melanjutkan sekolah di bangku SMP. Saya ingin menjadi berlian yang bersinar ditengah-tengah mereka ketika saya dewasa nanti. Akhirnya seiring dengan waktu yang berjalan. Saya duduk di bangku SMP Islam Terpadu pondok pesantren Al-Furqan Ereng-Ereng Kabupaten Bantaeng. Di pesantren itulah saya berusaha keras menjadi santri tauladan. Dan itu bisa saya capai. Alhamdulillah ya. Hehe.. dan bercita-cita ingin menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS). Kok berubah ya cita-citanya?? Why, ada apa??. Alasan pertama adalah saya suka baju LINMAS, keren bangat kelihatannya di kedua mata telanjang saya. Nah…alasan kedua adalah gajinya lumayan. Saya tau karena diceritakan oleh guru saya yang saat itu baru sebulan ia menjadi PNS. Kelihatan gagah, rapih dan…….pokoknya keren bangata deh.
Masuki tahun pun berganti, tidak terasa saya lulus SMP. Bingung saya harus lanjut kemana. Akhirnya saya pulang ke rumah dan berdiskusi sama kakak yang lebih berpengalaman dari saya masalah sekolah lanjutan atas. Kakak saya adalah lulusan MA Almurahamah Banyorang tidak jauh dari pesantren saya. Tapi sekarang tidak kuliah. Karena pas lulus SMA dinikahkan paksa sama orang tua saya dengan seorang laki-laki yang tidak dikenalnya. Haduhhh…kasihan ya. Ok.. lanjut ya…. Saya ngobrol dengan  kakak saya di ruang tamu dengan kursi berwarna merah. Bla..bla..bla..bla.. berlansunglah obrolan saya dengan kakak. Akhirnya saya dan kakak memutuskan lanjut di SMK 1 bulukumba jurusan Akuntansi. Wooww…akuntansi?? Pada hal saya tidak tau apa itu akuntansi?. Yah…itu keinginan kakak saya ngambil jurusan akuntansi. Alasannya adalah karena teman kakak sekolah di SMK 1 Bulukumba, saat duduk di bangku kelas 2 SMK Udah dapat gaji 2 juta perbulan. Sempat kaget saya saat itu. Anak kelas 2 SMA udah dapat gaji. Hebat.. cacaca…
Nah … setelah itu saya ngobrol dengan kedua orang tua. Ditengah pembicaraan saya, Ayah memukul meja dan membuat saya kaget. Whyyy?? Apa yang salah dalam perkataan saya. Saya bingung dan sempat mengingat lagi apa yang telah keluar dari mulut saya. Tapi, spertinya tidak ada yang salah dalam kata-kata saya. So, kenapa ayah marah kaya gini?? I don’t Know juga. Huffttt,,, Ayah ngomomg dengan suara yang lantang “Risal!! Kamu mau ngapain sekolah di SMK 1 Bulukumba, mau jadi apa kamu nanti setelah lulus, mau jadi pa’bambong??!! Atau mau jadi preman kaya anak-anak yang lain??!!”. Haduh… saya saat itu gemetaran mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tumben bangat dimarahin sama Ayah gara-gara pengen sekolah di SMK 1 Bulukumba. Kak Nurmi memberanikan diri dan angkat bicara “maui tawwa jadi seorang akuntan Ayah, supaya besar nanti gajinya”. “oo… begituji? Untuk apa jadi seperti itu? Cari uang? Banyakji juga sarjana ekonomi yang menganggur, mauko juga seperti itu??”. Ayah semakin marah. Akhirnya kak Nurmi tak mampu berbicara lagi.” Keputusannya adalah Risal tetap lanjut di pondok pesantren Al-Furqan supaya nanti bisa menjadi seoarang ulama besar”. Itulah keinginan Ayah saya. Dan saya sempat kaget juga saat itu, karena harus lanjut sekolah di pesantren. Huffttt,,,, bikin malesss. Tapi mau gimana lagi, saya tetap mengikuti keinginan sang Ayah.
