Mentang-mentang tinggal di Jakarta.
Sukanya makan di mall, pada hal uangnya saja masih dari orang tua.
Sukanya shoping kemana-mana ketika weekend, pada hal isi ATMnya sudah sekarat.
Sukanya kelihatan keren dan wow, pada hal tinggalnya masih ngekos.
Gak pernah mikirin orang tuanya di kampung, selelah dan secapek apa mereka bekerja hanya untuk anaknya yang katanya kini di Jakarta kuliah. Apa lagi yang orang tuanya seorang petani, ngurus cengkeh yang saat ini bukan buahnya yang dipetik dan dijual. Tapi daunnya yang dipungut dan dijual dengan harga yang sangat rendah. Yang di otaknya hanya uang yang terus masuk ke ATMnya tiap bulannya. Gak pernah ngerasa dan gak pernah mikirin bahwa namanya selalu ada dalam setiap bait-bait do'a Ibu Bapaknya. Dirinya kini boro-boro do'ain ibu bapaknya, shalatnya aja masih pake nanti aja. Shalat subuhnya aja tunggu matahari terbit.
Pernahkah berpikir walau hanya semenit saja, bagimana cucuran keringat ibu bapak di kampung, memperjuangkan segala-galanya hanya demi kamu. Bahkan sampai ada yang jual tanah demi pendidikan anaknya. Mereka tidak berharap kamu kelak ngasi uang berjuta-juta dan segala kemewahan dunia. Tapi, yang mereka harapkan adalah kelak kamu jadi orang. Berakhlak mulia, santun kepada siapa saja dan menjadi pemimpin yang baik (untuk kaum Adam). Jadi pemimpin yang disegani masyarakat karena kesantunannya dalam memimpin. Bukan menjadi pemimpin yang dibenci masyarakat karena keserakahannya dalam memimpin. Kesemua itu dibangun dari sekarang, detik, menit, jam dan hari ini. Bukan besok, bukan lusa, bukan tahun depan. Tapi SEKARANG!!!. Waktu itu mahal, lebih mahal dari dollar, lebih mahal dari butiran mutiara dan lebih berharga dari intan dan permata. Jikalau saat ini kau gunakan untuk hal-hal yang baik, maka kelak kamu akan jadi orang yang lebih mahal dari intan dan permata. Namun sebaliknya, jika saat ini kau gunakan untuk hal-hal yang sia-sia, maka kelak kau akan jadi orang yang tak dibutuhkan orang lain, tak ada yang banggakan. Mau seperti itu? Kalau mau jadi seperti itu, mendinh sekarang packing barang dan sana PULANG!! Kasihan waktunya, kasihan ibu bapaknya gak ada yang bantu kerja di kebun.
Coba diam sejenak dan pikirkan baik-baik. Sudah berapa lama di Jakarta dan sudah berapa kali pulang kampung. Pernahkah kau membuat tersenyum ibu bapakmu ketika kamu pulang karena hasil dari pendidikanmu? Pernahkah?!!.
Pernahkah kamu membuat Ibu Bapakmu merasa bangga punya anak sepertimu? Pernahkah?!!.
Atau malah mereka marah-marah karena Shalatmu saja masih memprihatinkan, akhlakmu saja kalah masih kalah dengan anak SD. Jangan, jangan kecewakan mereka. Jangan biarkan mereka meneteskan air mata kecewa karenamu. Tapi buatlah mereka meneteskan air mata bahagia atas keberhasilanmu dan akhlakmu yang begitu mulia.
Jika saat ini kamu merasa kurang memberikan yang terbaik bagi ibu, bapak dan keluarga, coba refresh ulang lagi niatnya. Kamu ke Jakarta mau ngapain??.
Berhasil ataupun tidak, semuanya ada di tanganmu. Mulailah dari sekarang, jangan tunggu nanti, nanti dan nanti. Ingat!! Waktu itu mahal.
Senin, 09 Oktober 2017
Rabu, 09 Agustus 2017
Iri
Iri...
.
.
Iri kepada mereka yang punya hafalan Qur'an yang banyak.
Iri kepada mereka yang mutqin bahasa Arabnya.
Iri kepada mereka yang selalu berprestasi di kampusnya.
Iri kepada mereka yang selalu rajin bersedekah.
Iri kepada mereka yang tak pernah bosan berbuat baik.
Iri kepada mereka yang selalu membantu dikala saudara seimannya terkena musibah.
Iri, iri dan iri ketika diri ini hanya bisa menonton orang-orang disekeliling yang tiap hari berbuat sesuatu yang baru dan bermanfaat buat orang banyak. .
.
Iya,,, boleh saja iri dengan hal seperti itu. Yang penting adalah kita jangan terlalu merendah diri hingga timbul rasa malas belajar dan berbuat. Setiap kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing bukan?. It's okey, jadikan kelebihan orang lain sebagai motivasi kita untuk terus berkembang, jangan hanya berdiam diri. Jangan tiap hari pulang pergi kampus tanpa ada yang dibawa pulang. .
.
Mari tingkatkan mutu belajar kita, jangan mau tertinggal dengan orang lain.
.
.
Iri kepada mereka yang punya hafalan Qur'an yang banyak.
Iri kepada mereka yang mutqin bahasa Arabnya.
Iri kepada mereka yang selalu berprestasi di kampusnya.
Iri kepada mereka yang selalu rajin bersedekah.
Iri kepada mereka yang tak pernah bosan berbuat baik.
Iri kepada mereka yang selalu membantu dikala saudara seimannya terkena musibah.
Iri, iri dan iri ketika diri ini hanya bisa menonton orang-orang disekeliling yang tiap hari berbuat sesuatu yang baru dan bermanfaat buat orang banyak. .
.
