Senin, 10 November 2014

Murka Allah bagi siapa pun yang punya niat jahat terhadap Rumah Allah


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصۡحَٰبِ ٱلۡفِيلِ ١ أَلَمۡ يَجۡعَلۡ
كَيۡدَهُمۡ فِي تَضۡلِيلٖ ٢ وَأَرۡسَلَ عَلَيۡهِمۡ طَيۡرًا أَبَابِيلَ ٣
تَرۡمِيهِم بِحِجَارَةٖ مِّن سِجِّيلٖ ٤ فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٖ مَّأۡكُولِۢ ٥
Artinya:
“(1).  Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?, (2). Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?, (3). Dan Dia mengirimkan kepada mereka Burung yang berbondong-bondong, (4). Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, (5). Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat”.

  Informasi Seputar Surah
Surah ini terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Kaafirun. Nama Al Fiil diambil dari kata Al Fiil yang terdapat pada ayat pertama surat ini, artinya gajah. Surat Al Fiil mengemukakan cerita pasukan bergajah dari Yaman yang dipimpin oleh Abrahah yang ingin meruntuhkan Ka'bah di Mekah. Peristiwa ini terjadi pada tahun Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan.
      Kandungan Utama Surah Al-Fil
·         Cerita tentang pasukan bergajah yang diazab oleh Allah s.w.t. dengan mengirimkan sejenis burung yang menyerang mereka sampai binasa. 
·         Surat Al Fiil ini menjelaskan tentang kegagalan pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah, karena Ka'bah dipelihara oleh Allah s.w.t. 


     Tafsir Global Qs. Al-Fil
Kisah Pasukan Gajah yang Ingin Menyerang Ka’bah
Kisah di atas menjelaskan tentang ashabul fiil (pasukan gajah) yang ingin menghancurkan rumah Allah (Ka’bah). Mereka sudah mempersiapkan diri untuk menghancurkan Ka’bah tersebut. Mereka pun mempersiapkan gajah untuk menghancurkannya. Tatkala mereka datang mendekati Makkah, orang-orang Arab tidak punya persiapan apa-apa untuk menghadang mereka. Penduduk Makkah malah takut keluar, takut dari serangan ashabul fiil tersebut. Lantas Allah menurunkan burung yang terpencar-pencar, artinya datang kelompok demi kelompok. Itulah yang dimaksud “thoiron ababil” sebagaimana kata Ibnu Taimiyah. Burung-burung tersebut membawa batu untuk mempertahankan Ka’bah. Batu itu berasal dari lumpur (thin) yang dibentuk jadi batu, seperti tafsiran Ibnu ‘Abbas. Ada juga yang menafsirkan bahwa batu tersebut adalah batu yang dibakar (matbukh). juga yang menafsirkan bahwa batu tersebut adalah batu yang dibakar (matbukh). Batu tersebut digunakan untuk melempar pasukan gajah tersebut. Lantas mereka hancur seperti daun-daun yang dimakan dan diinjak-injak oleh hewan. Allah memberi pertolongan dari kejahatan pasukan gajah tersebut. Tipu daya mereka pun akhirnya sirna.
Dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah, “Kisah ini adalah dari kisah raja Abrahah yang membangun kanisah (gereja) di negeri Yaman. Ia ingin agar haji yang ada di Arab dipindahkan ke sana. Abrahah ini adalah raja dari negeri Habasyah (berpenduduk Nashrani kala itu) yang telah menguasai Yaman. Kala itu diceritakan ada orang Arab yang menjelek-jelekkan kanisah (gereja) orang Nashrani sehingga membuat raja Abrahah marah. Lalu ia pun berniat menghancurkan Ka’bah.” (Lihat Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 27: 355-356).
Kisah ini mengingatkan orang Quraisy akan pertolongan Allah yang telah menghancurkan pasukan gajah dan juga menunjukkan bagaimana Allah mengatur makhluk dan membinasakan musuh-musuh-Nya.

