Jumat, 19 Juni 2015

Ramadhan Yang Berbeda


Alhamdulillah, itu kata yang paling the first bangat kita ucapkan. Karena sampai detik ini Allah masih memberi nikmat sehat untuk berpuasa di bulan suci ramadhan ini. yapp, hari ini udah masuk hari ketiga melaksanakan puasa. Puasa 2 hari yang lalu tentunya kita berharap dapat diterima disisi Allah SWT. Amin.. J



Kedatangan bulan suci Ramadhan adalah satu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat Islam se-dunia. Gak di Amerika, Afrika, India dll dll semuanya bergembira ria dan bahagia dengan kedatangan bulan suci Ramadhan ini. bagaimana tidak, bulan ini adalah bulan dimana diturunkannya kitab suci Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat Islam, bulan penuh berkah, bulan yang penuh dengan ampunan dll. Ramadhan memang bulan yang sangat istimewa dan nikmat rasanya. Yang paling nikmat adalah ketika waktu berbuka puasa. Huuu…subhanallah rasanya benar-benar nikmat. Hari-hari pun selalu disertai dengan lantunan bacaan ayat suci Al-Qur’an. pokoknya Ramadhan adalah bulan yang paaaling the best. Ahay…J

Tapi, hehe…ada tapinya ya. Bulan Ramadhan kali ini  rasanya  berbeda bagi saya. Perbedaannya bukan d karena gak nikmatnya puasa, bukan karena gak nikmatnya saat berbuka puasa dll. Tapi, yang bikin berbeda adalah awal Ramadhan tahun ini gak bersama dengan keluarga khususnya orang tua. Pada hal, ketika mengingat setahun yang lalu, Ramadhan itu semakin indah, semakin nyaman dan lengkap rasanya dengan keluarga tercinta. Memasuki 3 hari Ramadhan ini, orang tua, kakak, dan sanad keluarga yang lainnya serta kampung halaman selalu datang menghantui dan memanggilku untuk kembali menikmati Ramadhan ini dengan mereka. Tapi, sayang sejuta sayang tanggung jawab harus ditunaikan di perantauan ini yang menjadi salah satu alasan gak pulang kampung diawal Ramadhan ini. ketika senja mulai terbenam, teringat dengan Ibu yang sibuk menyiapkan ta’jil untuk berbuka puasa dan makan malam. Juga teringat dengan kamar tidur di rumah yang biasanya saya melantunkan bacaan ayat suci Al-Qur’an. ketika adzan Maghrib, teringat dengan semuanya.  Ibu, Ayah, kakak, tetangga, pokoknya SEMUANYA. Jikala dikumandangkan adzan isya, teringat tahun lalu saat saya selalu deg degan mau jadi imam tarawih dan ceramah. Jikalau selesai menunaikan shalat tarawih, teringat kebiasaan pulang shalat tarawih mampir makan bakso dulu sama kakak dan keponakan. Saat sahur pun tiba, huffttt disinilah rasa hampa dan sedih itu meluap tapi saya pendam. Gak ada nafsu makan, yang alasannya karena teringat keluarga setahun yang lalu sahur bareng. Tapi kali ini tidak,, sahur kali ini bareng dengan kakak-kakak Rumah Qur’an yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri. Mereka baik, lucu dan selalu menghibur dan membuat saya tertawa. Hehe…

Kalau dibandingkan dengan 3 tahun berturut-turut di MJH, Ramadhan bareng dengan sahabat-sahabat seperjuangan sang pearantau dari pelosok Sulawesi selatan. Gak pernah saya merasa sepi dan ingat keluarga sampai segininya. Gak pernah!!, yapp, mungkin itulah kekuatan kekeluargaan dengan anak-anak MJH. Mereka seperti saudara sendiri, kompak, dan keren-keren. Tapi saat ini pun, udah berpisah. Udah pada sibuk dengan urusannya masing-masing dan sulit untuk ngumpul-ngumpul lagi. Tapi gak apa-apalah, demi meraih cita-cita masing-masing.

Love you all may family. Father, mother, sister, grandfather, grandmother and hometown. Udah gak sabar pengen ketemu kalian L. And also in love with you all MJH boys. Missed by our togetherness at MJH for three years.

Saat ini, menunggu hari untuk terbang ke bulukumba ………ahay…Bulukumba, Balleangin I will return again. I wait two juli yes J..

Senin, 13 April 2015

Tetesan Air Mata untuk Ibu


Hari selasa, hari yang seperti biasa. Matahari bersinar cerah, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing, jalan yang  diramaikan oleh kendaraan serta orang-orang pejalan kaki yang memulai aktivitas mereka dihari selasa pagi. Tidak diherankan jika hari selasa itu ramai karena hari selasa adalah hari yang digunakan untuk beaktivitas. Mulai dari anak TK sampai ke pejabat-pejabat Negara. Beda dengan saya pribadi yang berprofesi sebagai Guru TK sekaligus Mahasiswa di STIU Darul Hikmah Bekasi. Hari selasa bukanlah hari untuk beraktivitas seperti dalam jadwal orang-orang yang bekerja di kantor, perusahaan dan lain-lain. TK tempat saya mengajar tetap masuk sekolah, tapi saya yang mengajar Al-Qur’an di TK tersebut hanya diberi jadwal mengajar 3 hari dalam seminggu (senin, rabu dan jum’at). Kenapa? Karena saya diberi amanah untuk mengajar Al-Qur’an secara klasikal (seluruh kelas) jadi mulai dari play grup sampai ke TK B semua belajar Al-Qur’an dengan saya dalam satu kelas mula dari pukul 08.00 s/d pukul 09.00 pagi. Hari selasa dijadwal adalah hari libur buat saya. Tapi bukan berarti dihari itu saya hanya tinggal diam di rumah Qur’an, nonton you tube dll. Tapi hari itu saya tetap  menyusun jadwal sendiri mulai dari bersih-bersih rumah, muroja’ah dan nambah hafalan, belajar, menulis, menghafal hadits dan lain-lain. Intinya adalah mulai dari terbit matahari sampai masuk waktu dzuhur selalu saya usahakan untuk mengisi hari kosong itu dengan kegiatan yang bermanfaat. Karena sempat berfikir juga, kalau hari libur kita gunakan dengan hal-hal yang kurang bermanfaat bagaimana dengan masa depan kita, saya tidak mau jadi orang yang biasa-biasa saja. Masih ingat dengan kata-kata Mami Dibha Jjangan mau jadi orang biasa, jadilah orang yang luar biasa”. Itu yang menjadi prinsip dalam hidup saya saat  ini.