Iya,,, boleh saja iri dengan hal seperti itu. Yang penting adalah kita jangan terlalu merendah diri hingga timbul rasa malas belajar dan berbuat. Setiap kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing bukan?. It's okey, jadikan kelebihan orang lain sebagai motivasi kita untuk terus berkembang, jangan hanya berdiam diri. Jangan tiap hari pulang pergi kampus tanpa ada yang dibawa pulang. .
.
Mari tingkatkan mutu belajar kita, jangan mau tertinggal dengan orang lain.
Minggu, 26 Maret 2017
Berjuang di tengah Samudera Kehidupan
Perjalanan hidup yang begitu panjang dan berkelok-kelok. Rintangan beribu-ribu batu yang terus datang menerpa hidup ini. Tak kunjung habis dan tak kunjung sirna dalam hidup. Tapi semua itulah yang akan melahirkan pribadi yang kuat, tangguh, tegar, pekerja keras dan tak mudah putus asa. Siapapun yang mampu menyingkirkan rintangan itu, yakin dan percayalah ia akan menjadi insan dibutuhkan oleh banyak orang di luar sana.
Setiap kita punya jalan yang berbeda-beda dalam menempuh hidup ini, setiap kita punya cara dan arah terbaik untuk menembus segala metamorgana kehidupan ini. Usaha yang besar akan menghasilkan sesuatu yang besar, begitu pula sebaliknya.
Jika saat ini kau merasa lelah dengan aktivitasmu, entah itu belajar atau hal-hal lain, disitulah engkau sedang berjuang untuk masa depanmu, untuk keluargamu, untuk teman-temanmu, untuk sahabat-sahabatmu dan untuk semua orang yang telah berjasa dalam hidupmu. Mereka tak meminta rupiah darimu, tapi mereka ingin melihatmu menjadi orang yang bermanfaat di dunia ini.
Coba kau ingat-ingat orang tuamu. Ingat Ayahmu, yang saat ini beliau sedang bekerja keras untuk membayar uang kuliahmu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harimu. Telah jauh engkau berlayar dalam samudera kehidupan ini. Ayahmulah yang bekerja keras dan banting tulang di belakang layar, Ayahmulah yang yang selalu kuat menjadi mesin kapalmu hingga saat ini kau masih berlayar. Beliau tak kenal lelah, tak kenal panas dan hujan hanya demi untukmu. Jangan ! jangan sampai cucuran keringatnya kau balas dengan cucuran air mata kecewa, tapi balaslah dengan cucuran air mata bahagia. Bahagia karena engkau kini menjadi anak yang berprestasi dan menjadi panutan masyarakat.
Dan coba ingat Ibumu, kau tau betapa kuatnya beliau? Kau tak betapa susahnya beliau menutup matanya dimalam hari disaat engkau masih bernaung dalam rahimnya? Hingga akhirnya kau lahir dengan tangisan manjamu, sedang ibumu membalasa tangis manjamu itu dengan senyum manis dan bahagia. Bahagia karena engkau kini lahir dunia untuk hidup bersamanya.
Dan saat ini kau kini telah dewasa, perjuangan Ibumu tak mampu pula kau bayar dengan nilai rupiah. Cinta dan kasih sayangnya yang tak tertandingi oleh miliaran manusia di dunia ini.
Sekarang, selamat berlayar mengarungi samudera kehidupan ini. Jika suatu saat dalam pelayaran ini engkau tertempa badai dan ombak besar, tegar dan kuatlah sekuat Ayah dan Ibumu yang begitu kuat memperjuangkan hidupmu hingga detik ini. Kuatlah seperti batu karang di lautan yang tak pernah goyah disaat ombak datang menerjangnya.
Mudah-mudahan dalam perjalanan di tengah-tengah samudera kehidupan ini, engkau dapat umpangan besar berupa ilmu pengetahuan dan keberhasilan untuk kau persembahkan buat semua orang di dunia ini, hingga namamu tertulis di layar sejarah.
Selamat berlayar !!
Setiap kita punya jalan yang berbeda-beda dalam menempuh hidup ini, setiap kita punya cara dan arah terbaik untuk menembus segala metamorgana kehidupan ini. Usaha yang besar akan menghasilkan sesuatu yang besar, begitu pula sebaliknya.
Jika saat ini kau merasa lelah dengan aktivitasmu, entah itu belajar atau hal-hal lain, disitulah engkau sedang berjuang untuk masa depanmu, untuk keluargamu, untuk teman-temanmu, untuk sahabat-sahabatmu dan untuk semua orang yang telah berjasa dalam hidupmu. Mereka tak meminta rupiah darimu, tapi mereka ingin melihatmu menjadi orang yang bermanfaat di dunia ini.
Coba kau ingat-ingat orang tuamu. Ingat Ayahmu, yang saat ini beliau sedang bekerja keras untuk membayar uang kuliahmu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harimu. Telah jauh engkau berlayar dalam samudera kehidupan ini. Ayahmulah yang bekerja keras dan banting tulang di belakang layar, Ayahmulah yang yang selalu kuat menjadi mesin kapalmu hingga saat ini kau masih berlayar. Beliau tak kenal lelah, tak kenal panas dan hujan hanya demi untukmu. Jangan ! jangan sampai cucuran keringatnya kau balas dengan cucuran air mata kecewa, tapi balaslah dengan cucuran air mata bahagia. Bahagia karena engkau kini menjadi anak yang berprestasi dan menjadi panutan masyarakat.
Dan coba ingat Ibumu, kau tau betapa kuatnya beliau? Kau tak betapa susahnya beliau menutup matanya dimalam hari disaat engkau masih bernaung dalam rahimnya? Hingga akhirnya kau lahir dengan tangisan manjamu, sedang ibumu membalasa tangis manjamu itu dengan senyum manis dan bahagia. Bahagia karena engkau kini lahir dunia untuk hidup bersamanya.
