Rabu, 19 November 2014

Perbedaan Pendapat Tentang Basmalah


Sebelum kita membahas tentang  basmalah, alangkah baiknya kita mengetahui tentang Agama yang kita anut (Islam). Islam (bahasa Arab Al-Islam) yang artinya adalah berserah diri kepada Tuhan, yaitu Allah. Sesuai dengan fitrah manusia, baik dalam hal Aqidah, Syari’at, Ibadah, Muamalah dan lainnya. Allah Azza Wa Jalla menyuruh manusia untuk menghadap dan masuk ke Agama yang fitrah. Allah Azza Wa Jalla berfirman “maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Islam), (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada penciptaan Allah. (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Kemudian Rasululullah SAW bersabda:” tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi , Nasrani atau majusi”.

Thoyyib, itulah sekilas tentang Islam, kalau anda belum puas tanya sendiri sama Ustadz-ustadz nah…

Ba’dahu, Disini saya akan membahas tentang BASMALAH. Dalam islam, lahirlah sebuah madzhab yang dijadikan sebagai ijtihad dalam Agama Islam ketika hukum-hukum tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan Hadits serta ijtihad Sahabat Nabi. Madzhab-madzhab ini terdiri dari 4 madzhab yaitu madzhab hanafi (Abu Hanifa), Madzhab Maliki (Imam Malik Bin Anas), Madzhab Syafi’i (Imam Muhammad Bin Idris As-Syafi’i) dan Madzhab Hambali (Ahmad Bin Hambal). Nah…yang menjadi pertanyaan adalah kapankah madzhab itu lahir? Madzhab itu lahir dimasa tabi’in.

Thoyyib, kembali lagi ke masalah BASMALAH. Dari ke empat madzhab diatas, terjadi perbedaan pendapat dalam masalah membaca basmalah (dibaca pelan (tidak dikeraskan) atau dikeraskan dan juga apakah basmalah itu bagian dari surah Al-Fatihah dan surah yang lain?).  berikut jawabannya.

  1..   Maliki (Madzhab) / Hanafi
Berpendapat bahwa “basmalah bukan termasuk Al-Fatihah, kecuali bagian dari surah An-Naml”. Dalilnya adalah “saya shalat bersama Rasul, Umar dan Utsman, maka aku tidak mendengar seorang pun dari mereka yang membaca basamalah”. (HR. Muslim dan Ahmad).

   2.   Abdul Mubarak, ia berkata:
sesunggguhnya basmalah itu adalah termasuk ayat dalam setiap surah dalam Al-Qur’an”.
Dalilnya adalah “Anas berkata: “ketika Rasulullah ada di tengah-tengah kita, Rasulullah menutup mata, mengangkat kepala dan tersenyum, maka kami bertanya: “wahai Rasulullah apa yang menjadikan kau tersenyum?” Rasulullah menjawab :” telah turun surah kepadaku (Al-Kautsar) Rasulullah membaca dengan basamalah”.

   3.     Syafi’I dan Hambali, berpendapat:
basmalah itu ayat dari surah Al-Fatihah, wajib membacanya dalam shlalat”. Kecuali madzhab Hambali berpendapat “Basmalah itu dibaca pelan dan tidak keras”.
Kalau Imam Syafi’I berpendapat “Basmalah dibaca pelan dalam shalat duhur dan Ashar, dan dibaca keras dalam shalat Maghrib, Isya dan Subuh”.

Dalilnya adalah “apabila kamu membaca Surah Al-Fatihah, maka bacalah basmalah. Karena sesungguhnya Al-Fatihah adalah Ummul Qur’an, 7 ayat yang berulan-ulang”. (ini adalah dalil yang digunakan oleh  Hambali).
Kemudian dalil yang digunakan oleh Syafi’I adalah : “Dari Ibnu Abbas RA. Ia berkata : Rasulullah membaca basmalah dengan keras”

Syafi’I dan Hambali pendapatnya sama bahwa basmalah itu adalah ayat dari surah Al-Fatihah. Namun,  Syafi’I dan  Hambali berbeda pendapat dalam masalah  membacanya. Pelan (tidak keras) atau dikerasakan. Nah…itu sudah ada dalilnya masing-masing.

Jadi bagaimanami, mengertiji toh  semoga bermanfaat ya.
Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan hadits atau dalil-dalilnya yang lain. Sebagai seorang penulis sederhana,  dari kampungji kodong (Balleangin) ingin berbagi ilmu. Tentunya butuh masukan dan kritikan dari pembaca dan pengunjung blog ini.

Ku tunggu nah… J

Senin, 17 November 2014

Day Of Fun and Exhausting


Hari ahad kemarin adalah hari yang saya anggap Day of Fun and Exhausting (hari yang menyenangkan dan melelahkan) yang mengingatkanku dengan kampung halaman di Balleangin. Tak pernah saya tau sebelumnya dengan rencana Ustadz Alwi (ketua Rumah Qur’an Mulia Jatisari). Sebuah rencana yang tidak pernah didiskusikan oleh para pengurus Rumah Qur’an dan Guru-guru Rumah Qur’an. Tapi semuanya berjalan dengan lancer. Nah.. how the story? Okey,the following story.

Seperti biasa, setiap malam Ahad santri Rumah Qur’an pasti pada demo kepada para Ustdaz-Ustadz Rumah Qur’an untuk mengadakan Mabit (malam Bina Iman dan Taqwa). tapi bukan demo seperti Mahasiswa di gedung DPR ya. Ini namanya demo Islami. Hehe… ok next, ustadz Firman duduk disebelah kiri saya ketika  santri menyetorkan hafalan  masing-masing. “mala ini ada pengumuman penting buat kalian semua” ujar ustadz Firman. para santri seketika itu menghentikan bacaan Al-Qur’annya dan menatap muka Ustadz Firman dengan serius. “Pengumuman apa Kak?” Tanya salah satu santri Rumah Qur’an. “malam ini tidak ada Mabit” kata Ustadz Firman. “yahhhh….kok ngga ada mabit”. Keluh para santri dengan suara yang kompak. Ustadz Firman pun melanjutkan pengumuman malam itu “tapi, besok ada jalan-jalan pagi yang dijamin membuat kalian senang”. Wah….santri sangat senang mendengar pengumuman itu. Dan salah satu santri bertanya “kak, jalan-jalan kemana?”. “itu rahasia kakak”. Jawab Ustadz Firman. “yah…kok gitu”. Keluh para santri yang kedua kalinya. Dan akhirnya Fikri angkat bicara “kak, saya tidak bisa ikut, karena besok saya ada tasmi’ juz 29”. “yaudah gak apa-apa, tapi semuanya diharapkan untuk mengkuti jalan pagi besok, saya jamin ini menyenangkan”. Kata Ustadz Firman. setelah santri menyetorkan hafalannya ke saya, mereka pun bergegas pulang ke rumah masing-masing. Dan malam itu santri menginap di Rumah Qur’an meskipun tidak ada mabit, dan mereka tidur di lantai dua yang didampingi oleh saya sendiri.