Kembali lagi ke hari selasa, hari itu selain kegiatan bersih-bersih rumah dll, saya telfon orang tua mumpung ada waktu yang luang. Pulsa sudah saya siapkan 3 hari yang lalu khusus nelfon orang  tua di kampung. “tiiikkkkk,,, tiiikkkk, tiiikkkk,” bunyi handphone saya ketika menghubungi orang  tua. Tapi tidak ada jawaban. Ku coba lagi untuk memanggil yang kedua kalinya “tiiikkkk, tiiiikkk, tiiikkkk” sama, masih tetap tidak ada jawaban. Ku coba lagi yang ke tiga kalinya “tiiikkk, tiiikkk, tiiikkk” tetap sama, tidak ada jawaban. Akhirnya saya menyerah dan berpikir “mungkin Ibu dan Ayah lagi kerja di kebun”. Kata itu yang tersirat dihati saya. Akhirnya saya menelfon kakak panggil saja kakak A. “tiiikkkk, tiikkk, tiiikkk” hanya beberapa detik kak A memberi  jawaban “halo, Assalamu alaikum” terdengar suara lembut kak A. Dan langsung saya jawab “wa’alaikum salam, bagaimana kabarta kak, sehat-sehat jaki? Mama sama Aji sehat juga ji toh?”. Tanya saya kepada kak A. “iya dek, baik-baik semua ji orang-orang disini, sehatji semua” jawab kak A. Rasa lega menyelimuti saya mendengar jawaban dari kak A. “Alhamdilillah” tidak ada yang harus dikhawatirkan semuanya baik-baik saja. Seketika itu Kak A melanjutkan pembicaraan. Ini adalah pembicaraan yang hangat dan sempat meneteskan beberapa butir air mata saya.  Ia menceritakan akhlaq salah satu kakak saya yang selama ini dikenal sebagai seorang lelaki yang rewa (bahasa konjo yang artinya nakal, sok kuat, galak). panggil saja kakak B. Ia memang nakal sejak dari kecil, tidak pernah mau belajar semenjak duduk dibangku SD. Sehingga ketika ia duduk di kelas 5 SD ia memutuskan pendidikannya dan menjadi anak pa’bambong. Bahkan dulu ia pernah dipenjara selama 6 bulan karena mencuri biji cokelat orang yang dijemur dijalan. Sampai saat ini akhlaqnya makin buruk, bahkan ia berani melawan orang tua saya. Berkomunikasi dengan handphone sama kak A dengan kalimat yang ia sampaikan yang sempat menghentikan jantungku berdetak kalimatnya kurang lebih seperti ini “Dek, kak B sekarang makin buruk akhlaqnya. Ia berani melawan Ibu sama Ayah Dek. Bahkan kakak B sudah tidak mau lagi makan bareng dengan Ibu dan Ayah. Katanya Ibu dan Ayah bau dan udah tua jadi kakak B jijik makan bareng sama Ibu dan Ayah. Setiap pagi Ibu bekerja di kebun jadi gak sempat meyiapkan sarapan pagi. Ketika kakak B ke dapur dan gak ada makanan, ia menendang panci, wajan dan apa saja yang ada di dekat kakinya ditendang semuanya seperti bola sambil marah-marah karena ibu gak sempat menyiapkan sarapan pagi untuknya. Tapi kan dia udah punya istri, tapi sayang sejuta sayang istrinya gak bisa masak apa-apa, goreng pisang aja istrinya gak bisa. Kakak B juga pernah berkata seperti ini dek “walah…saya tidak punya Ayah yang bau, itu Ayahnya  Risal Ayah yang bau”. Kakak sedih dek denger kata-kata itu. Bahkan dia sudah tidak menganggap lagi orang tua kita karena udah tua katanya. Bahkan yang paling menyakitkan dia berkata kayak gini “ibu mah kalo dah tua dijadiin pembantu aja”. kaka sedih dek”.


Mendengar penjelasan itu saya langsung lemas dan tidak berdaya. Ku tatap kosong jendela di sebelah kananku, saya berlutut saat itu dan tidak berdaya. Tanganku bergetar kencang, darahku seakan berhenti mengalir mendengar pejelasan itu. Bibirku bergetar, mulutku terkunci tak bisa mengeluarkan kata-kata, mataku tak mampu lagi menampung air hingga air itu mengalir dipipiku dan membasahi bajuku. Saya biarkan air mata itu menetes sesukanya, biarlah ia menari-nari dipipiku. Seketika itu saya langsung mematikan handphone. Saya duduk lemas dilantai sambil menatap kosong ke arah jalan yang mulai sepi. Air mataku terus mengalir. Bayangan Ibu dan Ayahku seakan hadir mengusap air mataku saat itu. Dalam hatiku berkata “ya Allah ada apa dengan semuanya, apa yang terjadi pada kakakku sehingga ia rela menyakiti orang tua saya sekaligus orang tuanya sendiri. Pada hal selama ini Ibuku tetap menyayanginya ya Rabb. Tapi kenapa ia setega ini. ampunilah kakakku ya Allah, berilah ia hidayah agar ia kembali ke jalanmu dan mencintaimu serta mencintai Ayah dan Ibuku. Satu hal yang aku pinta kepadamu ya Allah. Kuatkan Ibu dan Ayahku untuk menghadapi anaknya, teguhkan hatinya ya Allah”.  