Tahun Kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Pada tahun penyerangan gajah tersebut, lahirlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kisah itu adalah titik awal yang menunjukkan akan datangnya risalah beliau atau itulah tanda kenabian beliau. Falillahil hamdu wasy syukru.
Ada hadits yang menunjukkan bahwa Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dilahirkan pada tahun gajar yaitu hadits dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,
ولد النبي صلى الله عليه و سلم عام الفيل
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun gajah.” (HR. Ath Thohawi dalam Musykilul Atsar no. 5211, Ath Thobroni dalam Al Kabir no. 12432, Al Hakim dalam mustadroknya no. 4180. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, tetapi keduanya tidak mengeluarkannya. Adz Dzahabi mengatakan bahwa hadits ini sesuai syarat Muslim. Juga dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah no. 5 dari jalur Ibnu ‘Abbas. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah pada hadits no. 3152).
Bahkan ada ijma’ atau kesepakatan para ulama yang mendukung bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dilahirkan pada tahun gajah seperti dikatakan oleh Ibnul Mundzir, di mana ia berkata, “Tidak ragu lagi dari seorang ulama kita bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun gajah. Lalu beliau diangkat jadi Rasul setelah 40 tahun dari tahun gajah.” Lihat As Silsilah Ash Shahihah pada hadits no. 3152, 7: 434.
Ketika penyerangan Makkah tersebut, di sana ada orang-orang musyrik yang beribadah pada berhala. Dan agama Nashrani lebih baik daripada agama orang musyrik. Kisah ini menunjukkan bahwa perlindungan Allah pada Ka’bah bukan karena adanya orang-orang musyrik yang ada di sekeliling Ka’bah, namun karena untuk melindungi Ka’bah itu sendiri, atau dikarenakan pada tahun gajah tersebut akan lahir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah, atau karena alasan dua-duanya sehingga Ka’bah dilindungi oleh Allah. Ini penjelasan Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al Jawabush Shohih, 6: 55-57 dinukil dari Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
      Penafsiran Tahlili Qs. Al-Fiil
Hammad Bin Salamah meriwayatkan dari ‘Amir, dari Zurr, dari ‘Abdullah dan Abu Salamah bin ‘Abdirrahman (طَيۡرًا أَبَابِيلَ) dia mengatakan : “Yaitu beberapa kawanan burung.” Ibnu ‘Abbas dan adh-Dhahhak mengatakan : “Ababil berarti sebagian mengikuti sebagian lainnya”. Al-Hasan Al-Bashri dan Qatadah mengemukakan : “Ababil berarti yang sangat banyak. “Mujahid mengatakan :” Ababil berarti sekumpulan yang saling mengikuti dan berkumpul. “sedangkan Ibnu Zaid mengatakan : “Al-Ababil berarti yang berbeda-beda, yang datang dari semua penjuru.” Al-Kisa-i menyebutkan:” Aku pernah mendengar beberapa orang ahli nahwu mengatakan :”Bentuk tunggal dari kata أَبَابِيلَ adalah ابيل.
            Firman Allah SWT (فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٖ مَّأۡكُولِۢ) “Lalu Dia menjadikan mereka daun-daun yang dimakan.” Sa’id Bin Jubair mengatakan: “Yakni, jerami yang kaum awam menyebutnya dengan habur.” Dan dalam sebuah riwayat dari Sa’id, yaitu daun gandum. Dan dari Ibnu ‘Abbas العصف berarti kulit yang di atas biji, semacam penutup pada biji gandum. Ibnu Za’id mengatakan :” العصفberarti daun tanaman atau daun kol jika dimakan oleh binatang, lalu dikotori sehingga menjadi kotoran. “Artinya, bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala membinasakan, melenyapkan, dan mengembalikan mereka dengan tipu muslihat dan kemarahan mereka. Dan mereka tidak mendapatkan kebaikan sama sekali. Mereka dibinasakan secara keseluruhan dan tidak ada seorang pun dari mereka yang kembali memberitahu melainkan dalam keadaan terluka, sebagaimana yang dialami oleh Raja mereka, Abraha. Diantara yang menggambarkan hal tersebut adalah sya’ir Abdullah bin Az-Zab’ari berikut ini:
Mereka mundur (menyingkir) dari tengah kota Mekkah, sungguh kesucian kota Mekah tidak dapat diusik.
Pada malam-malam yang dijaga tersebut bintang As-Syi’ra tidak muncul karena tidak seorang manusia pun mampu menjamahnya.
Tanyalah komandan pasukan, apa yang dia lihat tentangnya, maka orang yang tahu akan mengabarkan kepada yang tidak tahu.
Enam puluh ribu prajurit tidak kembali ke Negerinya, bahkan Prajurit yang kembali dalam keadaan sakit akhirnya meninggal dunia.
Kaum ‘Aad dan Jurhum pernah datang sebelum mereka, namun Allah dari atas hamba-hamba-Nya selalu menjaganya.

Dan kami telah sampaikan pada penafsiran surat Al-Fath, bahwasanya Rasulullah SAW, ketika beliau menuruni lembah pada saat peristiwa Hudaibiyah, tiba-tiba unta beliau menderum. Kemudian mereka menghardiknya, tetapi unta itu tetap duduk menderum. Kemudian mereka berkata: “Al-Qushwa’ duduk menderum”. Maka Rasulullah SAW bersabda:” Al-Qushwa’ tidak menderum dan itu bukan sifatnya. Tetapi ia telah dihalangi oleh apa yang menghalangi gajah.”- kemudian beliau bersabda “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, pada hari ini tidaklah mereka menuntut dariku, yang padanya mereka mengagungkan apa-apa yang ada disisi Allah melainkan aku akan mengabulkannya”.

Kemudian beliau menghardik unta tersebut, maka unta itu pun akhirnya mau berdiri. Hadits tersebut termasuk hadits yang hanya diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Dan dalam Kitab Ash-Shashihain disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda pada hari Fat-hu Makkah :”sesungguhnya Allah menahan pasukan Gajah dari memasuki Kota Mekah. Dan Dia menguasakan Kota Mekah kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya kehormatannya kemarin. Ingatlah, hendaklah orang yang hadir memberitahu orang yang tidak hadir”.

    Kesimpulan
·         kekuatan nyata tidak dapat diukur dengan cara biasa. Penghancuran bala tentara yang telah dikirim untuk menghancurkan Ka'bah bukanlah suatu kekuatan gaib tapi, ma-lah, merupakan fenomena alamiah yang mengumandangkan kelahiran Nabi—menunjukkan pancaran Sinar yang agung di tengah kegelapan.
·         Ababil berarti 'kawanan'. la tidak mesti hanya menunjuk kepada kawanan burung, tapi juga kepada jumlah besar yang membanjiri.

·         Akibat serangan itu adalah bahwa bala tentara yang jumlahnya banyak sekali ini menjadi bagaikan tunggul jerami padi atau rerumputan yang tersisa setelah dipangkas. Pada sebagian penjelasan dikatakan bahwa setelah penghancuran ini, tanah terlihat bagaikan alas datar yang terbuat dari ribuan tentara musuh dan gajah-gajah mereka tergeletak di atasnya.