Jam terus berputar malam itu, hingga jam dinding menunjukkan pukul 03.30 pagi, dering HP saya terdengar berdering nyaring di dekat kepala saya. Santri saya bangunkan untuk melaksanakan shalat Tahajjud di Masjid Al-Ihsan. Dan menunggu waktu shalat subuh. Setelah shalat subuh, santri saya kumpulkan di teras masjid untuk muroja’ah hafalan juz 30. Namun, 90% dari mereka matanya udah setengah watt semua. Why? Ca’du’duki kasi’na. akhirnya sebelum muroja’ah saya minta mereka duduk sambil membelakangi dan memijit punggung temannya supaya mereka tidak ngantuk. Ya ini pengalaman waktu masih di MJH.

Ketika matahari bersinar cerah, para santri berkumpul di depan rumah Ustadz Alwi untuk mengikuti jalan pagi dan berfoto bareng untuk dijadikan sebagai dokumentasi Rumah Qur’an Jatisari. Dengan semangat 45, para santri pun berjalan menulusuri hutan yang dipimpin oleh saya sendiri, Ustadz Alwi dan Ustadz Firman. ya… itulah jalan-jalan yang dirahasiakan semalam. Setelah beberapa ratus meter menulusuri hutan, hati saya bertanya-tanya “sepertinya hutan ini pernah saya kunjungi, tapi kapan ya?”. Saya terus berjalan dengan penuh tanda tanya.  saya memperhatikan hutan ini dan menatap ke arah sana dan sini. Seketika itu ku temukan sebuah jembatan menyeramkan  yang terbuat dari bambu. Hati saya pun bertanya “sepertinya saya pernah lewat di jembatan ini?” dan saya terus berjalan dengan penuh tanda tanya lagi. Karena penasaran, saya mencoba mengingat kembali akan hutan dan jembatan ini. tapi masih belum ingat juga. Saya terus berjalan, tiba-tiba saya berhenti sejenak ketika melewati sebuah kampung yang sangat amat tepencil (di tengah-tengah hutan). dan akhirnya ku temukan sebuah jawaban. “Ooo….iya ternyata saya pernah menulusuri hutan ini 3 tahun yang lalu bersama MJH Boys dan Mami Dibha”. Ya…ya..hmmmm…kembali teringat masa laluku bersama MJH Boys kodong L. Dengan penuh semangat saya terus berjalan bersama santri. Dan ku temukan sebuah gundukan tanah seperti gunung merapi. Terlihat sangat jauh berbeda 3 tahun yang lalu ketika saya mengunjungi tempat ini bersama MJH Boys. Mengapa demikian? Dimana letak perbedaannya? Dulu, hutan ini datar, tidak ada gundukan tanah seperti yang saya temukan sekarang. Semuanya terlihat rumput-rumput hijau, itu dulu. Lah…sekarang bukan lagi rumput hijau yang terlihat tapi tanah merah yang luas. Santri menyempatkan diri untuk bermain prosotan di gundukan tanah itu seperti gunung merapi. lama kelamaan, mereka terlihat ceria dan sangat gembira. Akhirnya saya putuskan untuk ikut main prosotan juga bersama mereka.  Hehe….


Setelah puas bermain prosotan, Ustadz Alwi memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke sebuah pulau. “ha…pulau? Pulau apaan?”. Hati saya kembali bertanya-tanya. Karena penasaran, saya mengikuti perjalanan di tengah hutan itu. Namun, 1 jam lebih mencari-cari dimana letak pulau itu, tapi tidak ditemukan juga. sampai-sampai masuk ke dalam sebuah perkampungan lagi yang tidak pernah saya temukan. Ku perhatikan sekeliling kampung itu, terlihat anak-anak kecil bermain bola di depan rumah mereka dan jalanan yang rusak parah. Hmmm… sama persis di kampung saya. Setelah beberapa menit memperhatikan kampung itu, perut saya berteriak minta makan. Ihhh…kodong laparka. Saya berjalan lemas saat itu. Dan untungnya juga Ustadz Alwi bisa menebak kalau saya lagi lapar. “Ustadz Risal lapar tuh kayaknya”. Kata Ustadz Alwi. “iya Ustadz udah lapar bangat nih”. Jawab saya dengan suara yang lemas. Akhirnya, Ustadz Alwi mencari sebuah warung di kampun itu. Setelah beberapa lama, terlihat di depan mata saya sekumpulan orang dan sepeda gunung di depan sebuah warung. “Ustadz, itu warungnya Ustadz”. Teriak saya kepada Ustadz Alwi. Karena kelaparan, saya berjalan dengan cepat menuju warung itu. Setelah beberapa meter lagi saya tiba di warung, terdengar sebuah suara yang sering terdengar di telinga saya waktu di kampung “tuk…tuk…tuk…”. Hmm… ternyata suara pohon bambu yang sedang ditebang oleh seorang lelaki tua bertopi warna ungu. Sejenak ku perhatikan lelaki itu. Ia seperti Ayahku, otot-otot tangannya, kumisnya, tinggginya, hitamnya dan pekerjaannya sama persis dengan Ayahku. Tiba-tiba punggungku ditepuk oleh salah satu santri “kak,kok menghayal?”. kaget, iya tu sudah pasti. Setelah ku perhatikan lelaki itu, saya menuju ke warung dan mesan es teh manis. Tapi dikasinya teh hangat karena es teh manisnya sudah direbut duluan oleh santri. Hmm..kesalnya dende. Tapi gak apa-apalah tidak terhitung 10 detik teh hangat itu juga habis ternyata. Saking hausnya diriku kodong. Dan langsung memesan nasi + ayam goreng. “maaf mas, nasi dan ayam gorengnya udah abis”. Kata mbak yang bekerja di warung itu. Adedeh….”terus adanya apa aja mbak?” tanya saya. “adanya mie goreng doang mas sama mie rebus”. Jawab mbak. “yaudah deh mi rebus aja”. Kata saya. Seketika itu mie rebusnya saya langsung santap aja, tidak peduli lagi mau panas kek, pedas kek intinya saya kenyang. Astagfirullahal ‘adzim. Nah… setelah makan saya bergegas pulang dengan Santri karena sudah mengantuk. Sesampainya di rumah, langsung tepar deh saya di depan TV dan ngorok…hmmm…Day Of Fun and Exhausting (hari yang menyenangkan dan melelahkan).