Dan saat ini kau kini telah dewasa, perjuangan Ibumu tak mampu pula kau bayar dengan nilai rupiah. Cinta dan kasih sayangnya yang tak tertandingi oleh miliaran manusia di dunia ini.
Sekarang, selamat berlayar mengarungi samudera kehidupan ini. Jika suatu saat dalam pelayaran ini engkau tertempa badai dan ombak besar, tegar dan kuatlah sekuat Ayah dan Ibumu yang begitu kuat memperjuangkan hidupmu hingga detik ini. Kuatlah seperti batu karang di lautan yang tak pernah goyah disaat ombak datang menerjangnya.
Mudah-mudahan dalam perjalanan di tengah-tengah samudera kehidupan ini, engkau dapat umpangan besar berupa ilmu pengetahuan dan keberhasilan untuk kau persembahkan buat semua orang di dunia ini, hingga namamu tertulis di layar sejarah.
Selamat berlayar !!
Jumat, 24 Maret 2017
Akibat Makanan yang Haram
Sungguh banyak kaum Muslimin pada
masa sekarang ini menggampangkan masalah keharaman. Mereka terjerumus di
dalamnya dan berlomba-lomba kepadanya, terutama dalam urusan harta. Akibatnya,
kehalalan bagi mereka adalah apa yang berada di tangan walaupun itu keharaman
yang jelas tiada syubhat di dalamnya. Mereka mentakwilkannya dengan
takwil-takwil serampangan, pertimbangan murahan, dan siasat-siasat lemah yang
hanya menambah keharaman itu semakin diharamkan dan menambah kezhaliman semakin
pekat. Syaitanlah yang menarik mereka kepadanya, dan kecintaan kepada dunia
serta mengikuti hawa nafsu mendorong mereka ke dalam kelemahan iman dan kurang
amanah. Karena itu, jangan heran bila engkau melihat dan mendengar setiap hari
ada orang yang jatuh ke dalam lumpur keharaman yang hina. Ia menjual Agama dan
amanahnya dengan harta dunia yang sedikit. Na’udzubillahi min dzalik.
Banyak kenyataan-kenyataan di
luar sana yang telah kita saksikan. Orang-orang yang tidak takut kepada Allah,
orang-orang yang imannya masih sangat lemah dan orang-orang yang masih menjadi
babu-babu syaithan. Mereka-mereka itulah yang tidak mengenal halal haramnya
sesuatu. Pada hal, Allah telah menyempurnakan nikmat untuk kita, dan
menyempurnakan Agama untuk kita, dengan menjadikannya sebagai Agama yang
lengkap lagi sempurna yang mencakup semua aspek kehidupan. Dengan Allah menjaga
lima kebutuhan paling primer: agama, akal, kehormatan, jiwa dan harta.
Dalam tulisan sederhana ini, saya
akan menjelaskan 6 akibat makanan yang haram.
1. Menghilangkan keberkahan
Allah berfirman :
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (QS.
Al-Baqarah: 276)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “penjual
dan pembeli itu berada dalam khiyar selama keduanya belum berpisah. Jika
keduanya jujur dan transparan, maka keduanya diberkahi dalam jual belinya.
Sebaliknya, jika menyembunyikan dan berdusta, maka dihapuskan keberkahan jual
belinya”. (HR. Bukhari dan An-Nasa’i).
Lihatlah saudaraku, tentang akibat dusta dan
bertransaksi dengan keharaman berupa riba, kecurangan dan selainnya,
sesungguhnya itu menghilangkan keberkahan. Siapa yang melakukan kecurangan dan
menyembunyikan cacat barang karena menginginkan keuntungan lebih, maka ia
dihukum dengan kebalikan tujuannya, yaitu hilang keberkahan harta yang
diambilnya. Meskipun bertambah secara kuantitas, tapi tiada keberkahan di
dalamnya, atau ia didera musibah, petaka, penyakit atau suatu peristiwa, lalu
ia membelanjakan harta tersebut untuk mengatasi musibah yang menimpanya. Namun,
jika jujur dan menjelaskan cacat barang serta tulus kepada saudaranya sesama
muslim, maka harga barang itu menjadi sedikit, tapi Allah Ta’ala memberkahi
harta tersebut. Banyak orang pada masa sekarang mengeluhkan sedikitnya
keberkahan harta padahal hartanya banyak.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“sumpah itu melariskan barang dagangan tapi menghilangkan keberkahan”. (HR.
Al-bukhari).
Bersumpah, yaitu bersumpah atas jual beli, dan ini
tidak boleh. Memang dapat melariskan barang dagangan, yaitu terjual dengan harga
yang banyak, tapi tidak ada keberkahan pada harta ini. Lalu apa gunanya?!
Banyak pebisnis pada masa sekarang mengalami
kebangkrutan dan hutang mereka menumpuk tidak lain karena disebabkan muamalah
yang diharamkan, terutama riba. Semoga Allah melindungi kita darinya dan dari
segala keharaman.
2. Do’a tidak terkabul
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sa’ad bin Waqqassh: “wahai Sa’ad,
perbaikilah makananmu, niscaya do’amu terkabul”. (HR. ath-Thabrani)
Dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda : “Sungguh beliau menyebutkan orang yang menempuh
perjalanan panjang dalam keadaan rambut kusut, tubuh berdebu, ia mengangkat
kedua tangannya seraya berucap ‘Wahai Rabb, Wahai Rabbi!’ sementara makanannya
haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makanan dari yang haram,
maka bagaimana mungkin do’anya terkabul?”. (HR. Muslim).