Hari-hari berlalu, saya masih terpikir dengan orang tua di kampung. Dan hati selalu bertanya-tanya “kapan kakakku dapat hidayah untuk bertaubat?”. Tapi aku berusaha melalui hari-hari di perantauan ini dengan tetap tersenyum. Orang tua tetap selalu hadir dalam setiap do’a dan dalam sujudku. Seminggu kemudian, saya menelfon Ibu  di kampung. “tiiiikkkk, tiiiikkk, tiiikkk,”gak ada jawaban. saya tidak menyerah. Saya telfon lagi yang ke dua kalinya “tiiikkk, tiiiikkk, tiiiikkk,” masih tidak ada jawaban juga. Rasa khawatir datang menyerbuku saat itu. Khawatir dengan orang tua bagaimana keadannya sekarang. Akhirnya saya mencoba lagi untuk menelfonnya yang ke  tiga kalinya “tikkkk, tiiikkk, tikkkk” beberapa detik terdengar suara lelaki tua dihandphone saya iya itu suara Ayah saya. Alhamdulillah “halo, halo, halo” saya langsung menjawab “iya, halo Assalamu alaikum”. Ayahku menjawab “Wa’alaikum salam, bagaimana kabarta nak?” tanya Ayahku. Saya terdiam sejenak saat itu, menghapus air mata saat mendengar kalimat dari Ayah. “Wa’alaikum salam, Alhamdulillah sehat-sehat ji Aji. Kita iya bagaimana kabarta?” tanyaku pada Ayahku. “baik-baikji nak, tapi mamamu lagi sakitki kasian 3 harimi. Tidak bisa bangun, shalat saja shalat berbaring”. Kata Ayahku. Saya menghembuskan nafas dengan keras. Ibuku sakit? Kali ini saya berusaha kuat dan berbicara seperti biasa meskipun air mataku tetap mengalir. Saya tanyakan penyakit apa yang menimpa ibuku. Tapi  Ayah  juga gak tau karena tidak pernah periksa kesehatan ke dokter. Yappp, saya tetap berusaha kuat. Saya berusaha berbicara seperti biasa dan meminta Ayah untuk mengantar Ibuku ke dokter. Cari tau sakit apa yang dideritanya. 3 hari ibuku sakit, Ayahku pun 3 hari tidak bekerja di kebun karena menemani Ibu yang lagi terbaring sakit. Pada hal kerjaan Ayah numpuk. Memupuk cengkeh, mencangkul, merawat jagung dan membuat gula merah. Tapi 3 hari ini Ayahku tidak bekerja dulu karena menemani Ibu yang lagi sakit. Di rumah ada kakak B, tapi dia tidak pernah mau tau bagaimana keadaan ibuku. Ia tidak pernah menyempatkan waktunya untuk ke kamar Ibu yang lagi sakit. Ia hanya sibuk dengan urusan pribadinya sendiri dan mengabaikan Ibu kandungnya sendiri yang sedang sakit. Sedih,, ya seperti itu yang saya rasakan. Di rumah Ibu lagi sakit yang hanya dirawat oleh Ayah.

Do’a yang selalu ku persembahkan untuk orang tua. J. Syafakillah Ibu.

Rabu, 18 Maret 2015

Cara Para Sahabat Mendapatkan Hadits dari Rasulullah SAW.


Para pembaca yang InsyaAllah dirahmati Allah SWT. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa dalam Agama Islam, segala macam hukum diambil dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Al-Qur’an adalah sumber hukum yang paling nomor satu dalam Islam dan hadits adalah sumber hukum kedua dalam islam, kemudian ijtihad para sahabat Nabi kemudian Ijtihad dari para ulama. Maksudnya adalah ketika ada hukum Islam yang tidak ditemukan dalam Al-Qur’an, maka beralih ke hadits, jika dari hadits juga tidak ditemukan, maka beralih ke Ijtihad sahabat, jika Ijtihad sahabat juga tidak ditemukan, maka beralih ke IJtihad para ulama. Begitulah sumber-sumber hukum dalam Islam. Yang perlu saya garis bawahi adalah HADITS NABI. Hadits? Bukan sebuah kalimat yang asing lagi dalam Islam. Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW Baik dari perkataan, perbuatan, dan taqrirnya. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara sahabat mendapatkan Hadits dari Nabi? Nah… mungkin pertanyaan ini yang masih belum terjawab bagi para pembaca. Sebelum saya memberikan jawaban, alangkah baiknya jika saya membuat point-point saja mulai dari antara Rasulullah dengan sahabat sampai ke semangat para sahabat dalam menerima dan menyampaikan hadits .

    1.      Rasulullah dan Sahabat

Para sahabat adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW. Mereka merupakan generasi terbaik umat ini dan terdepan dalam membawa Islam kepada kejayaan. Mereka merupakan manusia yang palin tau tentang Nabinya yang merupakan contoh manusia terbaik serta qudwah dan ushwa dalam kehidupan sehari-hari. Para sahabat sangat memperhatikan apa pun bentuknya yang berkenaan dengan Rasulullah SAW berupa perktaannya, kehidupannya dan yang paling penting yang berkenaan dengan hukum-hukum Islam. Disamping sebagai Nabi, Rasulullah juga merupakan panutan dan tokoh masyarakat. Beliau pun sebagai pemimpin, bagian dari masyarakat, panglima perang, kepala rumah tangga, teman, maka tingkah laku, ucapan dan petunjuknya dianggap ajaran untuk berdialog dengan sahabat sebagai media, dan para sahabat juga memanfaatkan hal itu untuk lebih mendalami ajaran Islam.

2.  Penerimaan dan penghafalan Hadits oleh sahabat

Umar r.a Berkata “Aku dan seorang tetanggaku dari kaum Anshar di Bani Umayyah Bin Zaid, saling bergantian datang kepada Rasulullah SAW. Sehari dia datang, sehari aku yang datang. Bila aku yang datang aku ceritakan kepadanya tentang wahyu yang lainnya pada hari itu. Demikian juga ketika dia yang datang akan melakukan hal itu”. Para sahabat yang sudah menerima hadits-hadits dari Nabi, sebagian besar menghafalnya, dan hanya beberapa yang menulis hadits dalam buku. Sebab itu kebanyakan sahabat menerima hadits melalui mendengar dengan hati-hati apa yang disabdakan Nabi. Ketika menghafal terekamlah lafal dan makna itu dalam sanubari mereka. Mereka dapat melihat langsung apa yang Nabi kerjakan. Atau mendengar pula dari orang-orang yang mendengarnya sendiri dari Nabi, karena tidak semua dari mereka pada setiap waktu dapat mengikuti dan menghadiri majelis Nabi. Kemudian para sahabat menghafal apa yang diperoleh dari sabda-sabdanya dan berupaya mengingat apa yang pernah Nabi lakukan, untuk selanjutnya disampaikan kepada orang lain secara hafalan pula. Diantara sahabat yang mencatat hadits yang didengarnya dari Nabi SAW antara lain Abu Hurairah yang meriwayatkan hadits (dalam kitab-kitab hadits sekarang) sebanyak 5.375 buah hadits.