Sabtu, 15 November 2014

Cinta Sejati Untuk Istri ke Empatku


Para pengunjung blog saya yang setia, J sebelumnya saya pernah nge post sebuah cerita yang berjudul “jangan kau fitnah aku menghamilimu”. Kata orang sih ceritanya mesum dan menyedihkan. Tapi bagi saya gak bermasalah akan hal itu. Mau  mesum kek, mau lucu kek, mau menyedihkan kek sampai-sampai menjatuhkan banyak air mata dan butuh handuk good morning untuk memerasnya. Nah…kali ini saya akan berbagi kisah dari Desa yang sama yaitu Desa Somba Palioi. Seperti apa kisahnya??? Mau tau aja atau mau tau bangat?? Atau dua-duanya?? Ok…berikut kisahnya.



Dumma’ adalah seorang lelaki gagah perkasa,ototnya gede dan sangat kuat. Ia adalah adik kedua Ayahku. Dan saya biasa menyapanya Om Dumma’. Om Dumma’ ini adalah salah satu sosok lelaki yang ditakuti oleh Masyarakat di kampung. Karena setiap ada masalah yang ia hadapi,pasti menyelesaikannya dengan cara berantem pake golok. Bener-bener nih orang!! Ini mah bukan menyedihkan ya tapi mesum kuadrat. Eh…bukan mesum kuadrat deh tapi mesum kubik . Nah…Om Dumma’ ini menikah dengan seorang wanita dari tetangga Desa sendiri. Istrinya gak cantik sih, tapi orangnya baik, lemah lembut, baik hati dan tidak sombong deh pokoknya.  Istri Om Dumma’ biasa disapa Tante Mira. Om Dumma’ dan Tante Mira mempunyai  anak sebanyak 7 orang. Setelah beberapa tahun Om Dumma’ dan Tante Mira merawat ke 7 orang anaknya, dan membina keluarganya dengan penuh kasih sayang. Namun akhirnya kebahagiaan mereka terputus dengan sebuah perceraian dengan alasan yang tidak saya ketahui.  Setelah mereka bercerai, ke 7 orang anak-anak mereka hidup dengan  Ibunya sendiri, dan tidak ada satu pun yang memilih untuk hidup dengan Ayahnya. Namun, meski ke 7 anak ini hidup tanpa dinafkahi oleh sang Ayah, mereka tetap bahagia karena mereka hidup dalam dunia kasih sayang seorang Ibu.

Beberapa tahun kemudian, Om Dumma’ menikah lagi denga seorang Wanita dari Tiro. Om Dumma’ menjual kebun warisan dari Sang Ayah. Karena butuh dana untuk menikahi Tante Abo. Setelah beberapa bulan mereka  sah menjadi suami istri, Om Dumma’ dan Tante Abo memutuskan untuk pergi ke Malaysia untuk mencari nafkah. Dan akhirnya suami istri ini pergi ke Malaysia bersama Om Maring dan Om Tahi. Nah… selama Om Dumma’ dan Tante Abo di Malaysia, saya kurang tau tuh bagaimana kehidupan mereka disana. Yang saya  tau adalah mereka baik-baik aja disana. Dan pulang setelah beberapa tahun kemudian dan dikaruniai 3 orang anak. Jadi, berapami kira-kira anaknya Om Dumma’ ke’nang. Eh…sepuluhmi toh. Iye gitte sepuluhmi. Allele….kencang todo di. Nah… setelah Om Dumma’ dan Tante Abo pulang ke kampung, mereka membangun sebuah rumah yang sangat amat sederhana. Yaitu berupa rumah panggung kecil, tidak ada kamarnya akhirnya mereka tidur di depan dapur. Setelah beberapa bulan mereka hidup dengan rumah panggung yang amat sederhana itu, Tante Abo tiba-tiba sakit. Matanya merah, kulitnya menjad dingin dan tidak mampu lagi untuk mengeluarkan kata-kata indah buat suami dan anak-ananya. Entahlah penyakit apa yang dideritanya. Yah..namanya juga kampung kodong, jauh dan sangat susah untuk dibawah ke dokter. Jadi, kalau ada yang sakit, dibiarkan begitu saja. Setelah seminggu Tante Abo sakit, ajalnyanya pun datag menjemputnya. Om Dumma’ saat itu terlihat saaaangat amat sedih, matanya merah dan terlihat Kristal bening di matanya mulai tumpah membasahi ke dua pipinya. Ke 3 anaknya pun menangis histeris, “aaaaaaaaaa…….oooo…..ammaaaaaa….angngura nu pilari I ya..oooo…karaaaeeeeng…. ammakku kodoooong…”. Kata itulah yang berulang kali keluar dari mulut ke 3 anak Tante Ambo disertai dengan kesedihan yang saaaangaaaat mendalam. Mau jugaka ku rasa menangis loh… dan akhirnya ke 3 anak ini menjadi piatu dan hidup bersama sang Ayah.


Setahun setelah Tante Abo meninggal, Om Dumma’ menikah lagi dengan seorang wanita cantik dan sangat mahir membaca Al-Qur’an. Siapakah dia? Do you know or no? ok…dia adalah guru ngaji saya. Wihhhh hebat bener ya. Om Dumma’ menjual lagi kebunnya untuk menikahi Guru ngaji saya yang biasa disapa Puang Sia. Semenjak Om Dumma’ menikahi Puang Sia, ia terlihat semakin bahagia terus memuji istrinya yang cantik itu. Dan ke 3 anak Om Dumma’ hidup bersama dengan Puang Sia dan menjadilah mereka anak tiri. Namun, kebahagiaan Om Dumma’ menjadi penderitaan ke 3 anaknya. Mengapa demikian? Ke 3 anak ini diperlakukan oleh Ibu tirinya (Puang Sia) seperti pembantu. Tidak boleh makan sebelum mereka  kerja, mencangkul di kebun, mencari kayu bakar dari hutan, mengambil air disumur yang jauhnya 2 km dari rumah. Belum lagi disuruh menyapu di rumah plus mengepel dan menyapu halaman rumah sampai bersih. Setelah pekerjaan selesai, barulah ke 3 anak ini makan. Tapi, makannya sediktji kodong. Dikasinya satu sendok nasi doang dan 5 ekor ikan teri. Hampir setiap hari ke 3 anak ini makan seperti itu menunya. Iiii….kodong. Nah… setahun setelah Puang Sia menjadi istri bagi Om Dumma’ ia melahirkan seorang anak laki-laki dan diberi nama Fikri Haikal. Anak ini saaaangat dimanjakan oleh Puang Sia. Minta dibelikan apa aja pasti dipenuhi. Dan ke 3 anak Om Dumma’ dilantarkan begitu saja tanpa perhatian penuh dari Om Dumma’. Akhirnya ke 3 anak ini hidup terpisah dan tidak hidup bersama lagi. Anak  pertama ke Malaysia, anak kedua dirawat oleh neneknya di Kajang dan anak terakhir dirawat oleh seorang wanita tua yang tidak kenalnya. Setelah umur Fikri menginjak diusia 4 tahun, sebuah takdir Allah datang secara tiba-tiba. Fikri terbakar oleh api dan dilarikan ke rumah sakit Umum Kabupaten Bulukumba. Lima bulan lamanya Fikri dalam keadaan koma dirumah sakit. Membuat Puang Sia bersedih teramat amat sangat. Sampai-sampai matanya membengkak menangisi anaknya yang koma selama 5 bulan di rumah sakit.  Namun, hal yang aneh terjadi pada Om Dumma’. Sudah tau bahwa anaknya lagi koma dan istrinya saaaangat sedih. Eh….malah Om Dumma’ ini selingkuh dengan wanita lain alias perawan tua diatas penderitaan anaknya. Na’udzu bllahi min dzalika. Lanjut cerita, setelah Fikri koma selama 5 bulan, ajalnya pun datang menjemputnya dimalam hari yang diiringi dengan derasnya hujan. Setelah Fikri meninggal dan Om Dumma’  hidup berdua dengan Puang Sia lagi, Om Dumma’ mulai bosan dan bertingkah aneh kepada Puang Sia dikarenakan Om Dumma’ sudah punya wanita simpanan lagi.