Senin, 03 November 2014

Malam Minggu dengan Al-Qur'an


Para pembaca yang insyaallah dirahmati oleh Allah SWT. Beberapa minggu yang lalu, saya pernah ngepost cerita yang berjudul “ Malam Bina Iman dan Taqwa”. Nah.. cerita kali ini tidak jauh beda dengan cerita tersebut. Tapi ada beberapa peristiwa yang unik dalam cerita ini. ada yang tau? Nah.. berikut ini jawabannya.
Tepat pada tanggal 1 November 2014 yang kebetulan hari  itu jatuh pada hari sabtu alias malam minggu. kalau kita perhatikan zaman modern seperti sekarang ini, malam minggu itu adalah malam yang begitu indah bagi para remaja yang punya pasangan yang belum sah. Mereka menghabiskan malam minggunya dan membuang-buang waktu yang sangat mahal yang mendekatkan dirinya kepada perbuatan zina. Na’dzubillahi min dzalik. Tapi, beda dengan malam minggu kami di yayasan Rumah Qur’an Mulia. Malam minggu bukan hanya malam yang indah bagi santri Rumah Qur’an melainkan juga menenangkan hati. Kok bisa tenang? Itulah malam minggu bersama Al-Qur’an. Seperti apa sih malam minggu bersama Al-Qur’an? Nah.. kalau malam minggu bersama Al-Qur’an di Yayasan Rumah Qur’an Mulia, yang dilakukan tentunya adalah menghafal dan muroja’ah hafalan serta mempelajari makna dari surah-surah yang sudah dihafalkan. Nah… malam minggu kemarin saya sendiri yang memimpin santri. Yang biasanya dipimpin oleh Ustadz Firman dan saya. Tapi kali ini my selfji kodong. Tapi tidak apa-apaji toh. Malam itu dimulai dengan setoran hafalan. Tapi Cuma ada beberapa orang yang hadir, karena  santri yang duduk dibangku SMP mengikuti rapat organisasi pemuda pemudi masjid Al-Ihsan (OPPINI).  Meskipun sedikit yang hadir untuk menyetorkan hafalan, saya tetap semangat dan tetap terlihat tersenyum di hadapan mereka. Agar mereka ikutan semangat juga. Tidak lama kemudian adzan Isya dikumandangkan disekitar rumah Qur’an. Para santri mengerjakan shalat Isya berjama’ah di Rumah Qur’an dan diimami oleh saya sendiri. Dan setelah shalat saya sampaikan kepada mereka kegiatan ba’da Isya sampai esok hari dihari minggu yang insyaallah dirahmati Allah. Kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing untuk persiapan mengikuti malam bersama Al-Qur’an.
30 menit berlalu saya menunggu di Rumah Qur’an mempersiapkan segalanya. Namun, para santri belum muncul-muncul juga. Akhirnya perut ini mulai berteriak minta makan. Hufftt…okeylah saya isi dulu perut ini. Nah.. ketika saya sedang makan, Ikhsan datang diantar oleh Ayahnya. Kemudian disusul oleh Faiz. Nah…Faiz ini diantar oleh Ayahnya juga. Yang unik pada Faiz adalah ia membawa satu kardus mie sedaap, teh, telur dan gula pasir. Senang sekali saya atas kedatangan Faiz. Faiz dan Ikhsan duduk  di tempat biasa mereka menyetorkan hafalan. Mereka kelihatan bosan karena Cuma berdua, akhirnya saya mengajak mereka berdua nonton video lucu di laptop. Seketika itu santri yang lain mulai berdatangan. Ada Rizky, Edwin, Rafly, Fathan dan Nabil. Namun, kedatangan mereka membuat saya mengantuk karena sudah larut malam alias jam 10 malam. Akhirnya saya minta mereka untuk tidur segera agar shalat tahajjudnya tidak molor. Akhirnya mereka tertidur di satu tempat begitu pun dengan saya. Wah… ada yang lucu tuh ketika mereka tidur? Apa ya kira-kira?. Ikhsan ngorok suaranya gede bangat lagi. Terus si Rizky mimpi belajar perkalian sampai jutaan. Hedehh…

Sebelum tidur semuanya memang sudah diniatkan untuk melaksanakan shalat tahajjud bareng alias berjama’ah. Tapi ternyata, shalat tahajjudnya molor gara-gara pada nyenyak semua tidurnya. Bangun-bangun ketika adzan subuh. Aduh…payah bener ini. akhirnya para santri berlomba-lomba menuju masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjama’ah. Setelah shalat subuh berjama’ah santri saya kumpulkan di teras masjid untuk dzkir bersama dan muroja’ah hafalan sampai pukul 05.30 pagi. Setelah itu, mereka pulang ke rumah masing-masing untuk mengikuti kegiatan selanjutnya. Apa ya kegiatan selanjutnya setelah molor shalat tahajjudnya? Hihi.. okey, kegiatan selanjutnya adalah jalan pagi dan futsal bareng di grand futsal depan pondok indah Jatisari. Tapi bayarnya patungan setiap orang 10 ribu. Tapi sayang, gurunya sendiri gak bayar, lupa soalnya. Hihi…tapi santri ikhlaskan untuk gurunya J. Akhirnya mereka futsal bareng dengan riang gembira dan dilanjutkan sarapan pagi nasi uduk di saung grand futsal. Kemudian back to Qur’an house dan nonton bareng RIO 2. Alhamdulillah acara malam minggu bersama Al-Qur’an berjalan lancar meskipun shalat tahajjudnya molor. Hehe….  