Perhatikanlah,
semoga Allah merahmatimu. Pengaruh makan haram dalam menghalangi terkabulnya
do’a. Apa daya seseorang ketika sebab-sebab langit terputus darinya, ia
mengangkat kedua tangannya ke langit saat sedang sakit mengharapkan kesembuhan
dari penyakitnya, saat ia berada dalam kesusahan yang mengharapkan kelapangan
darinya, dan saat ia berada dalam duka yang mengharapkan kelapangan darinya. Ia
mengangkat kedua tangannya dengan mengiba kepada Rabbnya agar dihilangkan
kesusahannya dan dilapangkan kesedihannya, sedang pintu-pintu langit di tutup
karena ia makan haram, maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan? Andaikan
tidak ada dalam keharaman kecuali kerugian ini, niscaya itu sudah bisa menjadi
penjera dan penghalau terbesar untuk tidak makan keharaman. Karena itu,
perbaikilah makananmu, niscaya do’amu dikabulkan, dan janganlah tutup
pintu-pintu langit dengan makan keharaman. Karena engkau butuh kepada Rabbmu,
dan engkau tidak pernah tidak butuh kepada-Nya.
Penya’ir berkata
:
Kita menyeru
kepada Ilah dalam segala kesusahan
Kemudian kita
melupakan-Nya ketika kesusahan telah hilang
Bagaimana
mungkin kita mengharapkan terkabulnya do’a
Sedangkan
kita menutup jalannya dengan dosa
3. Penghalang dari
diterimanya sedekah, haji, umrah, dan semua yang di dalamnya terdapat harta
haram
Nabi Shallallahu
‘alahi wa sallam bersabada : “Sesungguhnya Allah itu baik tidak menerima
kecuali yang baik-baik”. (HR. Muslim).
Dalam hadits
lain disebutkan “Jika seseorang pergi berhaji dengan nafkah yang baik dan
menaruh kakinya di lembah lalu berseru :’labbaika Allahumma labbaik,’
maka penyeru berseru kepadanya dari langit, ‘Labbaika wa Sa’dik’, bekalmu halal
kendaraanmu halal, dan hajimu mabrur tanpa berdosa. Jika ia keluar dengan
membawa nafkah yang buruk dan menaruh kakinya di lembah lalu berseru :’Labbaika
Allahumma Labbaik’, maka penyeru berseru kepadanya ‘La Labbaik wala sa’dik’,
bekalmu haram, nafkahmu haram, dan hajimu tidak mabrur’.” (HR. Ath-Thabrani).
Dalam Al-Musnad
disebutkan :”Tidaklah seorang hamba mencari harta dari keharaman lalu
menafkahkannya dengan diberi keberkahan, dan tidaklah menyedekahkannya lalu
diterima sedekahnya, serta tidaklah ia meninggalkannya di belakang punggungnya
melainkan itu semakin menambahnya ke Neraka. Sesungguhnya Allah tidak menghapus
keburukan dengan keburukan, tetapi menghapus keburukan dengan kebaikan.
Sesungguhnya keburukan itu tidak menghapuskan keburukan”. (HR. Ahmad.
Syaikh Al-Albani rahimahullah mendha’ifkannya dalam Dha’iiful Jaami no.
1625).
Anehnya,
sebagian orang tidak berhati-hati dari muamalah yang diharamkan. Di samping
itu, mereka menyedekahkan dan menyumbangkan dalam aspek-aspek kebajikan berupa
membangun masjid dan selainnya, berhaji dan berumroh, serta menyangka bahwa itu
akan diterima dari mereka, dan bahwa
sedekah-sedekah ini akan menghapuskan keburukan makan haram. Orang-orang yang
merana ini tidak mengetahui bahwa mereka telah membinasakan diri mereka dalam keharaman,
dan sedekah mereka tidak diterima, karena sedekah tersebut bukan sedekah yang
baik, dan Allah tidak menerima kecuali yang baik.
‘Abdullah bin
‘Umar berkata “Sungguh menolak seperenam dirham dari keharaman adalah lebih
baik dari seratus ribu dirham yang dinafkahkan di jalan Allah”.
‘Abdullah bin
Al-Mubarak berkata “Sungguh jika aku menolak satu dirham dari syubhat lebih
aku sukai dari pada menyedekahkan 600.000 dirham.”
4. Kerusakan Hati
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :”Ingatlah, bahwa di dalam tubuh terdapat
segumpal daging; jika baik, maka seluruh tubuh menjadi baik. Dan jika rusak,
maka seluruh tubuh menjadi rusak pula, ketahuilah bahwa itu adalah hati”.
(HR. Muttafaqun ‘alaih)
Ibnu Hajar
berkata “Didalamnya terdapat peringatan supaya mengagumkan nilai hati dan
menganjurkan supaya memperbaikinya, serta mengisyaratkan bahwa penghasilan yang
baik itu memiliki dampak”. (Fath al-Baari). “Imam Ahmad ditanya, ‘dengan apakah
hati menjadi lunak? Ia menjawab ‘Dengan makan yang halal’.’’ (Manaaqib
al-Imaam Ahmad, hal. 255).
5. Hidup Dalam Keadaan
hina, gelisah lagi bimbang
Hal itu karena
ia terombang ambing dalam kemaksiatan kepada Allah, baik pagi maupun petang.
Pakaian yang dikenakannya berasal dari keharaman, tempat tinggalnya dari
keharaman, makan dan minumnya dari keharaman, dan do’anya tidak dikabulkan.