 Dan akhirnya Om Dumma’ pergi meninggalkan Puang Sia dan menikahi wanita selingkuhannya itu dan ia menjual kebun satu-satunya. Semenjak Om Dumma’ punya istri yang baru alias istri ke empat, ia tidak pernah lagi menemui Puang Sia. Dan Om Dumma’ ini saaangat bahagia dengan istri ke empatnya. Ia menganggap bahwa istri ke empatnya adalah istri yang menyimpan sebuah cinta sejati. Bagaimana tidak Om Dumma’ sangat dimanjakan oleh Istri ke empatnya ini. dipijitin, dielus-elus pokoknya bermacam-macam deh. Namun, setelah berapa bulan Om Dumma’ hidup bahagia dengan Istri ke empatnya, ia terkena penyakit yang membuatnya tidak bisa bangun dari tempat tidur, kencing dan beol di tempat tidur. Tapi, sang Istri ke empat tetap merawatnya dengan penuh kasih sayang. tawwa..namanya juga cinta sejati. Dan istri ke empat ini melahirkan. Tapi sayang sejuta sayang anaknya tidak selamat alias meninggal dunia dan tidak sempat menikmati panahnya hidup di dunia. Dan Om Dumma’ sampai saat ini masih terbaring sakit dan bertambah parah, ada sebuah benjolan-benjolan di pinggangnya mengeluarkan darah bercampur nanah. Na’udzu billahi min ndzalika. Mungkin ini adalah sebuah hukuman di dunia baginya karena telah melantarkan anak-anaknya dan tidak bertanggung jawab atas istri-sitri sebelumnya. Wallahu wa’lam. Semoga kita semua nantinya menjadi seorang suami yang bertanggung jawab bagi istri-istri serta anak-anak kita nanti (bagi yang laki-laki). Aminnn…. 

Rabu, 12 November 2014

Jangan Kau Fitnah Aku Menghamilimu


Disebuah Desa pelosok di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, Desa yang terkenal dengan sebutan Desa Somba Palioi. Kok Somba Palioi? Iya,, di Desa tersebut terdapat sungai besar namanya sungai Palioi. Terus kata somba itu dari mana? Somba itu artinya menyembah. Zaman dahulu di Desa Somba Palioi, ketika ada Masyarakat yang sakit parah, mereka mengambil air di sungai Palioi untuk dijadikan sebagai obat dicampur dengan tanah disekitar sungai tersebut. Dan masyarakat percaya karena banyak yang terbukti, banyak orang yang sembuh dengan   air dari sungai Palioi itu. Sehingga diberilah nama Desa Somba Palioi. Tapi, saat ini adat itu sudah hilang karena  berkembanganya agama Isam di Desa tersebut dan sangat banyak Jam’ah Tabligh di Desa tersebut.

Nah… yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kehidupan Masyarakat di Desa tersebut untuk saat ini hkhususnya dikalangan remaja? Saya katakan kasihan kuadrat deh bagi para remaja di Desa tersebut. Why? Karena 95% para remaja Desa Somba Palioi menikah diusia yang sangat-sangat muda. Ada yang masih duduk dibangku kelas 2 SMP, kelas 3 SMP. Dan bahkan ada yang menikah loh masih duduk di kelas 5 SD. Apa lagi kalau anak SMA,  Hmmm..habismi sedikit sekalimi kodong yang masih bujangan sampai saat ini. bahkan ada yang sudah menjanda 2 kali loh. Duhhh..parah..siapakah yang menjanda 2 kali itu? Umurnya berapa tahun? Namanya siapa?  Okey…saya jawab ya. Dia adalah sepupu saya sendiri umurnya 21 tahun. Namanya hmm..kita sebut aja Betty ya (nama samaran). Preeetttt,,,,, mengagetkan sekali tak? Pake bangat mengagetkannnya. Bagaimana kisahnya?