Selasa, 28 Oktober 2014

Kisah Menyedihkan ke Empat Saudaraku

Selama tiga tahun lebih aku merantau di Ibu Kota Jakarta. Orang-orang sukses selalu terlihat di depan mataku. Jauh beda dengan orang-orang pelosok seperti di daerahku kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Sangat jarang aku meihat orang-orang hebat, selain orang-orang yang berprofesi sebagai petani seumur hidup mereka. Dan itulah yang dialami oleh ke empat saudaraku. Sungguh menyedihkan.

1.       Kak Olleng
Kak Olleng adalah kakak pertamaku, ia sekarang berumur 28 tahun. Masa kecilnya ia jalani di sebuah kampung yang amat sangat terpolosok di Kabupaten Bulukumba. Desa Somba Palioi. Ia hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 5 SD. Itu pun selama sekolah tidak pernah mengikuti pelajaran di sekolah. Ia hanya menunggu di tengah jalan sampai teman-temannya pulang. Umurnya semakin bertambah hingga ia menginjak masa remaja. Kak Olleng adalah satu-satunya remaja kampung yang ditakuti oleh banyak orang. Why? Karena ia sangat nakal. Kerjaannya tiap hari adalah berantem dan memukul anak orang hingga benjol-benjol. Bukan hanya itu Kak Olleng juga pernah mencuri cokelat warga kampung di jalan, hingga ia masuk penjara selama 3 bulan. Setelah ia bebas dari penjara, ia ke rumah orang tua saya selama seminggu dan pamit ke Malaysia. Namun, ia merasa terjanggal karena Ayah dan Ibuku tidak mengizinkan kak Olleng untuk pergi ke Malaysia. Karena usianya yang masih remaja. Tapi, Kak Olleng ini tetap saja ngelotot pengen ke Malaysia. Hingga tanpa restu dari Ayah dan Ibuku ia berangkat ke Malysia. 10 tahun lamanya Kak Olleng di Malaysia, ia tidak pernah ada kabar sama sekali. Tetanggaku menganggap bahwa Olleng mati di Malaysia karena ia tidak pernah ada kabar. Namun, Ibuku masih saja merindukan anak pertamanya ini. hingga pada tahun 2012 Kak Olleng pulang kampung dan membawa uang sebanyak Rp. 2.000. huffttt menyedihkan. 10 tahun lamanya di Malaysia pulang kampung cum bawa uang Rp. 2.000. Menyedihkan bukan? Saya jawab PAKE BANGAT MENYEDIHKANNYA. Nah… selama beberapa bulan di kampung, ia semakin terlihat nakal. Kebun Ayahku dijual Oleh Kak Olleng tanpa tujuan yang pasti. Motor Ayahku pun ia jual karena utan-utangnya tidak bisa ia bayar. Ayah dan Ibuku tidak bisa berbuat apa-apa melihat tingkah Kak Olleng seperti ini. di rumah kerjanya hanya tidur,nonton TV, dan marah-marah. Dan bahkan ia sering menendang panci dan piring di dapur ketika ia mau makan tapi tidak ada makanan. Ibuku hanya bisa menjatuhkan butiran-butiran air matanya melihat tingkah Kak Olleng. Hingga saat ini, ia tidak pernah berubah sikapnya. Dan sekarang Kak Olleng sudah bersitri dan punya anak. Tapi sikapnya tetap seperti itu, bahkan ia sering membentak istrinya di rumah. Sekarang, ia hanya berprofesi sebagai petani di kampung. Huuffftt.



2.       Kak Andri
Kak Andri adalah kakak keduaku. Alhamdulillah kak Andri tidak berakhlak buruk seperti Kak Olleng. Ia lebih sopan dan lebih tampan dari Kak Olleng. Kak Andri hanya berpendidikan sampai kelas 2 SMP. Ia memutuskan pendidikannya karena warga sekampungku menggosipnya bahwa di sekolah ia pernah berpacaran bahkan menciumnya dengan tetanggaku sendiri. Pada hal semua itu hanya omongan kosong dari warga sekampungku. Setelah putus sekolah, Kak Andri mengikuti jejak Kak Olleng. Jejak apakah itu? Kak Andri memutuskan untuk ke Malaysia juga. Dan hingga saat ini, sudah 10 tahun kak Andri di Malaysia. Aku masih ingat, saya masih duduk di bangku kelas 2 SD, saat itu pun Kak Andry ke Malaysia. Dan sekarang saya duduk di bangku kuliah Kak Andry belum pulang-pulang juga. Selama ia di Malaysia, ia pernah ngasi kabar sewaktu saya masih kelas 5 SD. Cuma itu doang. Dan sekarang saya tidak tau bagaimana kabar Kak Andri Di Malaysia.

3.       Kak Nurmi
Kak Nurmi adalah kakak ketigaku. Ia  adalah kakak perempuanku satu-satunya. Dan satu-satunya kakakku yang berprestasi di sekolahnya. Disukai oleh banyak Guru dan teman-temannya karena ia berprestasi di bidang akademik. Selain itu, kak Nurmi juga berprestasi dibidang non akademik. Apakah itu? Kak Nurmi sering mewakili sekolahnya untuk mengikuti lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten. Namun, prestasi yang ia miliki musnah ketika ia lulus SMA. Kenapa? Seminggu setelah UN SMA, Kak Nurmi di jodohkan oleh Ayah dan Ibuku dengan laki-laki yang tidak dikenalnya. Mimpinya sebagai guru tak bisa ia raih, ia putus asa. Pendidikannya akan terputus karena ia akan menjadi seorang istri buat laki-laki yang tidak dikenalnya. Pada hal kak Nurmi sudah punya calon suami pilihannya sendiri. Tapi, jodoh itu ditangan Tuhan. Dan saat ini Kak Nurmi berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga dan dikaruniai oleh dua orang anak.