Hatinya dirusak oleh makan keharaman. Kemudian ia berada dalam ketakutan dan
kecemasan dari tersingkap urusannya, diketahui pencuriannya dan
penjambretannya. Bagaiman merasa tentram orang yang demikian keadaannya, dan
merasa tenang orang yang demikian akibatnya, terutama orang melakukan taruhan
dan memperdaya orang lain untuk mengambil harta mereka. Engkau melihatanya
menjalani kehidupan di siang hari dalam keadaan hina dan di malam hari dalam
kedukaan. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, ketika tempat dan
kampungnya diketahui. Ia ketakutan ketika mendengar dering teleponnya berbunyi, dan terkejut
ketika pintu rumahnya diketuk. Allah berfirman “Mereka mengira bahwa
tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka”. (QS. Al-Baqarah:
4).
Semoga Allah
tidak memberkahi harta yang mendatangkan kehinaan, dan perdagangan yang
mengakibatkan kesusahan dan kesudahan.
6. Ancaman dengan adzab
yang keras pada hari kiamat
Demi Allah, itu
adalah dampak yang besar dan musibah yang parah. Di samping orang yang makan
keharaman itu yang mendaptkan duka, kesedihan, kerusakan hati, dan tidak
terkabul do’anya, ia juga diberi ancaman dengan api yang menyala-nyala yang
hanya dimasuki orang yang paling celaka.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya
orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu
menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang
menyala-nyala”. ( QS. An-Nisa’: 10).
Orang yang makan
(mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirnya orang yang
kemasukan syaithan lantaran tekanan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian
itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu
sama dengan riba. Sedang Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya
apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya
(terserah) kepada Allah Ta’ala. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka
orang itu “Adalah penghuni-penghuni Neraka; mereka kekal di dalamny”. (QS.
Al-Baqarah: 275).
Dalam hadits
disebutkan “Suatu daging yang tumbuh dari keharaman, maka neraka lebih patut
baginya”. (. HR. Ath-Thabrani)
Bagamana mungkin
orang yang berakal lebih mementingkan dunia daripada akhirat, lebih mementingkan negeri mereka yang
terbatas daripada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, dan dikumpulkan
sebagai umpan Jahannam.
Namun, para pencari
dunia itu telah dibutakan oleh dunianya, difitnah oleh hawa nafsunya, dan
disesatkan oleh Syaithan dari kalangan jin dan manusia, sehingga ia menjadi
hamba dinar dan dirham.
Celakalah hamba
dinar dan dirham, orang yang merana ini tidak tahu bahwa pada Hari Kiamat kelak
ia akan berandai-andai sekiranya bisa menebus dirinya dari adzab dengan semua
yang ada di bumi.
Allah berfirman
:
“Sedang
mereka saling melihat. Pada hari itu, orang yang berdosa ingin sekiranya dia
dapat menebus (dirinya) dari adzab dengan anak-anaknya, dan istrinya dan
saudaranya, dan keluarga yang melindunginya (di dunia), dan orang-orang di bumi
seluruhnya, kemudian mengharapkan (tebusan) itu dapat menyelamatkannya”. (QS. Al-Ma’arij: 11-14)
Demi Allah, jika
seorang muslim hidup dalam keadaan fakir hanya cukup dengan memakan sepotong
roti, tinggal di dalam tenda terbuat dari bulu, dan hidup dalam keadaan mulia,
damai, tentram, dikabulkan do’anya, diterima amalnya, dan selamat dari api yang
menyala-nyala, itu lebih disukainya dan lebih mulia daripada hidup di dalam istana
yang bisa makan segala macam makanan, memakai pakaian paling mewah, dan
mengendarai kendaraan paling mewah, sedang ia dalam kehinaan dan kesusahan,
do’anya tidak diterima, amalnya tidak dinaikkan, dan diberi ancaman dengan
Neraka yang menyala-nyala. Tapi dimanakah akal yang sehat, dan hati yang
berpandangan, yang lebih mengutamakan apa yang ada di sisi Allah berupa
kenikmatan dan kemuliaan dibandingkan syahwat dunia dan kesenangannya yang
fana?.
sumber :buku "akibat makanan yang haram" :Abdullah bin Sa'ad Al Faalih
Jumat, 17 Maret 2017
Keikhlasan si Mas Gojek
Sore itu, saya mulai beres-beres
pulang ke rumah setelah mengajarkan Qur’an kepada anak-anak usia TK dan SD.
Begitu pula dengan anak-anak yang super semangat membereskan semua peralatan
belajarnya ketika jam pulang. Pertemuan
hari itu dengan anak-anak diakhiri dengan muroja’ah dan juga membaca doa lalu
kemudian bubar satu per satu dari lingkaran halaqoh Qur’an. Bubar untuk pulang
ke rumah masing-masing. Saya pun terakhir bubar dari lingkaran halaqoh Qur’an
sore itu. Ya…namanya juga pengajar yang pulangnya lebih akhir dibandingkan
anak-anak. Saya pun bergegas pergi dari ruangan yang berdinding bambu itu membawa
tas yang lumayan berat.