Awalnya si Betty ini suka sama sepupunya sendiri. Ia sering menulis surat cinta dan manaruhnya di ranjang sepupunya tersebut. Kata-kata yang paaaling sering ia tulis adalah “Buat kakak Olleng yang tersayang”. Cieeee….haha..tau ngga siapa kak Olleng itu? Kak Olleng adalah kakak sulung saya (kakak kandung). Setelah Kak Olleng pulang dari Malaysia selama 12 tahun dan tidak pernah ada kabar dan hanya membawa uang Rp. 3.000, si Betty jatuh cinta padanya. Saking cintanya kepada Kak Olleng, Betty selalu mencari perhatian. Dandangannya wihhh luar biasa. Beda 180 derajat dari biasanya. Ia menggunakan bedak diamond supaya wajahnya kelihatan cerah dan bersinar seperti mutiara. Setiap kak Olleng duduk disebuah kursi, Betty selalu saja duduk dipangkuan Kak Olleng membuat orang-orang terheran-heran melihatnya. Atau ngga Betty mengelus-ngelus tangan Kak Olleng sambil bercerita panjang lebar ngga jelas. Tapi kak Olleng ini membiarkan Betty bertingkah aneh seperti itu kepadanya. Meski ia tau bahwa Betty jatuh cinta kepadanya. Beberapa minggu kemudian, dengan tingkah Betty yang selalu duduk di pangkuan Kak Olleng, ia mulai berani tidur di kamar Kak Olleng. Si Betty masuk ke kamar Kak Olleng hampir setiap malam. Bahkan ia pernah tidur didekat Kak Olleng tanpa Kak Olleng sadari. Tapi tidak tejadi apa-apa loh, soalnya kakak saya tuh tau diri juga kali. Si Bettynya doang nih yang cakkidi-kidi sekali adedeh…calleda sekali kasi’na. akhirnya 1 bulan kemudian setelah Betty tidur di dekat Kak Olleng, ia bercerita kepada Ibunya dan Om Tahi bahwa ia hamil karena Kak Olleng. Oh…my god betapa jahatnya si Betty cakkidi-kidi. Ia bercerita panjang lebar dengan kejadian yang pernah ia alami bersama kak Olleng di kamar. Tapi semua itu hanyalah omongan kosong, Betty beralasan hamil karena ia ingin Kak Olleng menjadi bagian dalam hidupnya. Pada hal saat itu umur Betty masih 17 tahun, saya masih duduk di kelas 2 SMP saat itu. Setelah Ibu Betty mengetahui kejadian itu, ia mulai menyebarka luaskan fitnah ini di kampungku. Memang Ibunya Betty sudah lama ingin menghancurkan keluargaku karena iri dengan penghasilan cengkeh yang didapat oleh Ayahku yang lebih besar dari Ibu Betty. Om Tahi pun demikian sehati dengan Ibunya Betty punya niat jahat. Licik sekaaaliiiii…. Setelah fitnah itu tersebar luas di kampung, Ibu Betty dan Om Tahi datang ke rumahku meminta Kak Olleng untuk bertanggung jawab atas kejadian ini (menikahi Betty). Kak Olleng saat itu maaaraaah besar, mukanya merah, urat-urat dipergelangan tangannya mulai terlihat seperti akar-akar pohon, ia berdiri sambil berteriak “woyyy Betty tailaso,, angngura nu pakunjoa, nu tudua ampakatianangko!!”. Ibuku saat itu hanya terdiam membisu dan menjatuhkan butiran-butiran air matanya. Ia bingung, mengapa keluarganya sendiri memfitnahnya seperti ini. Ayahku pun demikian ia terdiam membisu tanpa ada sepatah kata yang mampu ia keluarkan dari mulutnya. Cuma ada kak Nurmi yang berani ngomong saat itu. Pokoknya kak Nurmi ini mencaci maki si Betty saking kesalnya dan saking bencinya karena sepupunya sendiri memfitnah Kak Olleng menghamilinya.

Kak Olleng tidak mau menikahi si Betty karena ia tau bahwa semua ini hanyalah fitnah. Akhirnya kedua orang tuaku dituntut untuk membayar 7 juta “dipassala 7 juta (bahasa kampung)”. Ibuku menjatuhkan butiran-butiran air matanya karena ia bingung  bagaimana caranya ia bisa mendapatkan uang sebesar itu. Pada hal mata pencahariannya setiap hari adalah membuat gula merah yang terbuat dari air pohon aren. Akhirnya dengan suara yang bergetar, Ayahku angkat bicara “baiklah kalau memang Olleng tidak mau menikahi Betty dan saya harus membayar 7 juta, kebun cengkeh saya gadaikan 7 juta”. Ibu Betty dan Om Tahi tersenyum bahagia dengan keputusan Ayahku. Karena satu-satunya mata pencaharian terbesarnya dari cengkeh ia gadaikan selama 2 tahun. Akhirnya orang Ibu Betty dan Om Tahi setuju.  Akhirnya digadaikanlah kebun cengkeh Ayahku saat itu sebesar 7 juta dan tetap semangat menjalani hidup dan membiayai sekolahku di Pesantern saat itu. Saat itu, saya tidak pernah berhenti berdo’a supaya kedua orang tua saya diberi kesabaran dalam menghadapi cobaan ini.


Dua bulan setelah kejadian itu, Betty dilamar oleh seorang laki-laki di Desa Somba Palioi. Tapi hubungan suami istri ini tidak berlangsung lama, hanya bertahan dua bulan. Karena sang suami jijik dengan Betty. Kenapa jijik? Duh maaf ya ngga bisa saya ceritakan karena tidak pantas bela. Akhirnya Betty menjanda diusia 17 tahun. Dua bulan setelah sang suami pergi meninggalkan Betty, ia kembali lagi ke Betty dan menikah lagi  dengan Betty. Namun sayang, kedua kalinya ini tidak berlangsung lama juga. Mereka berdua hanya bertahan 2 minggu. dan  akhirnya si Betty menjanda lagi kodong. Bertahun-tahun Betty menjanda dua kali. Karena Betty mungkin bosan dengan hidup menjanda, ia kawin lari dengan seorang duda dengan 7 orang anak. Walah....Betty niat aja  ya kawin lari dengan lelaki duda yang punya 7 orang anak. Dan saat ini Betty dan suami beserta ke 7 anaknya ada di Malaysia dan tidak pernah ada kabar sampai saat ini. sementara Kak Olleng sudah menikah dengan seorang perempuan dari Je’na Ponto dan dikaruniai seorang anak. Dan kedua orang tuaku saat ini Alhamdulillah tidak pernah lagi terkena fitnah. Semoga Allah selalu melindungi mereka. Aminnnn…..

Senin, 10 November 2014

Bukan Wanita Biasa


Siapakah yang tidak mengenal sosok wanita hebat, pekerja keras, penyayang dan cerdas yang bernama lengkap Farahdibha Tenrilemba yang biasa disapa Mami Dibha oleh puluhan anak remajanya dan anak kandungnya.  Ketinggalan zaman deh kalau tidak mengenal wanita yang satu ini yang mempunyai puluhan anak  remaja laki-laki yang merantau di Ibu Kota  Jakarta.