4.       Kak Ari
Kak Ari adalah kakak terakhirku alias kakak ke empat. Kak Ari ini adalah kakak yang paling tampan dan cerdas, dan hebat berceramah. Tapi sayangnya, ia hanya berpendidikan sampai kelas 2 SMA. Ia memutuskan sekolah, karena tidak tahan dan bosan tingga di pesantren terus. 3 bulan setelah ia putus sekolah. Ia menikah dengan perempuan di desa tetangga sendiri. Kasian.. baru kelas 2 SMA udah menikah. Namun, hubungan dengan istrinya tidak berlangsung lama. Ia hanya hidup setahun bersama istrinya. karena istrinya selingkuh di tengah hutan ketika Kak Ari kerja  sebagai petani kelapa sawit di Kalimantan. Yah…karena istrinya selingkuh, terpaksa Kak Ari menceraikannya. Dan ia menjadi duda selama 4,5 tahun. Dan 4 minggu yang lalu, kak Ari menikah lagi dengan wanita dari tetangga Desa sendiri. Dan saat ini, Kak Ari berprofesi sebagai petani.

5.       Dan yang terakhir ini, lahirlah anak ke lima dari pasangan suami istri H. Sulle dan Sabo. Anak yang ke lima ini adalah adik kandung dari Kak Olleng, Kak Andri, Kak Nurmi dan Kak Ari. Anak yang ke lima ini adalah salah satu anak H. Sulle yang bisa mendapatkan prestai di bangku sekolah, juara kelas, juara MTQ, MHQ, Da’I, Pramuka, Puisi, SKJ, Volly  dan masih banyak prestasi yang pernah ia raih. Bahkan anak ke lima ini dapat beasiswa SMA di Jakarta. Selama ia SMA, ia  punya banyak fans karena kemahirannya membaca Al-Qur’an. Dan ia selalu mewakili sekolahnya mengikuti lomba da’I dan MTQ. Selain itu, ia juga banyak pengalaman organisasi mulai dari ketua PASKIBRA, Ketua SEKBID 1 OSIS, Wakil ketua II ROHIS dan lain-lain. Dan pada tahun 2014, ia menjadi lulusan terbaik ke dua di Yayasan Muslim Jabal Haq (YMJH) Dengan predikat SANGAT MEMUASKAN. Ia pun punya cita-cita menjadi seorang dosen dan hafidz 30 juz. Cita-citanya sebagai Menteri Keuangan terhapus semenjak ia bergabung sebagai Guru Qur’an (Tahfidz) Di yayasan Rumah Qur’an Mulia. Dan saat ini, ia menjadi penulis (tapi belum terkenal hehe…)dan ia tercatat sebagai Guru Qur’an dan Mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Darul Hikmah jurusan Tafsir Hadits strata 1 (S1). Ia punya mimpi melanjutkan kuliah S2 dan S3 di Al-Azhar Madinah. Siapakah anak ke lima ini. dia adalah saya sendiri. Namaku RISAL SULLE. Saya ingin membahagiakan seluruh masyarakat di kampungku terutama keluargaku dan khususnya lagi kedua orang tuaku. Saya tak ingin nasibku seperti saudara-saudaraku. Saya siap menjadi mutiara ditengah-tengah mereka.






Senin, 27 Oktober 2014

Go To GBK

Usai mengikuti lomba Musabaqah Hafidzul Qur'an di SD Qur'an Jatimakmur, Pondok Gede dari pagi sampai siang. denga mendapatkan juara sebagai juara ngarap, malamnya go to Gelora Bung Karno (GBK) bersama Pak Rijal, Guru-Guru Rumah Qur'an Mulia dan santri. di GBK ada acara wisuda Qur'an yang ke lima pondok Pesantren Daarul Qur'an yang didirikan oleh Ustadz Yusuf Mansur. acara tersebut dihadiri oleh ribuan orang dari berbagai provinsi di Indonesia. dan juga dihibur oleh Opick. dan dihadiri oleh para syekh dari wilayah Timur Tengah. acara pada malam itu berlangsung dengan hikmat. 