Dalam perjalanan pulang ke rumah
sore itu, keadaan jalan tidak begitu mecat. Saya pun berlalu dengan cepat
dengan motor kirana alias si kuda hitam yang selalu setia menemani dan
mengangkut kemana pun saya pergi. Beberapa menit dalam perjalanan itu, saya
berbelok kanan di jalan kodau. Tidak cukup 2 menit di jalan kodau,si kuda hitam
mulai mengeluarkan tanda-tanda aneh. tanda-tanda yang sudah saya hafal dan tau
sekali ada apa dengannya. Yapp tidak lain dan tidak bukan bensinnya habis. Dari
kemarin memang saya sendiri sudah memprediksi bahwa si kuda hitam ini
sepertinya sudah mulai lapar. Dan ternyata disore hari itu benar, ia tak mampu
melanjutkan perjalanan bersama saya. Karena bensinnya habis, tidak ada pilihan
lain. Saya dorong sampai menemukan
bensin alias makanan buat si kuda hitam. Kehabisan bensin di jalan memang sudah
hal yang sangat biasa terjadi bagi saya, diakibatkan motornya sudah lumayan tua
dan beberapa hal yang sudah tidak berfungsi akhirnya saya ketahui banyak atau
sedikitnya bensin yang ada dalam perut si kuda hitam itu. Pede dan tak
menghiraukan kendaraan lain yang ulu lalang di jalan ramai sore itu, saya
mendorong dengan perasaan agak jengkel. Tiba-tiba ada motor berwarna putih plus
dengan pengendaranya yang berjaket hijau dan berhelm hijau pula. Ah… ternyata si mas
gojek. Tanpa salam dan tanpa permisi, si mas gojek bertanya dengan muka yang terlihat
lelah “mas, motornya kenapa?”. Tanya si mas gojek. “kehabisan bensin mas”,
jawabku. “naik aja ke motornya mas, nanti saya bantu”. Tawaran si mas gojek.
Tapi karena saya berfikir penjual bensin tidak terlalu jauh dan tidak mau
merepotkan orang, saya menolak tawaran si mas gojek dan melanjutkan mendorong
si kuda hitam. “mas, naik aja mas, kasian masnya sudah sore begini pula” si mas
gojek kembali menawarkan pertolongannya. Saya sedikit memperhatikan raut wajah
si mas gojek yang sudah terilihat lelah juga terlihat wajah ikhlasnya yang
ingin membantu orang. Iya, membantu saya sore itu. Saya kembali duduk di atas
si kuda hitam. si mas gojek mengendarai motornya sambil melentangkan kakinya
ke arah klapot motor saya, ngeng…
motorku kini kembali melanjutkan perjalanan dengan bantuan dorongan si mas
gojek. Dalam perjalanan itu, saya menoleh kiri dan kanan untuk mencari dimana
penjual bensin. Sekitar 500 meter saya berlalu tertnyata belum ketemu-ketemu
juga penjual bensin eceran di pinggir jalan. Pada hal biasanya, ketika di
perjalanan saya kehabisan bensin, penjual bensin eceran tidak begitu jauh. Hanya beberapa meter saja sudah
ketemu. Tapi kali ini tidak. Sabar hehe…
Si mas gojek terus membantu
mendorong motor saya dihari yang mulai gelap itu. Dalam perjalanan, hati kecil
saya sangat bersyukur karena ada orang yang begitu tulus dan begitu ikhlas
membantu saya. iya sangat bersyukur. Sekitar 1 km dalam perjalanan itu,
akhirnya saya menemukan penjual bensin eceran. “mas, berhenti disini aja, tuh
ada penjual bensin” teriakku ke mas gojek. Si mas gojek pun berhenti.
Setelah berhenti, bukannya ngisi bensin
si mas gojek malah nyuruh saya untuk naik ke motor kembali dan melanjutkan
perjalanan dengan perut kosong si kuda hitam. “loh.. kenapa mas? Ini kan ada
penjual bensin”. Kataku ke mas gojek. “di depan ada pom bensin mas. Tidak jauh
dari sini” kata si mas gojek. “o…iya, ada ya pom bensin dekat sini”. Kataku
dengan sedikit cengingisan. Ngeng… kembali melanjutkan perjalanan.
Tidak lama kemudian, tiba juga
akhirnya di pom bensin. Sebelum belok kanan ke pom bensin, si mas gojek
memintaku untuk mengambil jalan tengah persiapan belok kanan pom bensin. Saya
pun mengikuti perintah si mas gojek. Tepat depan pom bensin (di jalan), ketika
saya mau belok kanan, si kuda hitam belum berhenti dengan sempurna saya sudah
keburu menurunkan kedua kaki dan menyenggol tas yang saya taro bagian depan
sedangkan si mas gojek sudah belok kanan ke arah pom bensin. Brukkkk….ah… tas
saya jatuh. Si kuda hitam pun saya rem mendadak dalam keadaan yang sudah panik.
Saya ambil tas yang terjatuh di jalan dengan tangan kiri karena tangan kanan
menahan si kuda hitam agar tidak ikutan jatuh. Setelah tas itu berhasil saya
ambil, saya pun membelokkan si kuda hitam ke pom bensin dengan tergesah-gesah
karena kendaraan di jalan sudah mulai macet berlawanan arah. Karena sikap
terburu-buru dan tergesah-gesah, akhirnya bruuukkkkk…. Si kuda hitam jatuh ke
kanan saya pun juga ikutan jatuh. Setelah saya berusaha bangun, terlihat
seorang lelaki tua turun dari motornya dan membantu membangunkan si kuda hitam
yang terjatuh “mas, hati-hati ya” kata lelaki si tua itu. “iya pak, terima kasih banyak”.
Kataku. Sejumlah kendaraan yang sudah memadati jalan membunyikan klaksonnya.
Begitu pula dengan mobil avanza yang tepat berada di depan saya ketika jatuh.
Saya membelokkan motor ke kanan arah pom bensin dan mencari-cari si mas gojek
yang tadi membantu mendorong motor saya yang kehabisan bensin. Mataku melirik
dan menoleh ke sana kemari tapi tak kunjung menemukan si mas gojek. Ah… pada
hal saya belum sempat berterima kasih banyak kepadanya karena keikhlasannya
yang begitu tulus membantu saya. karena mas gojeknya menghilang saya langsung
mengisi bensin dan melanjutkan perjalanan ke rumah tanpa menyampaikan terima
kasih banyak ke mas gojek. sekitar 5 menit di perjalanan, tiba-tiba ibu jari
saya terasa perih dan tangan kiri juga perih begitu pula dengan betis bagian
kanan. Tapi, yah… ini hanya perih biasa saja. Maklum tadi abis dubrak
bareng motor di tengah jalan. Terus
melanjutkan perjalanan dengan hati-hati dan akhirnya Alhamdulillah tiba di
rumah dengan selamat. Lalu kemudian persiapan shalat maghrib dan ngajar kembali
anak-anak di rumah.