Saya pribadi mengenal Mami Dibha 3 tahun yang lalu di gedung Grahapena di Kota Makassar ketika pelepasan penerima beasiswa pendidikan bagi anak-anak berprestasi di Sulawesi Selatan. Awal saya melihat Mami Dibha, saya terkagum-kagum karena baru kali ini saya melihat seorang  perempuan yang luar biasa hebat bagi saya. Kenapa? Selama 10 tahun lebih saya tinggal di kampung, belum pernah saya melihat wanita rapih seperti Mami Dibha. Kelihatan deh pokoknya bahwa Mami Dibha itu adalah seorang wanita yang hebat dan pekerja keras. Ngomongnya lembut, sopan, kata-katanya tersusun rapih, pokoknya gimana gitu susah ya sampaikan melalui kata-kata.
Okey,,, singkat cerita, selama 3 tahun saya tinggal di Yayasan Muslim Jabal Haq yang dipimpin oleh Mami Dibha, banyak hal yang saya dapatkan dari beliau. Yang paling the first adalah masalah kedisplinan diri. Kemudian yang kedua adalah keberanian. Berani mengambil keputusan, ikut berorganisasi di sekolah, mengikutkan diri setiap ada peluang, baik itu lomba ekskul, olimpiade, dan beasiswa untuk kuliah. Beda rasanya ketika saya masih di kampung sebelum mengenal Mami Dibha. Waktu tidak disiplin, penakut dan paling parah adalah tidak punya mimpi atau tujuan hidup. Aduh…kasian deh. L Tapi bersyukur bangat karena Allah mepertemukan saya dengan Mami Dibha sehingga saya bisa bermimpi setinggi langit yang disertai dengan kerja keras. 
Bagi saya pribadi, saya terheran-heran dengan kesibukan Mami Dibha. Beliau  hanya punya waktu 24 jam, tapi beliau ini bisa menyelesaikan semua urusan-urusannya dengan baik.  Memimpin yayasan MJH, usaha es pisang ijo raja, AIMI, kuliah, belum lagi kalau ada panggilan ke luar Negeri berpresentasi tentang AIMI di Amerika, India, Taiwan, Korea Selatan, Brunei,China, Chiangmai dan masih banyak lagi deh pokoknya. Duh… hebat bener ya. Kapan ya saya bisa keliling dunia juga seperti Mami Dibha? Bermanfaat bangat deh bagi orang lain.
Sebenarnya masih banyak sekali pengalaman bersama Mami Dibha selama 3 tahun, tapi karena saking hebatnya sehingga saya belum bisa menyusun kata-kata  tentang beliau ini. Hanya ada beberapa bait puisi nih buat Mami Dibha. Semoga bermanfaat ya.

“Masih teringat dalam benakku akan segala hal yang pernah engkau berikan kepadaku
Bimbinganmu selama ini tak pernah membuatmu lelah
Kau kerahkan semuanya demi anak asuhmu dalam perantauan
Karena dengan motivasimulah,
Anak-anak pelosok Sulawesi Selatan masih tetap bertahan hingga saat ini
Dalam perantauan di Negeri orang
Meski cobaan menerpa datang setiap waktu  tiada hentinya
Bagaikan terpaan gelombang air laut
Anak-anakmu kini terjung dalam dunia perkuliahan dan pekerjaan
Membutuhkan do’a restumu selalu
Untuk mencapai mimpi-mimpi mereka
Engkau  bagaikan ibu kandung bagi mereka juga sebagai sahabat setia bagi mereka
Segala pengorbanmu akan tergantikan ketika anak-anakmu berhasil meraih mimpi-mimpi mereka.
Air matamu bagaikan mutiara yang bersinar, menerangi mimpi disaat gelap
Engkau bukan wanita biasa bagi kami,
Engkau adalah wanita hebat dan pekerja keras
Salam hangat dari anak-anakmu yang kini sedang berjuang
Semoga Allah selalu melindungi dan meridhoimu
Good lauck for Mami Dibha J

Cuma iniji kodong yang bisa ku tulis untuk Mami Dibha. Sehatki terus nah Mam, ki do’akan semua anak-anakta semua semoga berhasil semuaji kodong. Minta maafka juga kodong kalau selama ini banyak sekali kesalahan ku.

Salam hangat dari kami semua alumni MJH Boys for Mami Dibha.



Murka Allah bagi siapa pun yang punya niat jahat terhadap Rumah Allah


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصۡحَٰبِ ٱلۡفِيلِ ١ أَلَمۡ يَجۡعَلۡ
كَيۡدَهُمۡ فِي تَضۡلِيلٖ ٢ وَأَرۡسَلَ عَلَيۡهِمۡ طَيۡرًا أَبَابِيلَ ٣
تَرۡمِيهِم بِحِجَارَةٖ مِّن سِجِّيلٖ ٤ فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٖ مَّأۡكُولِۢ ٥
Artinya:
“(1).  Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?, (2). Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?, (3). Dan Dia mengirimkan kepada mereka Burung yang berbondong-bondong, (4). Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, (5). Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat”.

  Informasi Seputar Surah
Surah ini terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Kaafirun. Nama Al Fiil diambil dari kata Al Fiil yang terdapat pada ayat pertama surat ini, artinya gajah. Surat Al Fiil mengemukakan cerita pasukan bergajah dari Yaman yang dipimpin oleh Abrahah yang ingin meruntuhkan Ka'bah di Mekah. Peristiwa ini terjadi pada tahun Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan.
      Kandungan Utama Surah Al-Fil
·         Cerita tentang pasukan bergajah yang diazab oleh Allah s.w.t. dengan mengirimkan sejenis burung yang menyerang mereka sampai binasa. 
·         Surat Al Fiil ini menjelaskan tentang kegagalan pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah, karena Ka'bah dipelihara oleh Allah s.w.t. 


     Tafsir Global Qs. Al-Fil
Kisah Pasukan Gajah yang Ingin Menyerang Ka’bah
Kisah di atas menjelaskan tentang ashabul fiil (pasukan gajah) yang ingin menghancurkan rumah Allah (Ka’bah). Mereka sudah mempersiapkan diri untuk menghancurkan Ka’bah tersebut. Mereka pun mempersiapkan gajah untuk menghancurkannya. Tatkala mereka datang mendekati Makkah, orang-orang Arab tidak punya persiapan apa-apa untuk menghadang mereka. Penduduk Makkah malah takut keluar, takut dari serangan ashabul fiil tersebut. Lantas Allah menurunkan burung yang terpencar-pencar, artinya datang kelompok demi kelompok. Itulah yang dimaksud “thoiron ababil” sebagaimana kata Ibnu Taimiyah. Burung-burung tersebut membawa batu untuk mempertahankan Ka’bah. Batu itu berasal dari lumpur (thin) yang dibentuk jadi batu, seperti tafsiran Ibnu ‘Abbas. Ada juga yang menafsirkan bahwa batu tersebut adalah batu yang dibakar (matbukh). juga yang menafsirkan bahwa batu tersebut adalah batu yang dibakar (matbukh). Batu tersebut digunakan untuk melempar pasukan gajah tersebut. Lantas mereka hancur seperti daun-daun yang dimakan dan diinjak-injak oleh hewan. Allah memberi pertolongan dari kejahatan pasukan gajah tersebut. Tipu daya mereka pun akhirnya sirna.
Dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah, “Kisah ini adalah dari kisah raja Abrahah yang membangun kanisah (gereja) di negeri Yaman. Ia ingin agar haji yang ada di Arab dipindahkan ke sana. Abrahah ini adalah raja dari negeri Habasyah (berpenduduk Nashrani kala itu) yang telah menguasai Yaman. Kala itu diceritakan ada orang Arab yang menjelek-jelekkan kanisah (gereja) orang Nashrani sehingga membuat raja Abrahah marah. Lalu ia pun berniat menghancurkan Ka’bah.” (Lihat Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 27: 355-356).
Kisah ini mengingatkan orang Quraisy akan pertolongan Allah yang telah menghancurkan pasukan gajah dan juga menunjukkan bagaimana Allah mengatur makhluk dan membinasakan musuh-musuh-Nya.