3.  Cara sahabat menerima hadits

Masuk pembahasan inti . berikut adalah cara para sahabat menerima hadits dari Nabi SAW.

a.       Majelis-majelis Rasulullah SAW
Para sahabat selalu mendatangi majelis ilmu yang diselanggarakan Rasulullah SAW. Beliau pun selalu menyediakan waktu untuk mengajar para sahabat dan juga mengkhususkan waktunya untuk majelis kaum wanita. Beliau mengajar dan memberi fatwa kepada mereka. Jika ada seorang sahabat absen, sahabat lain yang hadir akan memberitahukan pengajaran yang didapat. Bahkan banyak sahabat yang diam-diam memperhatikan kehidupan Nabi meskipun harus bertanya kepada istri-istri beliau.

b.      Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada diri Rasulullah SAW.
Rasulullah sendiri yang mengalami persoalan. Kemudian memberitakan kepada sahabat. Sahabat lain yang mendengar langsung mnyampaikan lagi pada keluarganya dan sahabat lainnya. Sehingga sabda Nabi ini cepat tersebar luas. Jika yang hadir sedikit, Rasulullah memerintahkan agar yang tidak hadir diberitahu atau dengan Rasulullah mengirimkan orang untuk dikabarkan hukum itu dikalangan masyarakat. Sebagai contoh ada riwayat Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah melewati seorang yang menjual makanan. beliau menanyakan bagaimana ia menjualnya. Ia pun memberitahu hal itu kepada beliau. Kemudian beliau mendapatkan wahyu, agar beliau memasukkan tangan ke dalam tumpukan makanan itu. Ternyata bagian dalam “tidak termasuk golongan kami, orang yang menipu”.
Kadang-kadang Rasulullah melihat atau mendengar seorang sahabat melakukan kesalahan, kemudian beliau meluruskan kesalahannya dan menunjukkan yang benar.

c.       Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kaum muslimin
Berkenaan dengan ini mereka menanyakan kepada Rasulullah. Beliau kemudian memberikan fatwa dan memberikan jawabannya kepada mereka, menjelaskan hukum yang mereka tanyakan. Di antara sekian peristiwa ada yang berkaitan dengan permasalahan pribadi penanya dan ada yang  berkaitan dengan orang lain. Semuanya merupakan permasalahan yang terjadi dikalangan masyarakat luas. Kita bisa melihat sahabat tidak merasa malu sedikit pun untuk menanyakan hal-hal tersebut. Merekalah justru bergegas datang kepada Rasul. Hal itu mereka lakukan agar mereka dapat mengetahui hakikatnya yang dapat membuat hati mereka tenang dan dada mereka sejuk. Kadang-kadang juga ada yang merasa enggan dan malu menanyakan persoalannya, tetapi sahabat yang lain memaksanya untuk bertanya kepada Rasulullah.
Para sahabat yang menanyakan persoalan pribadi ataupun persoalan keluarga mereka juga tidak menutup-nutupi pertanyaan Nabi. Tentang muamalah, ibadah, aqidah, dan persoalan mereka lainnya.
Kadang-kadang ada dua pihak saling bertikai mengenai suatu masalah atau bersilang pendapat tentang suatau hukum. Maka keduanya segera menghadapa Rasulullah untuk meminta penegasan dan penjelasan yang sebenarnya. Jawaban-jawaban, fatwa-fatwa dan persoalan-persoalan menjadi materi yang besar dalam beragam bab kitab-kitab sunnah Rasulullah SAW. Karena merupakan bagian dari kehidupan penanya, bahkan terkadang merupakan peristiwa unik sepanjang hidupnya.

d.      Berbagai persistiwa dan kejadian disaksikan para sahabat, bagaimana Rasulullah melaksanakannya.
Jenis ini sangat banyak jumlahnya, misalnya tentang shalat, puasa, haji, saat bepergian, saat di rumah dan hal-hal lain yang beliau kerjakan. Mereka kemudian memindahkan kepada Tabi’in yang kemudian menyampaikannya kepada generasi sesudah mereka. Semua itu membentuk sejumlah besar materi sunnah, khususnya berkenaan dengan bimbingan beliau mengenai ibadah dan muamalah serta jejak beliau.
Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa sunnah para masa Nabi SAW juga dihafal para sahabat, berdampingan dengan hafalan mereka terhadap Al-Qur’an. meskipun jumlah yang dihafal para sahabat berbeda-beda jumlahnya ada yang “Al-Muktsir” (yang terlalu banyak) dan ada pula di antara mereka yang “Ak-Muqil” (yang terlalu sedikit). Oleh karena itu kami tegaskan bahwa mereka telah bergumul dengan sunnah dan menghafalnya dengan cara yang sangat baik serta menyampaikannya kepada generasi setelah mereka, yaitu Tabi’in.

    4.   Semangat para sahabat dalam menerima dan menyampaikan hadits

Minat yang besar para sahabat Nabi untuk menerima dan menyampaikan hadits disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:
a.       Dinyatakan secara tegas oleh Allah, bahwa Nabi Muhammad adalah panutan utama (uswah hasanah) yang harus diikuti oleh orang-orang yang beriman dan sebagai utusan Allah yang harus ditaati oleh mereka. Allah berfirman “sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu” (QS. Al-Ahzab: 21)
b.      Allah dan Rasulnya memberikan penghargaan yang tinggi kepada mereka yang pengetahuan (ilmu Islam khususnya). Seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an “adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?, sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.(Qs. Az-Zumar: 9).
c.       Para sahabat berusaha memperoleh ilmu yang banyak yang pada zaman Nabi, sumber pengetahuan adalah Nabi sendiri.
d.      Nabi memerintahkan para sahabatnya untuk menyampaikan pengajaran kepada mereka yang tidak hadir. Nabi menyatakan bahwa boleh jadi orang yang tidak hadir akan lebih paham dari pada mereka yang hadir mendengarkan dari Nabi. Perintah ini telah mendorong para sahabat untuk menyebarkan apa yang mereka peroleh.

Para pembaca yang dirahmati Allah, hanya itu yang dapat saya paparkan berkenaan dengan metode para sahabat dalam menerima hadits dari Nabi SAW. Semoga bermanfaat. Kritik dan saran yang bersifat membangun saya sangat terbuka dan berterima kasih.

Syukron wa Jazakumullah khair.