Besok-besok perhatikan motornya jangan kehabisan bensin lagi di jalan hehe…
Minggu, 12 Maret 2017
Untukmu yang memendam rasa
"Bukan curhat,,, hanya merangkai kata saja menjadi sebuah kalimat hehe.."
Hari hari yang telah berlalu bersama angin yang membawa pesan yang tak tersampaikan, hari yang telah berlalu yang akhirnya menjadi sebuah sejarah kehidupan yang mungkin tidaklah direkam oleh para sejarawan, akan tetapi terekam oleh jiwa dan hati yang berlalu bersamanya. Hari hari yang berlalu bersama rintihan hujan yang menyisakan butiran-butiran embun yang menari di atas daun hijau nan segar. Hari yang telah pergi bersama masa lalu yang kini hanya tinggal menjadi sebuah kenangan. Dan hari yang telah pergi yang kini menyisakan rindu yang begitu dalam. Iya, begitulah putaran kehidupan di atas bumi ini. Waktu yang terus berjalan tak akan menunggu anda untuk siap mengikuti setiap putaran kehidupan. Ia bukanlah sebuah angkutan umum yang bisa menunggu untuk berlalu bersamanya.
Perjalanan yang tak pernah berhenti yang membawa manusia mengarungi samudera kehidupan. Perjalanan yang mengenalkan manusia tentang sebuah rasa yang bergejolak. Rasa yang tak mampu tersampaikan, rasa yang hanya bersarang dalam hati, rasa yang begitu sulit untuk diungkapkan kepada seseorang yang telah membuat rasa itu tumbuh tak terawat. Ya... Itulah rasa yang terpendam. Rasa yang kini menjadi tamu tak diundang oleh para remaja. Ia memang tidak terlihat oleh kasat mata tapi ia terlihat oleh mata hati. Ia memang tak sekuat senjata tapi ia mampu membuat seseorang lemah. Iya lemah, lemah tak berdaya. Ia juga mampu mengalihkan kedua bola mata untuk mencuri pandangan ke arah siapa yang telah membuatnya tumbuh dan bersarang. Ia begitu sulit untuk dihentikan bereaksi. Tapi sulit bukan berarti tak mampu untuk dipatahkan. Hey... Kau yang kini sedang merasakannya, jangan larut bersamanya, jangan biarkan ia menenggelamkanmu dalam lautan hati yang tak bertepi.
"UNGKAPKAN, JANGAN DIPENDAM"
Hari hari yang telah berlalu bersama angin yang membawa pesan yang tak tersampaikan, hari yang telah berlalu yang akhirnya menjadi sebuah sejarah kehidupan yang mungkin tidaklah direkam oleh para sejarawan, akan tetapi terekam oleh jiwa dan hati yang berlalu bersamanya. Hari hari yang berlalu bersama rintihan hujan yang menyisakan butiran-butiran embun yang menari di atas daun hijau nan segar. Hari yang telah pergi bersama masa lalu yang kini hanya tinggal menjadi sebuah kenangan. Dan hari yang telah pergi yang kini menyisakan rindu yang begitu dalam. Iya, begitulah putaran kehidupan di atas bumi ini. Waktu yang terus berjalan tak akan menunggu anda untuk siap mengikuti setiap putaran kehidupan. Ia bukanlah sebuah angkutan umum yang bisa menunggu untuk berlalu bersamanya.
Perjalanan yang tak pernah berhenti yang membawa manusia mengarungi samudera kehidupan. Perjalanan yang mengenalkan manusia tentang sebuah rasa yang bergejolak. Rasa yang tak mampu tersampaikan, rasa yang hanya bersarang dalam hati, rasa yang begitu sulit untuk diungkapkan kepada seseorang yang telah membuat rasa itu tumbuh tak terawat. Ya... Itulah rasa yang terpendam. Rasa yang kini menjadi tamu tak diundang oleh para remaja. Ia memang tidak terlihat oleh kasat mata tapi ia terlihat oleh mata hati. Ia memang tak sekuat senjata tapi ia mampu membuat seseorang lemah. Iya lemah, lemah tak berdaya. Ia juga mampu mengalihkan kedua bola mata untuk mencuri pandangan ke arah siapa yang telah membuatnya tumbuh dan bersarang. Ia begitu sulit untuk dihentikan bereaksi. Tapi sulit bukan berarti tak mampu untuk dipatahkan. Hey... Kau yang kini sedang merasakannya, jangan larut bersamanya, jangan biarkan ia menenggelamkanmu dalam lautan hati yang tak bertepi.
"UNGKAPKAN, JANGAN DIPENDAM"
Rabu, 08 Maret 2017
Remaja Berkarakter untuk Indonesia
Untuk teman-teman remaja dimana pun kalian berada, yang hatinya sedang bergejolak oleh cinta rasa sayang yang tidak terbina dengan syariat. Saya menulis ini bukan karena saya adalah seorang pemuda yang suci, sok pintar, sok menasehati, dan bukan pula sok alim. Saya menulis ini karena saya merasa peduli dengan kalian yang masih sibuk dengan pasangan yang tidak halal bagimu. Yang setiap Minggu atau bahkan tiap hari kalian bersama, berpegangan tangan, jalan bareng, makan suap suapan layaknya suami istri. Why? Kenapa kalian melakukan itu? Kenapa kalian begitu berani dan merasa tidak malu kepada Dzat yang telah menciptakan kalian dengan sempurna? Agama kalian adalah Islam. Islam adalah agama yang lurus, mengajarkan semua hal yang berkaitan dengan kehidupan. Jangankan shalat, masuk kamar mandi pun ada adab dan aturannya apa lagi soal rumah tangga.