Tahun Kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Pada tahun penyerangan gajah tersebut, lahirlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kisah itu adalah titik awal yang menunjukkan akan datangnya risalah beliau atau itulah tanda kenabian beliau. Falillahil hamdu wasy syukru.
Ada hadits yang menunjukkan bahwa Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dilahirkan pada tahun gajar yaitu hadits dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,
ولد النبي صلى الله عليه و سلم عام الفيل
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun gajah.” (HR. Ath Thohawi dalam Musykilul Atsar no. 5211, Ath Thobroni dalam Al Kabir no. 12432, Al Hakim dalam mustadroknya no. 4180. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, tetapi keduanya tidak mengeluarkannya. Adz Dzahabi mengatakan bahwa hadits ini sesuai syarat Muslim. Juga dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah no. 5 dari jalur Ibnu ‘Abbas. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah pada hadits no. 3152).
Bahkan ada ijma’ atau kesepakatan para ulama yang mendukung bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dilahirkan pada tahun gajah seperti dikatakan oleh Ibnul Mundzir, di mana ia berkata, “Tidak ragu lagi dari seorang ulama kita bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun gajah. Lalu beliau diangkat jadi Rasul setelah 40 tahun dari tahun gajah.” Lihat As Silsilah Ash Shahihah pada hadits no. 3152, 7: 434.
Ketika penyerangan Makkah tersebut, di sana ada orang-orang musyrik yang beribadah pada berhala. Dan agama Nashrani lebih baik daripada agama orang musyrik. Kisah ini menunjukkan bahwa perlindungan Allah pada Ka’bah bukan karena adanya orang-orang musyrik yang ada di sekeliling Ka’bah, namun karena untuk melindungi Ka’bah itu sendiri, atau dikarenakan pada tahun gajah tersebut akan lahir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah, atau karena alasan dua-duanya sehingga Ka’bah dilindungi oleh Allah. Ini penjelasan Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al Jawabush Shohih, 6: 55-57 dinukil dari Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
      Penafsiran Tahlili Qs. Al-Fiil
Hammad Bin Salamah meriwayatkan dari ‘Amir, dari Zurr, dari ‘Abdullah dan Abu Salamah bin ‘Abdirrahman (طَيۡرًا أَبَابِيلَ) dia mengatakan : “Yaitu beberapa kawanan burung.” Ibnu ‘Abbas dan adh-Dhahhak mengatakan : “Ababil berarti sebagian mengikuti sebagian lainnya”. Al-Hasan Al-Bashri dan Qatadah mengemukakan : “Ababil berarti yang sangat banyak. “Mujahid mengatakan :” Ababil berarti sekumpulan yang saling mengikuti dan berkumpul. “sedangkan Ibnu Zaid mengatakan : “Al-Ababil berarti yang berbeda-beda, yang datang dari semua penjuru.” Al-Kisa-i menyebutkan:” Aku pernah mendengar beberapa orang ahli nahwu mengatakan :”Bentuk tunggal dari kata أَبَابِيلَ adalah ابيل.
            Firman Allah SWT (فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٖ مَّأۡكُولِۢ) “Lalu Dia menjadikan mereka daun-daun yang dimakan.” Sa’id Bin Jubair mengatakan: “Yakni, jerami yang kaum awam menyebutnya dengan habur.” Dan dalam sebuah riwayat dari Sa’id, yaitu daun gandum. Dan dari Ibnu ‘Abbas العصف berarti kulit yang di atas biji, semacam penutup pada biji gandum. Ibnu Za’id mengatakan :” العصفberarti daun tanaman atau daun kol jika dimakan oleh binatang, lalu dikotori sehingga menjadi kotoran. “Artinya, bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala membinasakan, melenyapkan, dan mengembalikan mereka dengan tipu muslihat dan kemarahan mereka. Dan mereka tidak mendapatkan kebaikan sama sekali. Mereka dibinasakan secara keseluruhan dan tidak ada seorang pun dari mereka yang kembali memberitahu melainkan dalam keadaan terluka, sebagaimana yang dialami oleh Raja mereka, Abraha. Diantara yang menggambarkan hal tersebut adalah sya’ir Abdullah bin Az-Zab’ari berikut ini:
Mereka mundur (menyingkir) dari tengah kota Mekkah, sungguh kesucian kota Mekah tidak dapat diusik.
Pada malam-malam yang dijaga tersebut bintang As-Syi’ra tidak muncul karena tidak seorang manusia pun mampu menjamahnya.
Tanyalah komandan pasukan, apa yang dia lihat tentangnya, maka orang yang tahu akan mengabarkan kepada yang tidak tahu.
Enam puluh ribu prajurit tidak kembali ke Negerinya, bahkan Prajurit yang kembali dalam keadaan sakit akhirnya meninggal dunia.
Kaum ‘Aad dan Jurhum pernah datang sebelum mereka, namun Allah dari atas hamba-hamba-Nya selalu menjaganya.

Dan kami telah sampaikan pada penafsiran surat Al-Fath, bahwasanya Rasulullah SAW, ketika beliau menuruni lembah pada saat peristiwa Hudaibiyah, tiba-tiba unta beliau menderum. Kemudian mereka menghardiknya, tetapi unta itu tetap duduk menderum. Kemudian mereka berkata: “Al-Qushwa’ duduk menderum”. Maka Rasulullah SAW bersabda:” Al-Qushwa’ tidak menderum dan itu bukan sifatnya. Tetapi ia telah dihalangi oleh apa yang menghalangi gajah.”- kemudian beliau bersabda “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, pada hari ini tidaklah mereka menuntut dariku, yang padanya mereka mengagungkan apa-apa yang ada disisi Allah melainkan aku akan mengabulkannya”.

Kemudian beliau menghardik unta tersebut, maka unta itu pun akhirnya mau berdiri. Hadits tersebut termasuk hadits yang hanya diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Dan dalam Kitab Ash-Shashihain disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda pada hari Fat-hu Makkah :”sesungguhnya Allah menahan pasukan Gajah dari memasuki Kota Mekah. Dan Dia menguasakan Kota Mekah kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya kehormatannya kemarin. Ingatlah, hendaklah orang yang hadir memberitahu orang yang tidak hadir”.