Sabtu, 07 Maret 2015

Aku Santri Rumah Qur'an


Dua minggu ini, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Yayasan Rumah Qur’an Mulia (RQM) Jatisari menjalankan sebuah program yang tentunya bermanfaat bagi para santri Rumah Qur’an. diantaranya adalah Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) dan pengumuman juara selama bulan Februari 2015 serta penerimaan hadiah. Saya garis bawahi untuk pengumuman juara. Ada tiga hal penting penilaian bagi santri Rumah Qur’an untuk berhak mendapatkan juara tiap bulannya. Yang pertama adalah kehadiran, yang ke dua adalah akhlaq dan yang ke tiga adalah nmenulis ayat-ayat pilihan dan hadits Nabi. Untuk meraih nilai yang maksimal, santri Rumah Qur’an prestasinya naik turun. Ada yang bulan lalu juara 3, bulan ini turun menjadi juara 5. Ada yang bulan lalu juara 5, bulan ini juara 3. Prestasi mereka memang naik turun. Sebenarnya, ada dua hal penilaian yang  membuat prestasi mereka naik turun yaitu masalah kehadiran dan akhlaq. Tapi, yang paling diprioritaskan adalah AKHLAQ. Karena prinsip yang ditanamkan adalah masalah akhlaq. Percuma menghafala Al-Qur’an kalau akhlaq terhadap orang tua, Guru, teman tidak karuan atau bisa dikatakan buruk. Yang  diharapkan dari para Santri Rumah Qur’an adalah menjadi penghafal Al-Qur’an dan berakhlaq yang mulia kepada semua orang. Sehingga salah satu program yang diadakan oleh Yayasan Rumah Qur’an adalah mengadakan acara MABIT untuk membentuk akhlaq Santri menjadi akhlaq yang mulia. Acara MABIT merupakan salah satu acara yang sangat disenangi oleh santri Rmah Qur’an karena dengan acara itulah kebersamaan mereka terjaga dan berprinsip bahwa “AKU SANTRI RUMAH QUR’AN”. They always spirit Al-Qur’an dan menganggap bahwa Rumah Qur’an adalah rumah mereka untuk menghafal Al-Qur’an, belajar lmu Agama dan MABIT serta acara-acara lainnya yang diprogramkan oleh yayasan Rumah Qur’an. intinya prinsip mereka adalah “AKU SANTRI RUMAH QUR’AN”.



Further then that, minggu lalu diadakanlah acara MABIT yang dipimpin oleh saya sendiri dan dibantu oleh dua orang Ustadz baru dari LIPIA Jakarta. They both are Ustadz Rizky dan Ustadz Imron. MABIT  kali ini adalah MABIT yang sedikit berbeda dari biasanya. Letak perbedaannya dimana? Salah satu yang membuat berbeda adalah kali ini ada siraman Rohani (berbagi ilmu Agama di dunia anak-anak) yang disampaikan oleh Ustadz Rizky dan Ustadz Imron. Khusus untuk Ustadz Rizky, beliau memberikan siraman Rohani kepada Santri tentang bagaimana cara Berakhlaq yang baik. Dan MABIT minggu lalu Ustadz Rizky memaparkan bagaimana cara berakhlaq terhadap orang tua yang dalilnya tentunya diambil dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Dan Alhamdulillah santri Rumah Qur’an dapat menyimak materi / siraman Rohani dari Ustadz Rizky dengan seksama dan sekali-kali mereka tertawa jika ada kata-kata lucu dari Ustadz. Yeah, so facing children harus disertai dengan hal-hal yang lucu supaya para Santri tidak merasa bosan dan tidak mengantuk ketika mengikuti rangkaian acara MABIT. Dan khusus bagi Ustadz Imron,  beliau menyampaikan materi tentang sirah Nabawiyah. Yaitu perjalanan hidup para Nabi dan Rasul serta kisah perjalanan hidup para Sahabat Nabi. Dari kisah-kisa tersebut para santri biasanya diminta untuk berbicara dan menyampaikan apa hikmah yang bisa diambil dari kisah-kisah para Nabi dan sahabat Nabi. Tells the story of the life of prophet sudah pasti banyak sekali hikmah yang bisa diambil. Kesabaran misalnya kisah dari Nabi Ayyub,  dan masih banyak lagi hikmah yang bisa dipetik. Setelah mengetahui apa hikmah yang bisa diambil, santri diharapkan untuk bisa merealisasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka supaya kepribadian mereka bisa menjadi pribadi yang berakhlaqul karimah.



Further stories, jam dinding menunjukkan pukul 21.45 WIB menandakan bahwa waktu tidur akan tiba. Seperti biasa, waktu tidur santri saa MABIT adalah pukul 22.00 WIB. tersisa waktu 15 menit. Kebetulan, malam itu ada snack dari Ustadz Alwi (ketua UPT RQM Jatisari) ada tahu, martabak, dan kue. Waktu yang tersisa 15 menit digunakan untuk mencicipi snack yang insyaallah berberkah. Amin J. Setelah mencicipi snack, ternyata masih ada sekitar 10 menit. Waktu 10 menit itu digunakan untuk menonton film kartun islami. Malam itu, kegelapan mulai menelan waktu yang terus berputar. Tepat pada pukul 22.00 WIB, santri Rumah Qur’an persiapan tidur di satu tempat yang hanya beralaskan karpet berawarna kuning. Yes, it does not matter, yang penting adalah ada kebersamaan. Dan kebersamaan itu sangatlah indah J.  Pukul 22.15 WIB para santri sudah tertidur pulas. Malam semakin sepi, sunyi, hanya ada suara nyanyian jangkrik yang berdendang di kedua telinga saya. Dan akhirnya membuat saya mengantuk, mata pun tinggal setengah watt. Akhirnya tertdiur pula menyusul santri dan tertidur pulas  juga dibawa jendela.

Malam gelap gulita dan waktu yang terus berputar. Pukul 03.30 pagi bunyi alarm berbunyi yang menandakan bahwa waktunya untuk shalat Tahajjud. Akhirnya saya terbangun begitu pun dengan santri. Tapi tidak semua, ada yang masih larut dalam mimpi-mimpi indah mereka J. Tapi karena waktunya untuk menghadap Allah dimalam hari, saya bangunkan santri satu per satu. Biarkan saja mimpi indah mereka bersambung untuk sementara, demi mendapatkan rahmat dan ketenangan jiwa. Dan yang terpenting adalah meraih cinta Allah yang hakiki. Akhirnya para santri pun terbangun dan langsung mengambil air wudhu dan kemudian shalat tahajjud sendiri-sendiri. Setelah shalat tahajjud, waktu subuh belum masuk, so, sambil menunggu waktu subuh santri saya minta untuk duduk berbentuk lingkaran dan tilawah Al-Qur’an surah Ar-Rahman, An-Naas, Al-Falaq dan Al-Ikhlas. Kemudian dilanjutkan shalat subuh berjama’ah di Masjid Al-Ihsan.