Minggu, 26 Oktober 2014

Sang Juara Ngarap


Santri rumah Qur’an menerima undangan musabaqah Hafidzul Qur’an (MHQ) dari Ustadz Sarito Guru Qur’an di SD Qur’an Jatimakmur sekaligus sebagai ketua pelaksana dalam acara MHQ. Namun, undangan MHQ itu tidak langsung diberikan ke santri tapi ke saya. Kenapa? Karena saya adalah Guru mereka yang berkewajiban untuk membimbing mereka dan memberitahu akan undangan itu. Malam kamis seminggu sebelum lomba, saya kumpulkan mereka sebelum saya berangkat mengajar di Yayasan Muslim Jabal Haq (YMJH).   Mereka berkumpul dengan wajah yang kelihatan tersenyum bahagia dan sesekali tertawa. Yah…saking senangnya mereka. Mereka duduk rapih dan tertib tanpa saya perintahkan, mereka memang sudah bisa berjalan sendiri tanpa diatur lagi oleh saya dan Ustadz Firman. setelah mereka semua tertib, saya umumkan bahwa ada undangan lomba MHQ. Wahh…dengan waktu yang singkat mereka berteriak “kak, kak, saya mau ikut kak juz 30 dan 29” waww mereka semangat sekali mengikuti lomba ini. "Tapi ada syarat dan ketentuan mengikuti lomba ini” ujar saya kepada santri Rumah Qur’an. Santri terdiam dan tidak mengeluarkan satu kata pun dari mereka. Dengan suara yang lantang saya umumkan syarat dan ketentuan mengikuti lomba tersebut “juz 30 diikuti oleh siswa kelas 1-3 SD, dan juz 29 dan 28 diikuti oleh kelas 4-6 SD”. Andre salah satu santri Rumah Qur’an terdiam yang diduduk di kelas 1 SMP, tadinya dia semangat sekali mengikuti lomba. Tapi karena yang ikut Cuma santri yang duduk di bangku SD, Andre hanya bisa menemani saja teman-temannya yang akan ikut lomba.  Nah… yang ikut lomba ada 3 orang yaitu  Nabil juz 30, Rizky Faisal juz 29 dan 30, Fikri juz 29 da n 30.
Seminggu kemudian tepat pada hari sabtu 25 Oktober 2014, tibalah hari dimana lomba MHQ akan  dilaksanakan di SD Qur’an Jatimakmur, Pondok Gede. Rizky dan Fikri berangkat bareng dengan saya. Kemudian Nabil bareng dengan Ayahnya sendiri Ustadz Alwi. 30 menit kami tempuh perjalanan dari rumah Qur’an Jatisari menuju ke SD Qur’an. Setelah sampai di tempat lomba, santri daftar ulang. Dan terdengar suara panggilan dari lantai dua di SD qur’an. “ Risal…Risal..Risal” ya..suara panggilan untuk saya. Saya menuju ke lantai dua, ternyata Ustadz Qeis yang memanggil saya. “Sal, tolong masukin soal-soal ini ke dalam amplop” ujar Ustadz Qeis kepada Saya. Ya..langsung saja saya kerjakan tugas itu. Kusimak soal satu persatu sebelum saya masukkan ke dalam amplop. Yah…ternyata terdiri dari tiga soal berupa menyambungkan ayat yang akan dibacakaln oleh dewan Juri. Hmmm… saya mengangguk-angguk terlihat beda sewaktu saya lomba MHQ juga waktu masih SMA. Soalnya bukan nyambung ayat saja, tapi ada nebak surat dan menyambung dari surat ke satu kesurat berikutnya. Yah,…maklumlah ya karena kali ini yang lomba adalah tingkat SD bukan tingkat SMA. Ketika saya sedang memasukkan soal ke dalam amplop, Ustadz Irfan datang dan duduk tepat di depan saya “Ustadz Risal nanti pas pembukaan antum tasmi’ ya”. Ujar Ustadz Irfan kepada saya. Tanpa basa basi saya langsung menjawab “iya Ustadz, saya siap”. Seketika itu, saya berniat membaca surat Al-Muzzammil yang terdapat di juz 29.

Waktu terus berlalu, pembukaan akan segera dimulai di lapangan sekoah SD Qur’an Jatimakmur. Para peserta dan pendamping peserta duduk rapih di lapangan yang beralaskan dengan karpet berwarna merah darah. Pembukaan dimulai dengan tasmi’ (membaca Al-Qur’an tanpa melihat Al-Qur’an alias dihafal) oleh saya sendiri. Saya maju ke depan di depan orang banyak untuk tasmi’. Selang waktu kemudian, acara pembukaan selesai dan masuk ke acara inti yaitu lomba MHQ. Para pendamping peserta lomba termasuk saya diminta untuk keluar dari lapangan, yang hanya di lapangan adalah para peserta lomba MHQ. Pertama maju adalah Risky Faisal membuat saya deg degan karena ketika ia diberi pertanyaan oleh juri,  ia menjawabnya dengan macet. Kemudian disusul oleh Fikri. Nah… Fikri ini lebih macet lagi. Dan disusul oleh Nabil dan ini lebih parah macetnya. Aduhhh..tapi gak apa-apalah ya. Kemudian disusul lagi oleh 26 pserta MHQ dari santri rumah Qura’n Jatimakmur. Huuuffftttt saya sangat deg degan saat itu sebagai guru tahfidz mereka, membimbing mereka seminggu sebelum lomba. Setelah mereka bertiga selesai tampil, saya dan santri makan di area belakang sekolah. Setelah makan, saya tertidur pulas. Dan bangun pas adzan dzuhur. Dan ternyata pengumuman pemenang MHQ sudah diumumkan. Dan ketiga santri saya dari rumah Qur’an Jatisari ada yang juara tapi juara ngarap. Rizky juara ke empat dan Fikri juara ke lima. Yah…tidak apa-apa. Yang juara satu adalah santri dari Rumah Qur’an Jatmakmur yaitu Hafidz. Dan juara kedua pun santri dari Rumah Qur’an Jatimakmur juga yaitu Fawwaz. Juara ketiga pun demikian tapi saya tidak tau namanya siapa. Intinya yang juara tiga adalah santriwati (perempuan). Hafidz dan Fawwaz ini adalah murid saya juga sewaktu saya mengajar di Rumah Qur’an Jatimakmur. Setelah pengumuan sudah selesai saya langsung pulang ke Rumah Qur’an Jatisari bareng dengan Rizky, Fikri, Nabil dan Ustadz Alwi. Dengan niat untuk istirahat alias tidur siang. Mengumpulkan tenaga untuk acara entar malam di Gelora Bung  Karno Jakarta Pusat. Ada acara apa ya? Tunggu ceritanya ya. Syukron.