    Kesimpulan
·         kekuatan nyata tidak dapat diukur dengan cara biasa. Penghancuran bala tentara yang telah dikirim untuk menghancurkan Ka'bah bukanlah suatu kekuatan gaib tapi, ma-lah, merupakan fenomena alamiah yang mengumandangkan kelahiran Nabi—menunjukkan pancaran Sinar yang agung di tengah kegelapan.
·         Ababil berarti 'kawanan'. la tidak mesti hanya menunjuk kepada kawanan burung, tapi juga kepada jumlah besar yang membanjiri.

·         Akibat serangan itu adalah bahwa bala tentara yang jumlahnya banyak sekali ini menjadi bagaikan tunggul jerami padi atau rerumputan yang tersisa setelah dipangkas. Pada sebagian penjelasan dikatakan bahwa setelah penghancuran ini, tanah terlihat bagaikan alas datar yang terbuat dari ribuan tentara musuh dan gajah-gajah mereka tergeletak di atasnya.

Senin, 03 November 2014

Malam Minggu dengan Al-Qur'an


Para pembaca yang insyaallah dirahmati oleh Allah SWT. Beberapa minggu yang lalu, saya pernah ngepost cerita yang berjudul “ Malam Bina Iman dan Taqwa”. Nah.. cerita kali ini tidak jauh beda dengan cerita tersebut. Tapi ada beberapa peristiwa yang unik dalam cerita ini. ada yang tau? Nah.. berikut ini jawabannya.
Tepat pada tanggal 1 November 2014 yang kebetulan hari  itu jatuh pada hari sabtu alias malam minggu. kalau kita perhatikan zaman modern seperti sekarang ini, malam minggu itu adalah malam yang begitu indah bagi para remaja yang punya pasangan yang belum sah. Mereka menghabiskan malam minggunya dan membuang-buang waktu yang sangat mahal yang mendekatkan dirinya kepada perbuatan zina. Na’dzubillahi min dzalik. Tapi, beda dengan malam minggu kami di yayasan Rumah Qur’an Mulia. Malam minggu bukan hanya malam yang indah bagi santri Rumah Qur’an melainkan juga menenangkan hati. Kok bisa tenang? Itulah malam minggu bersama Al-Qur’an. Seperti apa sih malam minggu bersama Al-Qur’an? Nah.. kalau malam minggu bersama Al-Qur’an di Yayasan Rumah Qur’an Mulia, yang dilakukan tentunya adalah menghafal dan muroja’ah hafalan serta mempelajari makna dari surah-surah yang sudah dihafalkan. Nah… malam minggu kemarin saya sendiri yang memimpin santri. Yang biasanya dipimpin oleh Ustadz Firman dan saya. Tapi kali ini my selfji kodong. Tapi tidak apa-apaji toh. Malam itu dimulai dengan setoran hafalan. Tapi Cuma ada beberapa orang yang hadir, karena  santri yang duduk dibangku SMP mengikuti rapat organisasi pemuda pemudi masjid Al-Ihsan (OPPINI).  Meskipun sedikit yang hadir untuk menyetorkan hafalan, saya tetap semangat dan tetap terlihat tersenyum di hadapan mereka. Agar mereka ikutan semangat juga. Tidak lama kemudian adzan Isya dikumandangkan disekitar rumah Qur’an. Para santri mengerjakan shalat Isya berjama’ah di Rumah Qur’an dan diimami oleh saya sendiri. Dan setelah shalat saya sampaikan kepada mereka kegiatan ba’da Isya sampai esok hari dihari minggu yang insyaallah dirahmati Allah. Kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing untuk persiapan mengikuti malam bersama Al-Qur’an.
30 menit berlalu saya menunggu di Rumah Qur’an mempersiapkan segalanya. Namun, para santri belum muncul-muncul juga. Akhirnya perut ini mulai berteriak minta makan. Hufftt…okeylah saya isi dulu perut ini. Nah.. ketika saya sedang makan, Ikhsan datang diantar oleh Ayahnya. Kemudian disusul oleh Faiz. Nah…Faiz ini diantar oleh Ayahnya juga. Yang unik pada Faiz adalah ia membawa satu kardus mie sedaap, teh, telur dan gula pasir. Senang sekali saya atas kedatangan Faiz. Faiz dan Ikhsan duduk  di tempat biasa mereka menyetorkan hafalan. Mereka kelihatan bosan karena Cuma berdua, akhirnya saya mengajak mereka berdua nonton video lucu di laptop. Seketika itu santri yang lain mulai berdatangan. Ada Rizky, Edwin, Rafly, Fathan dan Nabil. Namun, kedatangan mereka membuat saya mengantuk karena sudah larut malam alias jam 10 malam. Akhirnya saya minta mereka untuk tidur segera agar shalat tahajjudnya tidak molor. Akhirnya mereka tertidur di satu tempat begitu pun dengan saya. Wah… ada yang lucu tuh ketika mereka tidur? Apa ya kira-kira?. Ikhsan ngorok suaranya gede bangat lagi. Terus si Rizky mimpi belajar perkalian sampai jutaan. Hedehh…

Sebelum tidur semuanya memang sudah diniatkan untuk melaksanakan shalat tahajjud bareng alias berjama’ah. Tapi ternyata, shalat tahajjudnya molor gara-gara pada nyenyak semua tidurnya. Bangun-bangun ketika adzan subuh. Aduh…payah bener ini. akhirnya para santri berlomba-lomba menuju masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjama’ah. Setelah shalat subuh berjama’ah santri saya kumpulkan di teras masjid untuk dzkir bersama dan muroja’ah hafalan sampai pukul 05.30 pagi. Setelah itu, mereka pulang ke rumah masing-masing untuk mengikuti kegiatan selanjutnya. Apa ya kegiatan selanjutnya setelah molor shalat tahajjudnya? Hihi.. okey, kegiatan selanjutnya adalah jalan pagi dan futsal bareng di grand futsal depan pondok indah Jatisari. Tapi bayarnya patungan setiap orang 10 ribu. Tapi sayang, gurunya sendiri gak bayar, lupa soalnya. Hihi…tapi santri ikhlaskan untuk gurunya J. Akhirnya mereka futsal bareng dengan riang gembira dan dilanjutkan sarapan pagi nasi uduk di saung grand futsal. Kemudian back to Qur’an house dan nonton bareng RIO 2. Alhamdulillah acara malam minggu bersama Al-Qur’an berjalan lancar meskipun shalat tahajjudnya molor. Hehe….