Setelah shalat subuh, dilanjutkan dengan muroja’ah hafalan, dzikir dan ceita Islami of my own J.  Kemudian tibalah acara puncak MABIT kali ini yaitu Futsak bareng di Grand Futsal Jatisari. Yang biasanya jalan kaki menuju Grand Futsal, kali ini naik sepeda dan naik motor. Khawatir santri kurang stamina dan down ketika perjalanan pulang. Selesai futsal, rangkain acara MABIT pun selesai. Dan para santri Rumah Qur’an istirahat sambil main Di Rumah Qur’an. yes, the home Qur’an is where they are also to study and also the resting place for them after The show MABIT J. Itulah acara Rumah Qur’an minggu lalu ie MABIT.





More stories, malam ahad kali ini acaranya bukan MABIT, tapi pengumuman juara dan penerimaan hadiah. Karena MABIT diadakan hanya dua minggu sekali khusus untuk santri Rumah Qur’an Jatisari. Untuk MABIT akbar yang diikuti oleh seluruh santri Rumah Qur’an Jatisari, Jatimakmur dan SD Qur’an jadwalnya 3 bulan sekali. So, acara kali ini adalah pengumuman juara dan penerimaan hadiah. Seperti yang sudah dipaparkan ditulisan bagian atas bahwa ada tiga kriteria penilaian yaitu kehadiran, akhlaq dan menulis ayat dan hadits Nabi. Dan yang berhasil meraih juara  1, 2 dan 3 adalah Andre Satriaji dengan rata-rata nilai 93,3, kemudian ada Fathan dengan rata-rata nilai 88,00, kemudian ada Fikri dengan rata-rata nilai 87,6. Alhamdulillah J. Congratulations for the winner, dan bagi yang belum juara, jangan berkecil hati. Terus berjuang perbaiki akhlaq, rajin ngaji, perbaiki hafalan dan perbaiki cara menulisnya. Jazakallah khair buat seluruh santri Rumah Qur’an dan para Ustadz Rumah Qur’an. salam sukses dunia dan akhirat. Pesan terakhir adalah “MULIAKAN RUMAH KITA DENGAN AL-QUR’AN”. we believe that great, glorious and Insyaallah so prospective hosts of heaven and loved Allah J.

Jumat, 20 Februari 2015

MJH dengan buku PANCASILA dan Bibit-bibit MJH


Siapakah yang tidak mengenal sosok pejabat Negara yang ahli dalam bidang agribisnis, pertanian dan politik. Yang pernah menjadi lulusan terbaik Universitas Hasanuddin Makassar dan melanjutkan S3 di Institut Pertanian Bogor (IPB). Beliaulah Bapak DR.Ir.H. Mohammad Jafar Hafsah. Seorang pejabat yang tangguh, kuat, cerdas, berprestasi, bertanggung jawab, cinta rakyat, dan masih banyak lagi nilai-nilai positif yang beliau miliki. Tidak hanya itu beliau adalah seorang penulis buku. Salah satu yang beliau luncurkan buku yang baru-baru ini adalah buku  yang berjudul “PANCASILA”. Seperti yang kita ketahui bersama sebagai rakyat Indonesia bahwa Pancasila adalah sebagai ideology dalam berbangsa dan bernegara. Buku yang diluncurkan beliau dilangsungkan di gedung Nusantara IV MPR/DPR RI Senayan, Jakarta. Yang hari itu juga adalah hari ulang tahun beliau yang ke 66. Acara peluncuran buku ini dihadiri oleh beberapa pejabat Negara di Indonesia. Salah satunya adalah Bapak H. Fahri Hamzah, SE yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI. Selain peluncuran buku Pak MJH, Rafa Jafar atau biasa disapa RJ juga meluncurkan bukunya yang pertama dengan judul “Sampah Elektronik”. RJ adalah salah satu cucu Pak MJH dari Mami Dibha. RJ adalah anak tunggal Mami Dibha. Sebagai anak Tunggal, ia selalu di support oleh mami untuk terus berprestasi dan berkarya. Dan ternyata, Mami berhasil membimbing RJ untuk bisa berkarya. Terbukti saat RJ meluncurkan buku pertamanya yang bersamaan dengan peluncuran buku Pak MJH.



Mungkin ada sudah mengetahui siapa Mami Dibha. Beliau adalah Ibu dari 39 orang anak. 1 anak kandung (RJ) dan 38 lainnya anak asuh. Iya, mukanya memang masih kelihatan sangat muda. Tapi beliau  rela menjadi seorang wali bagi anak-anak asuhnya yang saat ini ber jumlah 16 orang di Yayasan Muslim Jabal Haq. Yang lainnya sudah menyelesaikan pendidikannya di SMA dengan bantuan beasiswa dari Yayasan yang mami Dibha pimpin (YMJH).  Dan saat ini ada yang melanjutkan kuliah sambil bekerja, ada yang focus kuliah saja dan ada juga yang focus bekerja dulu untuk menabung uang untuk kuliah.

More stories, kembali ke acara peluncuranbuku Pak MJH. Acara yang dihadiri sejumlah pejabat Negara, tentunya juga dihadiri oleh keluarga besar Pak MJH. Ada Ayah Mirdal dan keluarga, Pak Makkah dan keluarga, Bang Tama dan keluarga dan tidak ketinggalan lagi Mami Dibha bersama anak kesayangannya Rafa Jafar. Juga dihadiri oleh anak-anak MJH dan alumni MJH yang bisa dikatakan sebagai bibit-bit MJH. yang suatu saat nanti akan menjadi pengganti Bapak MJH.



Saat keberangkatan anak-anak MJH menuju gedung Nusantara IV MPR/DPR RI, ada sebuah kata yang  terdengar nyaring dan bergelombang di telinga “kok ke gedung MPR/DPR naik angkot dan naik busway?” kata-kata itu sedikit membuat saya pribadi kurang srek. Karena disertai dengan nada yang ejekan. Tapi tidak apa-apa saya terima saja dan tetap berangkat bareng dengan anak-anak MJH. Toh, mereka adalah seperti adik saya sendiri kok. Ngapain merasa gengsi bergabung dengan mereka dengan mengendarai sebuah angkot menuju gedung MPR/DPR RI. Dalam hati saya juga sempat mengukir kata “anda saat ini wajar saja menyampaikan kata-kata itu, tapi suatu saat nanti saya yakin lulusan MJH pasti ada yang bisa duduk di bangku MPR/DPR RI untuk memperbaiki rakyat di Indonesia. Karena mereka punya mimpi untuk itu”.