Jumat, 24 Oktober 2014

Bocah Itu Ujian Tahfidz

Tidididididing……. Terdengar bunyi bel sekolah yang menandakan pelajaran di kelas akan segera dimulai. Dengan berpakaian baju muslim berwarna cokelat lengan pendek, menambah semangat saya untuk menguji anak-anak dalam bidang tahfidz Qs. An-Naba. Kok ujian tahfidznya Cuma An-Naba? Iya, karena yang anak-anak hafal baru surah An-Naba itupun belum ada yang tuntas. Yang paling banyak adalah ayat 30. Maklumlah ya… mereka masih anak-anak TK belum sehebat Musa pemenang hafidz Indonesia 2014 yang disiarkan langsung oleh stasiun TV RCTI. Meskipun anak-anak yang saya didik baru hafal sampai ayat 30, namun saya tetap bangga dengan hafalan yang mereka punya. Bangga karena usia mereka yang masih dibawah 5 tahun sudah bisa menghafal Al-Qur’an beda jauh dengan saya dulu waktu seumuran mereka. Kerjanya bukan menghafal, tapi minta dibelikan mainan terus sama Ibu dan belum bisa mengucapka lafadz basamalah. Huuffftt kasiannya kodong.

Jam dinding menunjukkan pukul 07.30. anak-anak beraris di halaman sekolah. Ya.. itulah kebiasaan setiap hari sebelum masuk kelas berbaris dihalaman untuk baca iqrar (baca do’a), happy-happy, bertepuk tangan sambil bernyanyi yang dipimpin oleh Ibu Fitri dan Ibu Windy. Kadang juga saya yang mimpin mereka. Tapi sekalii-kali doang. Hehe… setelah berbaris dihalaman, anak-anak masuk kelas satu per satu. Tapi ada syarat memasuki kelas. Apakah itu? Mau tau aja, atau mau tau bangat? Hehe…alay. Syaratnya adalah mereka harus bisa menjawab pertanyaan yang saya berikan buat mereka. Yah…pertanyaannya berupa kosakata bahasa Arab. Mulai dari anggota badan, angka 1 sampai 10  dan benda-benda dalam kelas. Alhamdulillah setiap anak yang saya Tanya mereka bisa menjawab. Syukurlah…

Selang waktu kemudian, anak-anak duduk rapih dikelas TK A untuk mengikuti tes hafalan surah An-Naba. Tapi, sbelum tes dimulai, saya memimpin meraka terlebih dahulu muroja’ah Surah An-Naba sekitar 20 menit. Wah…suara mereka lantang, terdengar di masjid Al-Abraar  membuat kepala Sekolah dan pendiri sekolah bangga dengan mereka. Muroja’ah hafalan dimulai dengan suasana yang membuat ruangan bergetar lantaran suara ana-anak yang lantang. Nah… setelah muroja’ah hafalan, mereka tidak saya tes langsung. Tapi saya ajak mereka bernyanyi alias bergembira ria supaya mereka tidak kaku saat tes dimulai. Yah..lagunya saya ajarkan dalam berbahasa Arab, namanya juga Guru bahasa Arab, ya..pantaslah kalau saya ajarkan mereka bernyanyi pake bahasa Arab. Wah…mereka kelihatannya tampak senang dengan nyanyian. Sehingga diantara mereka terlihat kecapean di kedua mata telanjang saya. Akhirnya mereka saya persilahkan duduk yang rapih sesuai dengan kelas masing-masing. Play group bergabung dengan anak-anak play group, TK A bergabung dengan TK A, Begtu pun dengan TK B. nah… tibalah waktu saatnya tes hafalan dimulai. Tapi seperti apa ya tesnya? Apakah mereka saya suruh nyambung ayat? Oww..tidak, tidak seperti saya waku tes hafalan ditanya-tanya bertele-tele. Mereka hanya saya minta berdiri di depa teman-teman mereka membaca surah An-Naba sehafalnya aja. Iya.. yang pertama maju adalah Arkan murid dari TK B. suaranya wowww lantang dan gede. Anak ini semangat sekali, begitu pun dengan yang lainnya. Dan diakhiri oleh Chika murid dari TK A. tes hafalan ini berlangsung sekitar 1 jam. Ahamdulillah semuanya maju dan membaca surah An-Naba sehafalnya mereka.


Ada kebanggan tersendiri buat saya yang telah mengajarkan mereka menghafal Surah An-Naba meskipun belum ada yang tuntas. Tapi rasanya gimanaaa gitu. Senang deh pokonya. Semoga ilmu ini terus bermanfaat. Amin..