Tapi, ternyata Allah punya rencana yang lain. Saya dapat beasiswa SMA di Jakarta. What?? Saya senang bangat saat itu, Jakarta????? Wooww,, bisa ketemu artis dong. Hehe… ketika Ayah saya tau kalau saya dapat beasiswa, beliau pun setuju dan sangat senang. Akhirnya saya berangkat ke Jakarta tepat  pada tanggal 25 juni 2011. dan saya sekolah di SMA Negeri 7 Kota Bekasi. Nah… di perantauan inilah saya banyak perubahan. Terutama adalah  berani bermimpi yang besar. Ketika ditanya “mimpi kamu apa?” saya jawab MENTERI KEUANGAN RI. Wow, keren bangat kan. Begitu pun dengan teman-teman yang lain. Ada yang mau jadi bupati, ahli perminyakan, musisi, pilot dan bermacam-macam deh pokoknya. Yang awalanya cita-cita menjadi ustadz, ketika di MJH semuanya berubah. Meazing benar dah…

Tiga tahun berjalan, akhirnya lulus SMA dan di yayasan dengan hasil yang sangat memuaskan. Alhamdulillah ya,, hehe… so, berikutnya apa?? Saya ikut selekesi  nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN), hasilnya adalah GAGAL TOTAL, nah… setelah itu saya coba lagi ikut Seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN), Saat itu saya daftar di UI dan UNPAD jurusan Satra Arab. Hasilnya gimana?? GAGAL TOTAL LAGI. Bingung deh saat itu mau kemana, awalnya saya punya cadangan kuliah di Universitas Muhammdiyah Yogyakarta (UMY).. Saya diterima melalui jalur PMDK. Tapi, pas mau daftar ulang, izin ke Mami. Hasilnya gimana? Hmmm… yah menyedihkan deh, diomelin karena terlalu jauh. Akhirnya UMY juga GAGAL TOTAL. Dah berapa tuh gagal total?? Hah,, dah banyak. Akhirnya cita-cita saya saat itu udah ngambang deh pokoknya alias udah ngga jelas. So, saya berdo’a minta petunjuk apa yang harus saya lakukan berikutnya. Tak pernah bermimpi sebelumnya ngambil jurusan agama, akhirnya saya daftar di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) yang letaknya di Jakarta Selatan. Hasilnya apa?? GAGAL TOTAL. Hadeh… saya tidak putus asa, terus mencari kampus yang cocok buat saya.  Daftar lagi di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) di Jakarta Selatan. Hasilnya gimana?? Tidak lain dan tidak bukan GAGAL TOTALLL….gagalnya bukan karena tidak diterima, tapi mahanyal itu loh..Saya sempat bingung mau gmana lagi saat itu. Eh..tiba-tiba Ibu Marwati nawarin tinggal di day care nya dan biaya kuliah saya ditanggung sama beliau. Tapi kuliahnya di Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Darul Hikmah ngga jauh dari yayasan. Hufftt,, bingungnya saya minta ampun saat itu. Gimana ngga bingung coba. Kuliahnya gratis, tapi kampusnya itu loh, sederhana bangat ngga jauh beda dengan sekolah saya waktu di pesantren. aduhh,,, gitu amat. Yah.. maklumlah saat itu saya masih gengsi. Akhirnya saya ngga mau alias GAGAL LAGI. So, setelah itu gimna??. I DON’T KNOW. Udah terlanjur bingug. Acara perpisahan di yayasan pun tiba, dala acara tersebut, saya sempat curhat sama kak Firman (Guru tahfidz saya waktu di MJH). “Udah, kamu tidak usah bingung, kalau mau kamu kuliah di STIU aja dan tinggal di Rumah Qur’an bareng kakak, kakak jamin hidupmu pasti terjamin dan lebih tenang”. Kata Kak Firman. Hah, STIU?? Hmm.. saya jadi kaget saat itu, kok setiap ada orang yang mau bantu STIU mulu ya ngomongnya. “tapi kak, nanti setelah lulus saya kerja apa, kan jurusannya Tafsir Hadits”. Kata saya. “ Risal, kamu  kuliah cari ilmu atau kerja?” Tanya kak Firman Saya jawab dengan suara yang amat kecil  “cari Ilmu kak”. “Risal, perlu kamu tau, bahwa orang yang berjalan di jalan Allah, hidupnya tidak akan sengsara, apa lagi kamu punya bakat di bidang agama dan juga punya bekal hafalan qur’an” kata kak Firman. Saat itu, saya tersadar dan merenung kembali keinginan dan harapan Ayah saya. Akhirnya dengan niat kuliah karena Allah saya daftar kuliah di STIU dan alahamdulillah diterima setelah mengikuti tes Agama Islam dan Bahasa Arab. Tidak GAGAL LAGI. Hehe.. seminggu kemudian saya pulang kampung, dan apa yang terjadi ?? orang-orang di kampung menganggap saya adalah seorang ustadz, dan diundang ceramah ke sana dan ke sini. Dan tidak ketinggalan lagi, diangkat menjadi Imam Masjid. Hufftt,,,, saya sangat bahagia saat itu, apa lagi orang tua saya. Akhirnya dari situlah saya sadar akan karunia Allah dan ilmu yang diberikan kepada saya. Meskipun sedikit ilmu agama yang saya milki, tapi semua itu bisa bermanfaat. Sebulan lamanya saya jalani hidup  di kampung halaman seperti 3 tahun yang lalu. Tepat pada tanggal 7 Agustus 2014, saya terbang kembali ke Jakarta untuk menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an. Menjadi mahasiswa STIU jurusan Tafsir Hadits, dan juga menjadi seorang guru tahfidz Al-Qur’an dan tajwid di berbagai lembaga (MJH, rumah qur’an jatisari, SD Qur’an, dan TK Al-Mubarok”. Di lembaga itulah saya mengajar sekarang. Bersyukur karena Allah memberi  saya kesempatan untuk berbagi ilmu Al-Qur’an. Semua itu saya capai tanpa saya tulis di sebuah kertas bahwa saya ingin menjadi seorang guru tahfidz Al-Qur’an dan Tajwid. Semua ini adalah skenario Allah yang harus saya ikuti. Allahu Akbar..