Terlihat alumni MJH yang hadir diacara peluncuran buku Pak MJH. Yang dulunya juga berangkat kemana-mana naik angkot tanpa ada rasa gengsi. Saat mereka menghadiri acara, saya terkagum-kagum melihat penampilan mereka. Saat itu saya sedang asyik ngobrol dengan alumni MJH yang lainnya (Akmal, Bachdim, Yono dan Abduh) di pintu masuk gedung nusantara IV. Tiba-tiba dari jauh terlihat Taksi berwarna biru yang melaju dan berhenti tepat di depan saya berdiri. Taksi tersebut berpenumpang 4 orang pemuda ganteng, berjas, dan gaya rambut yang sangat keren. Tidak mengalahkan dengan gaya-gaya para pejabat dan pengusaha saat ini. saya perhatikan mereka satu persatu. Setelah mereka ber empat turun dari taksi da berdiri dengan gagah dan rapih, barulah saya sadar. Owh.. ternyata mereka adalah Alumni MJH Boys yang dulunya naik angkot (pete-pete) ke berbagai acara. Kini sudah ada perkembangan. Mereka adalah Akmal Anhar, Ahmad Kurniawan, Dhiyaur Rahman dan Ahsan. “subhanallah” pujian kepada Allah yang keluar dari mulut saya tanpa saya sadari. Heran dan kagum melihat ke empat sahabat seperjuangan saya ini dengan penampilan seperti pejabat dan pengusaha  sukses di dunia. Sedangkan saya saa itu hanya berpakaian sederhana saja, baju batik berwarna cokelat. Layaknya sebagai seorang Guru. Iya, saya memang seorang guru dan mahasiswa J. Tapi saya punya mimpi yang lebih dari itu.

Setelah beberapa menit berlalu, saya dan teman-teman alumni MJH ngobrol bareng yang disertai dengan rasa kerinduan tentunya. J. Bagamana tidak, berbulan-bulan lamanya saya belum sempat ketemu dengan mereka karena terhalangi oleh tanggung jawab yang harus saya tunaikan. Bersyukur karena Allah mmpertemukan saya dengan mereka dalam perantuan di Ibu Kota Jakarta yang terus disupprt oleh Mami Dibha dan diberi nasehat yang sangat bermanfaat bagi kami. Hingga saat ini persahabatan itu masih terasa erat ikatannya dan sangat susah untuk saya lepaskan. Mereka adalah keluarga kedua dalam hidup saya.

Terima kasih dan selamat kepada Bapak DR. Ir. H. Mohammad Jafar Hafsah atas peluncuran bukunya yang berjudul “PANCASILA” semoga bermanfaat dan semoga menjadi amal jariyah yang tidak ada putus-putusnya. Selamat juga kepada RJ atas peluncuran buku pertamanya “Sampah Elektronik” semoga sukses terus dan bukunya bermnfaat bagi banyak orang. Terima kasih juga buat seluruh pengurus Yayasan Muslim Jabal Haq (YMJH) Ayah Mirdal, Bunda Ika, Baba, Mimim. Mami, Bang tama, Kak Fitri, Ambo aprila, Kak Accank dan Kak Ayi Irfan. Karena kalian kami bisa bertahan dalam perantauan untuk menjemput mimpi-mimpi kami masing. Untuk masyarakat dan untuk akhirat kami.




Salam hangat juga buat teman-teman alumni MJH Boys. Dan juga anak-anak MJH Boys yang masih berjuang di YMJH. Jangan menyerah, kita pasti bisa. Dan akan menjadi MJH-MJH selanjutnya yang berpresatasi, mengabdi kepada Agama, Bangsa dan Negara. Salam sukses J. Kita semua adalah bibit-bibit MJH. 


Kamis, 05 Februari 2015

Mau Sukses? Tidak meski masuk PTN kok


Masa SMA adalah masa yang sangat indah sangat banyak kenangan yang tidak bisa terlupakan begitu saja. Baik itu kenangan canda tawa bersama teman se kelas, teman ekskul, OSIS, guru, dan teman nogkrong sekali pun.. semua itu rasanya telah tersimpan dalam memori hidup yang tidak akan terkena virus apa lagi sampai terhapus. Masa SMA juga adalah langkah awal, ibaratnya ketika kita masuk ke dalam rumah maka kita terlebih dahulu membuka pintu gerbang. SMA adalah ibaratnya pintu gerbang. Setelah SMA ngapain? Kuliah atau kerja?. Dua-duanya bagus. Tapi yang lebih afdhol adalah kuliah. Kenapa? karena kuliah adalah salah satu wadah supaya ke depannya nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Begitu bukan?. tapi sebenarnya kuliah tujuan utamanya adalah menuntut Ilmu bukan cari kerja yang bagus. Saya ulangi lagi pertanyaannya, begitu bukan?

Next, siswa SMA sekarang yang mereka kejar-kejar adalah PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Kenapa? Kebanyakan memilih alasan karena TIDAK MAU GENGSI. Yang kedua adalah  biaya kuliah lebih murah (berdasarkan pendapatan orang tua), yang ke tiga setelah lulus nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih TOP dari orang lain, dan bisa menghasilkan uang yang lebih dari orang lain. Itulah 3 alasan utama bagi siswa SMA sekarang mengejar PTN.