Saya dan semua orang juga tau bahwa manusia dilahirkan yang disertai dengan hawa nafsu. Punya rasa suka terhadap lawan jenisnya. Tapi bukan berarti rasa suka itu dilarutkan melalui pacaran. Jangan pikir pacaran itu dapat memuaskan hawa nafsumu. Tidak kawan! Itu bukan jalan yang tepat yang harus kalian tempuh. Jika kalian belum mampu menahan hawa nafsumu dan juga belum mampu untuk menikah, maka berpuasalah. Coba perlahan-lahan latih dirimu untuk meninggalkan hal-hal yang tak seharusnya dilakukan.
Coba lirik disekelilingmu, betapa banyak wanita-wanita yang hamil di luar nikah. Dan itu otomatis mereka telah mencoreng malu di muka keluarganya. Atau peribahasa orang Makassar "pada disapu tai di rupangku na pakua siri' ".
Juga pernah tersebar berita siswa SMA yang melahirkan di kebun, entah itu hoax atau apalah, dari hal itu kita bisa mengambil pelajaran. Coba lihat dan perhatikan mereka. Apa mau jadi orang setelahnya? Na'udzu billahi min dzalik.
Waktu dekat kemarin, kita dihebohkan dengan berita-berita pelecehan terhadap umat Islam oleh pemimpin di negeri tercinta ini. Rakyat yang tak bersalah digusur paksa oleh penguasa. Dan mereka hanya merintih, meratapi nasib yang begitu menyayat hati mereka. Apakah kalian hanya diam dan gigit jari dan hanya mampu berkata "kasihan ya". Bangkitlah kawan! Bangkitlah, perbaiki lisanmu, perbaiki akhlakmu, perbanyak ilmumu karena masa depan bangsa ini ada di tangan kalian.
Saya berharap kita semua segera sadar akan apa yang telah terjadi. Negara kita butuh pemimpin yang bijak, berkarakter, beriman dan cinta akan rakyatnya. Jika saat ini kalian belum mampu menjadi seorang pemimpin dan mengayomi banyak orang, jadilah seorang pendidik. Bukan larut dalam pacaran. Mendidik anak-anak menjadi generasi yang berkarakter, berwibawa, peduli terhadap orang lain dan hal yang lainnya.
Mudah-mudahan Allah selalu menjaga kita dari segala hal yang dapat merusak diri dan juga bangsa dan negara ini.
Allahu Akbar !!!.
Bangkit! Karena menyerah bukan solusi.
Saya dan semua orang juga tau bahwa manusia dilahirkan yang disertai dengan hawa nafsu. Punya rasa suka terhadap lawan jenisnya. Tapi bukan berarti rasa suka itu dilarutkan melalui pacaran. Jangan pikir pacaran itu dapat memuaskan hawa nafsumu. Tidak kawan! Itu bukan jalan yang tepat yang harus kalian tempuh. Jika kalian belum mampu menahan hawa nafsumu dan juga belum mampu untuk menikah, maka berpuasalah. Coba perlahan-lahan latih dirimu untuk meninggalkan hal-hal yang tak seharusnya dilakukan.
Coba lirik disekelilingmu, betapa banyak wanita-wanita yang hamil di luar nikah. Dan itu otomatis mereka telah mencoreng malu di muka keluarganya. Atau peribahasa orang Makassar "pada disapu tai di rupangku na pakua siri' ".
Juga pernah tersebar berita siswa SMA yang melahirkan di kebun, entah itu hoax atau apalah, dari hal itu kita bisa mengambil pelajaran. Coba lihat dan perhatikan mereka. Apa mau jadi orang setelahnya? Na'udzu billahi min dzalik.
Waktu dekat kemarin, kita dihebohkan dengan berita-berita pelecehan terhadap umat Islam oleh pemimpin di negeri tercinta ini. Rakyat yang tak bersalah digusur paksa oleh penguasa. Dan mereka hanya merintih, meratapi nasib yang begitu menyayat hati mereka. Apakah kalian hanya diam dan gigit jari dan hanya mampu berkata "kasihan ya". Bangkitlah kawan! Bangkitlah, perbaiki lisanmu, perbaiki akhlakmu, perbanyak ilmumu karena masa depan bangsa ini ada di tangan kalian.
Saya berharap kita semua segera sadar akan apa yang telah terjadi. Negara kita butuh pemimpin yang bijak, berkarakter, beriman dan cinta akan rakyatnya. Jika saat ini kalian belum mampu menjadi seorang pemimpin dan mengayomi banyak orang, jadilah seorang pendidik. Bukan larut dalam pacaran. Mendidik anak-anak menjadi generasi yang berkarakter, berwibawa, peduli terhadap orang lain dan hal yang lainnya.
Mudah-mudahan Allah selalu menjaga kita dari segala hal yang dapat merusak diri dan juga bangsa dan negara ini.
Allahu Akbar !!!.
Bangkit! Karena menyerah bukan solusi.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
“PERAWANKU DIRENGGUT PACARKU” Ketika kita menyimak orang yang menjalin hubungan atau yang biasa disebut pacaran, mungkin tidak asing la...
-
”GARA-GARA HAMMAM (KAMAR MANDI)” Dua hari setelah dikumandangkan Takbir, membesarkan Nama Allah dalam pelaksanaan shalat Idul Adha 1435...
-
“RISAL ANAK AREN” Disaat matahari mulai bersembunyi dibalik gunung lompo ...