Senin, 20 Oktober 2014

Malam bina iman dan taqwa

“MALAM BINA IMAN DAN TAQWA”
 Malam yang yang difokuskan untuk beribadah guna untuk membina iman dan taqwa. Ya.. itulah yang disebut malam bina iman dan taqwa (MABIT). Apa sih pengertian yang sesungguhnya dari Mabit itu? Sebenarnya, dalam bahasa Arab mabit itu adalah bermalam atau menginap. Hmm sama aja ya. So, timbul pertanyaan, ngapain aja sih ketika bermalam? Ya… ada banyak kok, muroja’ah hafalan, belajar agama, games, tadabbur alam jam 2 malam dan masih banyak lagi. Mabit adalah salah satu program yang telah kami jalankan di Yayasan Rumah Qur’an Mulia.  Dimana program ini diadakan setiap miggu ke dua dan ke empat setiap bulannya. Kadang dilaksanakan di Masjid kadang juga di Rumah Qur’an Mulia. Tapi seringnya di Rumah Qur’an Mulia. Why? Karena di Rumah Qur’anlah tempat santri menyetor hafalan dan belajar Ilmu tajwid.
Malam ahad kemarin (19 oktober 2014) Mabit diadakan di Masjid Al- Ihsan yang  diikuti oleh 15 santri yayasan Rumah Qur’an Mulia dibawa pimpinan saya sendiri dan Ust. Firman. Ketika jam dinding menunjukkan pukul 20.00 WIB,  Santri mulai berdatangan di Rumah Qur’an dengan wajah begitu gembira. Di punggung mereka ada tas yang tentunya berisi Al-Qur’an dan buku panduan dzkir pagi dan sore. Lama-kelamaan lengkaplah sudah 15 orang. Dengan berpakain baju kokoh berwarna putih kenangan dari MJH dan sarung kotak berwarna biru kenangan dari Ibu 7 tahun yang lalu, saya gunakan untuk memimpin santri ketika mabit. Ya…mabit malam itu dibuka dengan muroja’ah hafalan juz 30 dan dilanjutkan games yang membuat santri semakin tertawa terbahak-bahak. Saya pun ikut tertawa terbahak-bahak juga.  Setelah satu jam berlalu, selesailah sudah muroja’ah hafalan dan games. So, berikutnya apa? Berikutnya adalah penerimaan hadiah yang dilaksanakan di Masjid Al- Ihsan bagi santri yang berprestasi selama bulan September. Nilai mereka diambil dari 3 kriteria yaitu nilai menulis ayat dan hadits, akhlaq dan kehadiran. Sehingga yang berhak menjadi santri berprestasi adalah Andre Setiaji, Rizky Faisal dan Fathan Mubina. Mereka bertiga memang santri yang membuat saya bangga. Sehingga pantaslah jika mereka menjadi santri berprestasi. Hadiahnya sangatlah sederhana. Berupa makanan ringan. Tapi bukan itu tujuan utama yang mereka kejar, tapi bagaimana mereka bisa membuktikan kemampuan mereka dalam bidang agama mereka.
Setelah pembagian hadiah, semuanya saya perintahkan untuk tidur karena malam sudah semakin larut. Namun, sesuatu yang menjanggal dalam diriku. Apakah itu?? Para santri tidak bisa tidur. Why? Ada apa gerangan?? Alasannya simple bangat. Banyak nyamuk, huffttt… gara-gara nyamuk mereka tidak bisa tidur. Tapi, untung saja Ust. Alwi datang membawa autan yang banyak untuk para santri. Akhirnya dengan autan itu para nyamuk ogah untuk menghisap darah lagi. Akhirnya santri pun tertidur nyenyak dan saya pun menyusul tidur di tengah-tengah masjid.
Waktu berputar begitu cepat. Tepat pada pukul 02.00 malam. Santri saya bangunkan satu-persatu untuk tadabbur alam. Alhamdulillah tidak ada diantara mereka yang susah saya bangunkan. Gerak cepat, itulah yang meraka lakukan. 15 menit kemudian, shalat tahjjud dimulai yang diimami oleh Ust. Firman dan dilanjutkan shlaat witir 3 raka’at yang diimami oleh saya sendiri. Hmm… suara merdu sang nyamuk terdengar lagi membuat para santri mulai mengeluh. Namun, saya beri mereka pencerahan sedikit tentang pahala shlalat tahajjud. Dan aalhamdulillah mereka semangat lagi dan tidak peduli dengan suara merdu sang nyamuk. Setelah itu, santri saya perintahka untuk ke lapangan yasmi (lapangan bulu tangkis) untuk tadabbur alam. Ust. Firman sudah menunggu disana. Satu-persatu ,mereka menuju lapangan. Rasa takut masih ada dalam diri mereka untuk ke lapangan yasmi. Ya.. wajarlah usia mereka memang usia anak SD. Namun akhirnya mereka berhasil mengalahkan rasa takut itu.dan berkumpul di lapangan yasmi membahas tafsir dari surah An-Naba tentang berita besar. Apakah berita besar itu? Baca sendiri dalam tafsir. Hehe…

Selang beberapa waktu kemuadian, adzan subuh mulai terdengar. Para santr menuju ke masjid untuk shlalat subuh dan dilanjutkan dzikir pagi di teras masjid. Setelah dzikir, tiba-tiba Pak Rijal datang membawa nasi uduk untuk sarapan para santri. Dan..nyem..nyem..nyem enak memang rasanya nasi uduk yang berlauk tempe dan bakwan. Setelah sarapan, para santri saya ajak renang di YAPIDH tapi bayar sendiri. Namun, tidak semua dari mereka yang ikut renang karena sudah kelelahan mengikuti kegiatan semalaman. Renang ini adalah agenda terakhir pelaksaan mabit. Dan insyaallah berikutnya akan diadakan mabit lagi dengan remaja masjid Al- Ihsan yang akan diketuai oleh teman saya sendiri dari kampus. Tunggu ceritanya 2 minggu lagi. Salam sukses akhirat.