Beberapa hari yang lalu, saya sempat membaca sebuah status di facebook dari kakak kelas saya (Kak Nadya) alumni SMAN 7 Kota Bekasi 2013 dan saat ini beliau kuliah di sebuah PTN, Universitas Jenderal Sudirman (UNSOED) jurusan Kesehatan Masyarakat. Sebenarnya PTN yang saat ini Kak Nadya Kuliah adalah PTN idaman Ibunya, bukan PTN idamannya. Tapi Kak Nadya tetap bertahan kuliah di PTN tersebut sampai saat ini.  Dan berikut ini adalah status  yang kak Nadya post di Facebook dengan gaya bahasa ciri khasnya sendiri “pertama kali sedih rasanya gak diterima di PTN idaman, malah nyasar ke PTN yang diinginkan Ibu. Tapi lama-lama sampai saat ini saya berfikir, kayaknya gak ngaruh banget ke kehidupan saya wtf PTN is. Yang terpenting gimana saya bisa enjoy dan bermanfaat buat kehidupan orang lain. Toh di PTN saya sekarang yang saya anggap biasa aja buktinya saya belum jadi apa-apa, belum berkontribusi banyak terhadap kampus apa lagi jadi mapres. Suka lucu dulu punya ambisi berlebih ngejar PTN, pada hal kalo disyukuri enak-enak aja tuh, enteng-enteng aja dijalani. PTN bagus belum tentu sukses/kerja bagus, teman Ayah saya ada kok lulusn 3 PTN favorit di Indonesia, tapi gak diterima kerja dimana-mana. Karena perusahaan takut mau kasih gaji berapa orang tersebut. Keep fighting!”.  dan  kemudian status tersebut dikomentari oleh salah satu Alumni SMAN 7 Kota Bekasi pula 2012. Berikut komentarnya “Hahaha… jadi inget yah waktu SMA, ngebet bangat masuk ITB tapi ternyata sekarang di UNPAD. Tapi seharusnya semakin waktu berjalan kita semakin sadar yang namanya esensi kuliah, soalnya ketika kita udah masuk masa-masa kuliah, nilai perjuangan kita buat sukses itu akan bernilai sama dengan mahasiswa lain yang sekampus atau dari PT lain (swasta). Seharusnya ini juga harus ditanamkan ke anak-anak SMA. Karena sampai sekarang esensi kuliah masih sama yang namanya rasa gengsi. Walhasil, bisa kita lihat, masih ada loh mahasiswa yang udah mau tingkat lanjut yang sampai sekarang belum bisa bersyukur gara-gara masuk ke PTN yang bukan idamannya. Seolah-olah “sukses itu adalah masuk PTN A, gagal itu adalah masuk PTN  B, apalagi swasta”. Terkadang ada benarnya juga “lo punya apa sampai PTN itu mutlak terima lo?”. Pertanyaan ini bukan pertanyaan pesimis, ini sebagai pengingat, ketia kita udah mulai masuk masa kuliah di PTN atau PTS. Yang namanya gengsi itu udah gak ada nilainya sama sekali. Toh sampai sekarang pun gua kagum sama temen gua yang bisa berkontribusi lebih buat memajukan kampusnya. Walaupun dia anak PTS”
Komentar status Kak Nadya bukan hanya itu saja. Banyak yang lain ada puluhan. Yang intinya adalah sukses itu gak harus masuk PTN, dan jangan gengsi jika harus PTS.
Dari sini saya  bisa menyimpulkan bahwa:

1.  Buang jauh-jauh yang namanya GENGSI kalau mau kuliah. Jangan gengsi tidak masuk PTN A, tapi malah  nyasar ke PTN B. apalagi masuk swasta. Jangan GENGSI!!!
2. Sukses tidak harus masuk PTN, tapi bagaiamana kita enjoy dalam menjalani kuliah baik PTN atau pun PTS. Kalau kita kembali ke Agama, Rasulullah SAW bersabda “sebaik-baik diantara kalian adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. Sukses bukam berarti punya rumah mewah, mobil mewah, punya perusahaan dimana-mana dan lain-lain
3. Bagi yang lulusan SMA 2015 yang tentunya mengejar PTN dan mempersiapkan segalanya, tetap berusaha dapetin PTN idaman dengan niat utama ingin menuntut ilmu. Kalau gagal jangan gengsi kuliah di swasta.  Saya ulangi lagi, sukses tidak harus masuk PTN, tapi bagaimana kita enjoy dalam kuliah, berkontribusi di kampus, berbuat yang lebih banyak buat orang lain dan lain-lain. Banyak orang yang sukses lulusan SD, SMP dan SMA. Karena ada usaha dan keinginan.
Rezeky kita Allah yang ngatur. Yang penting ada usaha, do’a dan tawakkal. Masuk swasta bisa sukses kok. Tapi lebih afdhol kalau masuk PTN, rajin, berkontribusi ke kampus, aktif berorganisasi, terus lulus dengan hasil yang memuaskan, dapat kerjaan yang bagus dan sesuai keinginan, soleh/solehah lagi, kan Subhanallah..:-). Intinya enjoy dan jalani dengan sungguh-sungguh di bangku kuliah. Satu lagi “selalu bersyukur apa yang diberikan Allah, yakinlah bahwa apa pun yang terjadi (masuk PTN atau gagal) Allah masih punya rencana yang lebih baik untuk kita. Allah tidak buta, mengetahui segala sesuatu dalam diri manusia, jadi jangan ragu. Intinya terus usaha, do’a dan tawakkal.


Semoge bermanfaat J.

Jumat, 30 Januari 2015

Puisi untuk Sahabatku


Sahabatku….
Aku disini duduk termenung mengingat masa lalu yag pernah kita lewati bersama
Melewati hari-hari yang indah bersama-sama
Kupandangi rumput bergoyang yang tertiup angin
Seakan dirimu hadir tersenyum diselah-selah rerumputan itu




Sahabatku….
Aku tidak pernah berhenti berfikir apa yang aku harus aku lakukan
Jika suatu saat nanti kamu pergi meninggalkanku
Bertahun-tahun kita bersama, melewati segala rintangan hidup
Yang datang seperti gelombang air laut

Sahabatku….
Kadang hati ini menjerit dan berteriak karenamu
Dalam setiap detik dalam hidupku, bayanganmu yang selalu hadir menemani hari-hariku
Jika suatu saat nanti kau pergi, biarkan aliran airmata ini jatuh sesukanya, biarkan dia mengalir, mengucap kata seindah-indahnya. Biarkan dia, karena airmata tak berarti sedih, airmata tak berarti duka, airmata adalah juga lambang bahagianya hati. Biarkan dia menemani kita di hari ini. Biarkan…..Karena dia memang hadir untuk ini.

Sahabatku…
Sungguh berat hati dan jiwa ini untuk berpisah denganmu
Ingat lah kata-kata yang pernah aku ucapkan untukmu
“kau berbeda dari yang lain”
Kau selalu teringat dalam setiap waktu berputar

Ingat !! Jangan lupakan semua kenangan yang pernah kita lalui bersama.